
Ceklek!
Pintu terbuka mengagetkan seorang gadis yang tengah maskeran didepan meja riasnya. Sontak Ia menoleh melihat siapa yang nyelonong masuk begitu saja kedalam kamarnya. Hingga alisnya naik melihat siapa yang tengah berjalan kearahnya.
"Apa?" Tanya Sena dengan bibir yang sedikit kaku karena masker yang hampir mengering.
Abi yang menghampiri, menyenderkan tubuhnya dimeja rias itu dengan memasukan sebelah tangan disakunya. Sebelahnyaa lagi membawa buku yang Ia angkat ke atas.
"Nih!" Ucapnya.
Lalu Ia menyimpan buku itu ke atas meja rias, tepat didepan sang gadis. Sena membelakak melihat buku novel yang sudah lama Ia cari berada didepan matanya. Ia ambil tissue dan membersihkan tangannya. Dengan cepat Ia raih buku itu dan hendak menjerit kegirangan, namun Ia baru menyadari kala wajahnya yang kian kaku.Tak ingin membuat wajahnya retak-retak. Ia hanya pasrah dan menjerit dalam hati.
"hapat ini dali mana?" Tanya Sena sedikit kurang jelas terdengar.
"Dari perpus." Balas Abi dan sukses membuat mata sang gadis membola.
Pasalnya Ia sudah mencari buku legend itu hampir keseluruh toko buku yang Ia tau namun hasilnya nihil. Dan sekarang dengan mudahnya pemuda disampingnya itu mendapatkan buku tersebut. Benar, dengan tak sadar Ia melupakan perpus sekolahnya untuk mencarinya.
"Thanks!" Hanya kata itu yang bisa Ia ucapkan dengan memeluk buku ditangannya.
Abi menarik satu sudut bibirnya, melihat kebahagiaan yang terlihat jelas dimata gadisnya. Ia mencondongkan diri kearah sang gadis hingga mengikis jarak antara wajah keduanya.
"Cuma gitu doang?" Tanyanya.
Sena sedikit menjauhkan wajahnya, merasa sedikit shok dengan tingkah keponakannya itu. "Terus?" Tanyanya.
Seandainya Ia tak mengkhawatirkan wajahnya itu, sudah dipastikan Ia akan nyerocos kehadapan pemuda didepannya. Jawaban singkat memang bukanlah fashionnya.
"Menurutmu?"
Deg!
Kata kamu yang terucap dari bibir manusia dingin itu terasa asing diindera pendengaran Sena. "Kamu?" Cicitnya.
"Kenapa?" Tanya Abi dengan ekspresi yang sama. "Pada aka bisa, kenapa nggak untukku?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ya, ya gak papa." Balas Sena gugup kala hembusan napas Abi, menerpa telinganya.
Abi kembali menarik satu sudut bibirnya. Hingga suara dering ponsel memgalihkan atensi mereka. Sena segera mengambi layar pipih miliknya dan segera mengangkat panggilan video yang ternyata dari sang kakak.
Sejujurnya Ia masih kesal pada kakaknya itu, namun untuk mengalihkan perhatian dari sepupunya yang mendadak aneh itu. Ia pun terpaksa mengangkatnya.
"Ya, kak?" Sapa Sena sedikit tak jelas.
"Hai de?!" Sapa Aska dari sebrang sana. Terlihat senyum manis yang menghiasi wajah tampan itu.
"Maafin aka ya, soal tadi!" Pintanya. Melihat ekspresi itu dari sang kakak tentu membuat Sena luluh. Wajah sang kakak yang selalu adem tentu membuat Ia tak tega untuk lama-lama marah padanya.
"Ya, gak papa!" Balasnya diikuti senyuman manisnya.
Tiba-tiba saja Abi menarik ikat rambut sang gadis hingga rambut yang dicepol keatas itu tergerai dan dan hal itu sukses membuat Sena misuh-misuh.
"Ihh Abi!!!" Rengeknya. Namun, Abi hanya terkekeh melihat itu.
"Siniin!!" Rengeknya lagi mengadahkan tangan, meminta ikat rambutnya kembali.
"Issshhh" Sena yang merasa dipermainkan pun geram. Ia berdiri dan berusaha menggapai benda itu yang sengaja diangkat Abi tinggi-tinggi.
Bahkan Ia melupakan panggilannya dengan sang kakak disebrang sana. Tentu kelakuan keduanya terekam jelas dimata Aska. Interaksi yang lebih terlihat sebuah keuwuan membuat hatinya kian kesal, hawa tubuhnya kian memanas melihat tingkah keduanya. Ia sampai membanting benda pipih itu keatas meja didepannya, kala layarnya tiba-tiba saja menghitam dan hanya terdengar jeritan manja adiknya dan tawa renyah dari keduanya.
