Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 80


__ADS_3

Ayra yang belum percaya dirinya hamil, terus mencerna penuturan bu Titin. Ada yang mengganjal disana. Hamil? Ia teringat ini adalah hari dimana harusnya Ia mendapatkan tamu bulanannya. Untuk memastikannya, Ia berlalu kekamar mandi. Meninggalkan suaminya dan bu Titin diruang tamu.


Setelah sampai dikamar mandi, ternyata benar saja. Tamu yang tak Ia harapkan datang juga. Ia jadi teringat ekspersi suaminya tadi. Terlihat begitu antusias dan bahagia.


Perasaan bersalah tiba-tiba menyeruak dihatinya. Akankah suaminya itu kecewa? Akankah Ia mau menerima kenyataannya?


Pikiran-pikiran tentang kekecewaan suaminya, membuatnya merasa sesak dibagian dada. Hingga air matanya tak bisa Ia bendung.


Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu kamar mandi dari luar. Suara seseorang yang merasa Ia kecewakan memanggilnya. Beberapa teriakan tak Ia dengar, Ia begitu takut membuka pintu. Takut sang suami marah karena teramat kecewa.


Namun dengan kata-kata yang terakhir, membuatnya lebih takut untuk diam diri disana. Akhirnya Ia buka pintu itu, dan mendapati pelukan dari sang suami.


Ayra semakin terisak kala sang suami menanyainya. Dadanya semakin terasa sakit.


"Aku datang bulan!"


"Maafin aku bang! Maafin aku!" Ayra terus terisak dipelukan sang suami.


"Kenapa mesti minta maaf. Kamu gak salah!" Tanya bang Ar.


"Ka,karena a,aku be,belom hamil." Timpalnya dengan sesenggukan


Bang Ar melerai pelukannya, dihapusnya jejak-jejak kebasahan dipipi mulus sang istri. "Gak papa. Kanapa mesti nangis hemm?"


"A,aku takut a,abang kecewa!" Timpalnya semakin histeris.


Bang Ar kembali mendekap tubuh ringkih sang istri, membelai lembut surai hitam nan bergelombang itu, menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Ia kira sang istri belum menginginkan momongan, namun justru sebaliknya. Bahkan Ia sampai memikirkan perasaan suaminya.


"Udah jangan nangis! Gak papa. Ini terlalu awal untuk kita. Ini baru sepuluh hari, kita bisa terus mencobanya. Jangankan sepuluh hari, sepuluh tahun pun, kita akan terus mencobanya." Tutur bang Ar menenangkan istrinya.


"Apapun yang akan terjadi abang gak peduli, asal kita selalu bersama. Seperti ini!"


Ayra semakin mengeratkan pelukannya. Ada rasa lega, kala mengetahui suaminya tak merasa kecewa padanya.


Setelah merasa cukup tenang, bang Ar melepaskan dekapannya. Ia hapus kembali sisa-sisa jejak kebasahan dipipi sang istri dengan ibu jarinya. Dan merapihkan anak rambutnya yang berantakan.


"Udah yah! Jangan nangis lagi!" Titahnya tersenyum dan mampu membuat sang istri ikut tersenyum.


"Kalo sepuluh hari udah jadi? Kalah dong bibit cabe sama bibit abang?" Godanya membuat Ayra semakin melebarkan senyumnya.

__ADS_1


"Nah gitu dong senyum! Jangan nangis lagi ya, abang gak suka!" Ayra langsung menjawabnya dengan anggukan cepat. Dan mendapat usapan lembut dikepalanya.


"Jadi sekarang abang puasa dong?" Tanyanya membuat sang istri menautkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Puasa apa?"


"Puasa bikin part!"


Akhirnya keduanya tertawa. Melupakan drama yang tadi mereka perani. Sosok Ayra yang ceria dan cerewet tak mampu membuatnya lama-lama dalam situasi seperti itu. Ia akan mudah kembali melebarkan senyumnya dan melupakan tangisnya.


"Ya udah, yuk kita keluar! Kasihan tuh bu Titin kita tinggalin lama-lama!" Ajak bang Ar.


"Iya, Takut karatan ya bang." Timpal Ayra membuat keduanya kembali tergelak.


"Bukan karatan, takut makanannya basi. Katanya bawa sarapan tuh buat kita." Timpal bang Ar menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar.


Dan benar saja bu Titin masih setia menunggu keduanya disofa.


"Neng? Ada apa? Kok lama sekali?" Bu Titin yang sudah teramat kepo langsung memberondong pertanyaan pada pasangan itu.


"Abis bikin drama bu!" Sindir bang Ar yang langsung dapat tabokan dilengannya dari sang istri.


