
Setelah drama muntah-muntah didapur, bang Ar benar-benar tak berdaya. Ia terbarimg lemah diranjangnya setelah mendapatkan pemeriksaan mantri dari klinik. Menurut pemeriksaan tak ada yang dikhawatirkan hanya mungkin masuk angin biasa saja. Ia pun diberikan beberapa obat dan vitamin.
"Abang istirahat ya! Aku mau nemuin dulu yang lain!" Ayra menutupi tubuh sang suami sampai dada dan mengusap kepalanya lembut.
Namun sebelum beranjak sang suami mencekal lengannya. "Jangan lama-lama, temenin abang disini!" Rengeknya.
"Iya bang. Bentar aja ya!" Bujuk Ayra melepaskan tangan sang suami dan beranjak keluar kamar.
Diluar semua sudah menunggu. Mereka penasaran bagaimana keadaan bang Ar sekarang.
"Ay! Gimana keadaannya Ar sekarang?" Tanya Papih khawatir.
"Abang udah minum obatnya kok, lagi istirahat." Timpal Ayra.
"Kok bisa masuk angin? Kalian begadang semalam?" Tanya Mamih.
"Gak Mih. Malahan kita tidur awal." Elaknya. Padahal mah iya mereka begadang, entah habis berapa ronde malam tadi. Malu juga kalo harus jujur.
'Apa bener gara-gara semalam ya? Biasanya kalo begadang, gue yang kek gitu.' Batinnya.
"Ya udah biarin Ar istirahat. Kita makan aja yuk udah siang!" Ajak Ibu dan dijawab anggukan dari semuanya.
Namun baru aja akan bergerak, suara bang Ar dari dalam kamar menghentikan langkah mereka.
"Sayangg!!!"
"Iya bang!" Timpalnya. Ia baru ingat harus segera kembali kekamar. "Kalian makan aja ya! Bang Ar tadi minta ditemenin."
"Kamu juga kan belom makan Ay! Tar sakit lagi." Timpal Ibu khawatir. "Atau Ibu bawain aja kekamar?"
"Gak usah bu. Tar aku nyusul. Belom laper juga!" Timpalnya.
"Tapi Ay!" Selak Agel.
"Udah gak papa. Kalian nikmati aja makan siangnya!" Timpalnya lagi.
Akhirnya mereka pasrah dan berlalu keluar menuju halaman, yang sudah tergelar tikar dan meja dengan berbagai macam makanan diatasnya.
Ayra masuk kembali kekamarnya. Ia duduk disisi ranjang dekat suaminya. "Iya bang. Kenapa? Abang mao minum?" Tawarnya.
"Nggak. Kekepin sini!" Bang Ar merentangkan tangannya meminta sang istri masuk kedekapannya.
Ayra mengerenyitkan dahinya heran. Merasa aneh dengan tingkah manja sang suami. Apa ini memang sifatnya kalo lagi sakit? Pikir Ayra.
Namun tanpa protes Ayra ikut masuk dalam selimut, mendekap kepala sang suami dan mengelusnya sayang. Bang Ar melesakkan wajahnya didua gundukan favoritnya dan melingkarkan tangannya dipinggang istrinya itu.
__ADS_1
Sampai bang Ar bener-bener tertidur. Ayra pun bangun dan membiarkan sang suami istrirahat. Ia keluar untuk menyusul mereka yang tengah berkumpul menikmati makan siang dihalaman rumah.
"Sini sayang makan dulu!" Ajak Ibu pada mantunya.
"Iya bu!" Jawabnya dan ikut bergabung disana.
"Kenapa kamu diem aja? Mau Mamih ambilin?" Tanya Mamih yang melihat putrinya hanya melihat-lihat pada semua makanan tanpa mau mengambilnya.
"Aku gak nafsu Mih. Itu nasi napa geli banget?" Timpalnya menunjuk nasi dengan wajah jijik, membuat mereka menatap heran.
"Geli gimana?"
"Ituh, kok bentuknya gitu? Gak ah, aku gak mau makan!" Timpalnya semakin membuat mereka melongo.
"Kamu kenapa sih, sakit?" Tanya Mamih lagi sambil menempelkan punggung tangannya didahi putrinya.
"Nggak!" Elaknya menggelengkan kepala.
"Keknya makan yang seger-seger enak tuh!" Timpalnya.
"Hah?!"
Sebelum mereka kembali bersuara, bang Ar datang memanggil sang istri dengan manja. Bahkan Ia sampai duduk dan bersender dibahunya.
"Sayang! Kamu kok tinggalin aku?" Tanya bang Ar membuat mereka melongo. Seorang bang Ar yang kalem, bahkan malu-malu didepan kedua orang tua dan mertuanya jika mengumbar kemesraan, justru berbanding terbalik dengan keadaannya sekarang.