Ia memejamkan matanya seraya menyandarkan diri dikepala kursi. Tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja berdenyut. Mencoba menetralkan rasa sesak didadanya. 'Kenapa harus dia? Kenapa bukan gue?' Batinnya.
**
Sementara itu sepasang manusia disebrang sana, yang melupakan sang kakak masih asyik bercanda. Abi terus menggelitik perut Sena, hingga keduanya tak berhenti tertawa. Bahkan Sena melupakan maskernya yang sudah retak tak beraturan.
"Udah bi udah! Ampun! Gue nyerah." Ucapnya pasrah dengan napas yang tak beraturan. Dadanya sampai naik turun, hingga air matanya pun ikut luruh.
Keduanya terbaring, telentang diatas kasur dengan wajah saling berhadapan. Senyum terukir dari keduanya, mengingat apa yang mereka lakukan tadi. Hal yang sudah lama baru mereka lakukan lagi.
Tangan Abi terulur membenahi anak rambut nya yang berantakan. Hingga Sena baru menyadari sesuatu kala tangan Abi menyentuh pipinya. Ia terbangun dan meraba-raba wajahnya.
__ADS_1
"Ya ampun! Masker gue!" Pekiknya.
Abi tersenyum dan melipat bibirnya mendengar pekikan yang menggema dari gadisnya itu.
Sena berbalik dan mentap nyalang sepupu lucknut nya itu. "Isshhh ngeselin banget sih!" Rengeknya.
Ia ambil bantal dan mulai memukulkan pada Abi. "Masker gue rusak kan! Ihhh gara-gara lu nih!" Omelnya hingga Abi tertawa seraya menahan serangan yang membabi buta dari sang gadis.
"Pokoknya lu harus tanggung jawab! Ngeselin emang lu!" Omelnya tanpa menghentikan serangannya.
Abi hampir tak dapat menangkal serangan itu, hingga Ia pun membalikan tubuhnya. Sena menjerit kaget kala tubuhnya yang berbalik hingga dibawah kukungan Abi samai bantal yang dipegangnya ikut terpental. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci diiringi detak jatung yang saling bersahutan.
Hening!
Tak terdengar lagi tawa dan jeritan disana. Lama keduanya hanya saling tatap, menyelami rasa yang kian hari kian dalam.
"Tanpa diminta pun akan kulakukan. Kau tanggung jawabku. Arsena!"
Entah kenapa ucapan pemuda yang kini mengukungnya, begitu menghangatkan hatinya. Hingga Ia hanya pasrah dan terlena kala benda kenyal sang sepupu bertemu dengan miliknya. Bukan hanya menempel seperti sebelumnya. Sesapan lembut Ia rasakan darinya. Ia pun mulai mencoba membalas nya. Pelan namun pasti, hingga keduanya begitu menikmati sampai mata keduanya pun terpejam.
Lama keduanya berpagut, menikamati rasa yang baru pertama keduanya rasakan. Hingga Abi melepaskannya, kala sesuatu dalam dirinya memberontak dan menginginkan lebih. Ia hapus jejak saliva dibibir manis sang gadis dan tersenyum.
"Ingatlah! Ini hanya milikku." Ucapnya dengan penuh penegasan.
Sena mendorong sepupunya hingga keduanya bangkit dan segera berlenggang menuju kamar mandi tanpa kata apapun. Ia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu dengan tangan yang memegang dadanya.
'Jantung gue. Apa benar ini?' Batinnya bertanya.
Senyuman terukir indah diwajah cantik itu kala tangannya menyentuh bibirnya. Bayangan tadi kembali berputar dikepalanya. 'Emm Abi!!' Batinnya memekik kegirangan.
Didalam kamar, Abi terus menyunggingkan senyumnya seraya meraba bibirnya, hingga sesuatu terusap dari ujung bibirnya. Ia terkekeh melihat benda lengket yang Ia yakini dari masker sang gadis. Ia mendekat kearah pintu toilet dan menyenderkan diri ditembok sisi pintu dengan satu tangan dimasukan kedalan saku celana dan satu lagi Ia simpan didadanya. Ia memejamkan matanya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. 'Denganmu, kutemukan diriku yang lain.' Batinnya.
******************
**Maaf baru up lagi.. entah kenapa otaknya di siom mulu euyy😂
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa🤗**