"Jadi ya neng! Neng Ay harus terima. Ini rejeki loh neng. Emang sih jadi orangtua itu gak gampang. Tapi ini sudah jadi kodrat kita sebagai perempuan. Ibu percaya neng Ay perempuan yang kuat. Pasti bisa jadi ibu yang baik." Tutur bu Titin membuat Ayra mengerutkan dahinya heran. Apa semua orang mengira dirinya belum siap jadi seorang Ibu?


"Berhubung Ibunya neng jauh. Neng Ay bisa sharing-sharing sama ibu. Ibu siap kok bantu neng. Kalo neng butuh apa-apa, jangan sungkan minta sama ibu. Anggap ibu ini, ibu neng sendiri ya!" Tuturnya membuat Ayra terharu.


Ayra ikut duduk disofa mendekap sayang bu Titin. "Makasih bu! Makasih banget. Ibu adalah ibu ketiga bagiku setelah Mamih dan Ibu." Bu Titin ikut tersenyum dam membalas dekapannya.


"Tapi bu. Aku belom hamil." Penuturan Ayra membuat bu Titin melepaskan pelukannya.


"Yang bener neng? Kok bisa?" Tanyanya shok.


"Ini aku bocor!" Timpal Ayra tersenyum. Membuat bu Titin tertawa.


"Aduh salah paham dong ya?" Tanyanya merasa malu.


"Iya. Tapi gak papa bu. Ibu doain aja. Smoga cepet dikasih ya bu!" Pinta Ayra.


"Aminnn.. Iya ibu do'ain smoga segera dikasih." Bu Titin sampai menangkup tangannya seraya mendoakan keduanya.

__ADS_1


"Sekarang kalian makan dulu, nih ibu bikinin nasi goreng. Keburu dingin ntar!" Lanjutnya.


"Iya. Makasih bu!" Timpal Ayra dan mulai mengambil makanannya, mengambil piring yang sudah disediakan bu Titin. Menyendoknya dan diberikan pada sang suami yang sudah ikut duduk.


"Ibu juga makan ya? Aku ambilin!"


"Gak usah ibu udah makan tadi sama anak gadis ibu." Timpalnya.


"Ibu punya anak gadis?" Tanya Ayra dan dijawab anggukan olehnya.


"Emang ibu punya anak berapa?" Tanyanya lagi.


"Ibu cuma punya satu anak. Dia sudah masuk SMA. Kami cuma tinggal berdua. Beberapa bulan yang lalu ayahnya meninggal." Ucap Ibu sendu.


Ayra dan bang Ar yang sudah mulai memakan makanannya, berhenti sejenak. "Inalillahi..."


"Kami turut berduka bu! Maaf bu kami gak tau!" Ucap Ayra merasa bersalah.


"Gak papa. Ini udah jadi takdir ibu." Timpal wanita paruh baya yang berusaha untuk tersenyum itu.


Ayra mendekapnya dari samping untuk memberinya kekuatan. "Ibu yang sabar ya! Aku tau Ibu adalah wanita kuat. Ibu jangan pernah merasa sendiri. Sekarang ibu juga punya kita. Kita keluarga ya bu!" Penuturan Ayra sukses membuat bu Titin tersenyum dan mengelus tangan gadis yang mendekapnya.


"Makasih ya neng! Kalian mau nerima ibu jadi bagian keluarga kalian. Ibu seneng banget. Selama ini ibu hanya tinggal berdua dengan putri ibu. Jauh dari keluarga ibu juga." Timpal bu Titin dengan senyum bahagianya.


"Emang keluarga ibu dimana?" Tanya Ayra jadi kepo.


"Jauh neng. Ibu dari sebrang pulau. Dari Sumatera. Suami Ibu asli orang sini, tapi kedua mertua ibu sudah meninggal. Gak ada keluarga lagi disini. Suami ibu itu orang kepercayaan pak Arshad. Dan sampai suami ibu meneinggal, pak Arshad masih menanggung biaya sekolah putri ibu. Ibu sangat bersyukur bisa mengenal keluarga pak Arshad yang begitu baik. Terima kasih ya den!" Tuturnya terharu.


"Iya. Sama-sam bu! Kami senang bisa membantu!" Timpal bang Ar.


"Oh iya bu. Siapa nama putri ibu?" Tanya Ayra penasaran.


"Namanya Siska." Jawaban bu Titin sukses membuat Ayra membelakak. Dunia pernovelan emang sempit ya? Pikirnya.


****************


Mari-mari tinggalkan jejak kaleaan disini! Ramaikan yaa gengss🤗


Sayang kaleaaannn😘😘

__ADS_1


__ADS_2