"Hemm!" Bang Ar tak memedulikan sekitar. Ia kembali memejamkan matanya dibahu sang istri.
"Dikamar aja tidurnya!" Titahnya menggerakkan bahunya.
"Nggak! Mau sama kamu." Jawabnya dengan mata masih terpejam.
Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bang Ar ini.
"Bentar kaya nya ini ada yang aneh deh!" Timpal Mamih. Membuat atensi pindah ke arahnya.
"Ay! Kita ke klinik sekarang!" Ajak Mamih.
"Ngapain Mih?" Tanya Ayra heran. Bahkan bang Ar terbangun dan duduk mengusap ujung hidungnya yang terasa berat mendengar sang Mamih mertuanya yang akan membawa sang istri ke klinik.
"Pokoknya kita ke klinik sekarang!" Tegas Mamih membuat bang Ar menoleh.
"Kamu kenapa? Kamu sakit yang?" Tanya bang Ar panik sampai menyentuh pipi dan keningnya dengan punggung tangannya dan dijawab gelengan kepala olehnya.
Mamih berdiri dari duduknya dan menarik tangan putrinya. "Yuk!" membuat Ayra ikut berdiri.
__ADS_1
"Yuk bu besan juga ikut!" Ajaknya pada Ibu, yang masih tak mengerti maksud besannya ini. Namun tak ayal Ia bangun juga.
"Kamu mau ikut apa dirumah aja Ar?" Tanyanya pada mantunya itu.
"Aku ikut!" Walaupun kepalanya masih terasa berat dan tak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan Mamih mertuanya, namun bang Ar ingin tau apa yang terjadi. Ia pun ikut berdiri.
"Ayo Papih juga ikut! Buat nyetirin mobilnya!" Pinta Mamih dan dijawab anggukan Papih.
"Ya udah, Ayah juga ikut!" Timpal Ayah.
"Dah kalian semua tunggu disini, nikmatin makanan kalian!" Timpal Mamih dan dijawab anggukan mereka.
Keenam orang itu pun berlalu masuk kedalam mobil. Ayah dan Ibu dengan mobilnya sendiri. Sementara bang Ar dan Ayra bersama Papih dan Mamih.
"Sebenarnya ada apa sih, kok gue jadi bingung ya?" Tanya Feby menggaruk kepalanya yang tak gatal begitupun Rila, yang kadar kecerdasannya dibawah rata-rata.
"Gue juga!" Timpal Rila.
"Apalagi aku!" Timpal Siska. Membuat dua gadis itu mengalihkan atensi padanya. Ternyata si cabe-cabean ini lebih parah dari keduanya.
Ketiga cowok pun tak ada yang komen, mereka hanya mengedikkan bahunya tanda tak paham. Namun berbeda dengan bu Titin dan Agel yang mengerti dengan maksud dari Mamih Asti. Keduanya senyum penuh arti membuat yang lain mengerenyitkan dahinya heran.
"Ngidam!" Ucap keduanya serentak membuat yang lain melongo.
**
Sementara itu kedua mobil sudah terparkir apik di depan klinik. Setelah melakukan pendaftaran kini mereka tengah menunggu giliran untuk diperiksa.
Ayra dan bang Ar masih tak paham dengan tujuan Mamihnya membawanya kesini. Berbeda dengan Ibu yang sudah mengerti dengan maksud dan tujuan besannya itu.
Begitupun kedua lelaki paruh baya itu yang belum mengerti, namun memilih mengikutinya saja.
"Sebenarnya Mamih kenapa sih bawa aku kesini?" Tanya Ayra penasaran.
"Udah. Kamu jangan banyak tanya. Tar kalo udah diperiksa juga kamu tau." Jawab Mamih membuat Ayra cemberut dan hanya menghela nafasnya pasrah.
Giliran Ayra pun tiba, Papih dan Ayah memutuskan menunggu diluar, hanya pasangan itu dan emak-emaknya saja yang masuk.
Bidan langsung membawa Ayra kekamar mandi, untuk mengecek hasil dugaan sang Mamih. Ayra yang baru paham, ikut tegang untuk tau hasilnya.
Saat Ayra kembali dengan bidannya. Semua tampak tegang. Hasilnya sudah ada di tangan sang bidan.
"Bagaimana bu hasilnya?"
"Alhamdulillah! Positif!"
__ADS_1
************
Jangan lupa jejaknya yaa readers😊 Ini mak othor lagi tumbang, ide nya lagi ambyar🤧 Mohon terus dukungannya yaa🙏