
"Aka?!" Sapa Sena dengan ragu. Ia berlenggang masuk mendekati kedua pemuda itu.
Tatapan keduanya terputus. Aska membalikan tubuhnya dan beralih menatap Sena, dengan gejolak yang kian menyesakan dadanya. Menatap gadis yang Ia sayangi lebih memilih lelaki lain, tentu membuat pemuda tampan itu kian meradang.
Jika rasa itu dibenarkan dan mencintai sepupu itu diperbolehkan, kenapa harus Abi yang Sena pilih? Kenapa bukan dirinya?
Bertahun-tahun Aska menjaga perasaannya agar tak lebih dari seorang saudara. Namun nyatanya perasaan itu kian hari kian mendalam. Mengetahui satu sepupunya menyukai gadis yang sama tentu membuat Ia tertantang.
"Jadi, kamu beneran pacaran sama Abi?" Tanya Aska dengan nada pelan namun penuh penekanan.
Sena hanya menunduk dan tak berani menatap mata sang kakak, tangannya bergerak tak mau diam dibawah sana. Pengalihan kegugupan seorang Sena memanglah terletak dibagian tangannya.
"Jawab!" Titah Aska, namun Sena masih diam tak menjawab.
Aska mengerti arti itu. Ia mengangguk, dengan terus mengontrol emosinya. "Kenapa? Kenapa de?" Tanyanya lagi dengan air mata yang luruh begitu saja.
Rasa sakit dihatinya sudah tak dapat Ia sembunyikan lagi. "Kamu tau, aka sayang sama kamu!" Ucapnya dengan lantang hingga Sena terkejut dan mendongak menatap sang kakak.
"Kamu tau, aka selalu berusaha menyangkal perasaan aneh ini. Kita sepupu, kita saudara. Tapi apa? Kamu membalas perasaan Abi. Tapi aka?" Tanyanya dengan gelengan kepala.
Sena menutup mulutnya mendapati pengakuan itu dengan air mata yang juga ikut luruh.
"Jawab Sen!" Tegasnya dengan sedikit teriakan.
__ADS_1
"Kak! Aku, aku," balas Sena terbata-bata.
"Apa? Kamu mau bilang, kamu sayang Abi, kamu cinta sama Abi, iya?" Tanyanya lagi dengan bentakan.
Abi mencekal lengan Aska agar berhenti membentak kekasihnya. "Cukup kak!"
Aska berbalik menoleh kearah Abi. "Cukup?" Tanyanya dengan nada sinis, Ia hempas kasar tangan Abi hingga hampir terjengkang kebelakang.
Aska meraih kerah baju Abi dan mendorongnya sedikit kasar menyender pada lemari pakaian. Sena gelagapan melihat itu. Ini kali pertama melihat kemarahan besar sang kakak. Ngamuknya sang kakak tak seperti yang Ia lihat saat ini. Sang kakak hanya sekedar mengeluarkan ceramahan panjang kali lebar, kala Ia melakukan kesalahan.
"Kak! Jangan kek gini kak!" Larang Sena mencoba melerai. Namun tak dihiraukan sang kakak.
"Sekarang gue tanya, apa perasan ini memang dibenarkan? Hah?" Tanya Aska dengan suara kembali meninggi. Namun Abi hanya diam dengan sorot mata menajam mengarah pada kakak sepupunya itu.
"Kak! Udah kak! Lepasin kak!" Lerai Sena hendak mencegat tangan Aska yang mencengkram erat kerah baju Abi.
"Lu yang diam!" Balas Abi dengan nelayangkan tonjokan diwajah Aska.
Mendengar gadis yang Ia cintai dibentak, tentu membuat Abi tak terima. Aska sedikit terhuyung kebelakang, namun didetik berikutnya Aska membalas menonjok Abi. Hingga Ia juga terhuyung kebelakang. Adu tonjokpun tak dapat dihindari kedua sepupu itu.
Sena menjerit melihat keduanya yang bergulat, saling melempar bogeman mentah. Teriakannya tak membuat mereka menghentikan aksinya.
Hingga Papa Ar dan Mama Ay datang menghampiri mereka. Kedua orang tua itu shok melihat keduanya yang sudah sama-sama mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.
__ADS_1
"Ya ampun! Aka! Abi! Astagfirulloh apa yang kalian lakukan?" Pekik Mama Ay. Sena berhambur kepelukan sang Mama karena merasa ketakutan.
Papa Ar dengan segera memisahkan keduanya. "Aka! Abi! Apa yang kalian lakukan? Berhenti!" Titahnya seraya menarik Aska yang tengah berada diatas tubuh Abi.
"Aka! Udah kak!" Tahan Papa Ar menahan tangan keponakan yang sudah Ia anggap putranya itu.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian berkelahi?" Tanya Papa Ar.
"Papa tanya sendiri sama anak itu?" Balas Aska dengan napas terengah-engah menahan gejolak dihatinya. Giginya menggeretak menahan emosi didalam dadanya.
Papa Ar mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Sekarang aku tanya sama Papa. Apa memiliki perasaan antara sepupu sendiri itu dibenarkan?" Tanya Aska.
Papa Ar sedikit shok mendengar hal itu, namun didetik berikutnya Ia mengerti dengan apa yang terjadi. Papa Ar yang selalu memperhatikan interaksi antara Sena dan Abi tau apa masalah yang sekarang mereka alami.
"Kamu lagi emosi, sekarang kita duduk dulu!" Ajak Papa Ar.
Aska menggeleng, "nggak Pa!" Tolaknya.
Papa Ar menghembuskan napasnya panjang. Tau keponakannnya ini begitu posesif pada putrinya. Namun pertanyaan Aska selanjutnya sukses membuat membuat mereka shok.
"Jika perasaan antara sepupu itu dibenarkan? Apa itu juga berlaku untukku?"
__ADS_1
****************
Jejaknya jangan lupa yaaaš¤