
Flashback off
"Maaf! Ibunya tak bisa tertolong!"
Deg
Gubrakk!!!
Ibunya kak Icha jatuh pingsan kala mendengar penuturan sang dokter. Tangis pecah dari ketiga wanita beda generasi itu. Saat tengah menunggu Ibu Anita dan Ayah Arshad sudah ikut gabung disana.
Dengan sigap Papih membopong tubuh besannya, dan menidurkannya dibangku tunggu dengan kepalanya diatas pangkuan Mamih. Mamih bersama Ibu dengan tangisnya terus menyadarkan besannya.
Ayra pun sudah melemah dirangkulan sang suami.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Kabar kepergian salah satu anggota keluaraga mereka, menjadi tombak yang menusuk kedalam hati dan jiwa mereka.
Entah apa yang terjadi didalam sana dengan bang Agung. Papih dan Ayah bergegas menyusulnya kedalam setelah mendapat izin dari tim dokter.
Saat Papih dan Ayah masuk, terlihat wajah pucat seseorang yang terbaring kaku diatas brankar. Bang Agung terlihat tengah mengguncang tubuhnya dengan tangis yang memilukan.
Papih menarik bang Agung kedalam dekapannya menenangkan sang putra yang begitu berantakan. "Bangun sayang bangun! Jangan tingalin abang! Kamu udah janji sama abang. Kamu udah janji!" Jeritnya histeris dan berusaha berontak dari sang Papih.
Papih terus berusaha mencekalnya, menahan sang putra agar tak terus berontak. Air matanya luruh begitu deras, melihat kenyataan yang menimpa sang putra dan menantunya. Bencana benar-benar tengah menghantam keluarganya.
"Bangun Cha! Abang mohon! Bagaimana dengan bayi kita?" Dengan tangis mulai melemah, Ia pun terjatuh duduk dilantai. Ayah pun ikut membantu membangunkannya.
Bang Agung mendekat kembali ke sisi brankar. Ia usap pipi yang kian memucat itu. Hatinya begitu sakit bagai terhantam beribu batu. "Kenapa kamu tega sama abang? Kenapa?" Isaknya begitu lirih.
Papih terus merangkulnya memberi kekuatan padanya. "Papih tau ini begitu menyakitkan, ini bukan hal yang kita inginkan! Tapi ini sudah menjadi takdir. Kamu harus ikhlas! Kamu harus kuat! Demi bayi kalian!" Tutur Papih.
__ADS_1
Bang Agung berhambur memeluk sang Papih. Ia tumpahkan semua rasa yang menyesakkan didadanya pada pahlawan hidupnya itu. "Papih! Icha Pih!"
"Papih tau! Papih tau!" Papih ikut tersedu mendekap sang putra. Menyalurkan rasa nyaman, rasa kuat bahwa Ia tak sendiri menghadapi semua ini.
"Yang sabar ya Nak! Benar kata Papih kamu, kamu harus ikhlas, kamu harus kuat! Dengar bayimu membutuhkan kamu!" Ucap Ayah menepuk-nepuk pundak bang Agung ikut memberi kekuatan padanya.
Setelah merasa cukup tenang bang Agung melerai pelukannya. Dengan hati yang begitu sakit, Ia berusaha kuat. Ia kembali menghampiri tubuh sang istri yang terbujur kaku. Ia elus lembut pipinya dan mencium keningnya lama.
"Tidurlah sayang. Jika itu tak membuatmu sakit!" Lirihnya.
Ia tarik kain putih yang membalut tubuhnya sampai menutup wajah cantiknya. Air matanya kembali tumpah, namun sebisa mungkin Ia berusaha untuk kuat. Apalagi saat tangis bayi begitu menyayat hatinya.
Ia beralih pada bayinya. Ia gendong bayi mungil yang bergeliat dengan tangisnya yang menggetarkan hati bang Agung. Hatinya terus bertanya, Kenapa kebahagiaan yang datang harus bersama tangis dan sakit juga?
"Kamu adzani!" Titah Papih menepuk pundaknya.
Setelah selesai Ia kembali memberikan putranya pada suster. Bayinya akan masuk inkubator untuk mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya yang prematur dengan bobot hanya satu setengah kilo gram itu.
Bang Agung, Papih dan juga Ayah keluar setelah menyetujui pengurusan jenazah dengan pihak rumah sakit. Ketiganya keluar dengan bang Agung diboyong sang Papih.
Ibu yang sudah sadar dan tengah menangis tersedu di dekapan sang Mamih kembali histeris melihat keadaan sang mantu. Bang Agung yang sudah didudukkan sang Papih langsung mendapatkan pelukan dari Mamih dan Ibu mertuanya. Ibu Anita terus mengusap pundak Ibu kak Icha ikut menguatkan ketiganya. Tangis pun kembali pecah dari semua wanita disana.
Ayah dan Papih berlalu kebagian administrasi untuk mengurus surat-surat kepulangan jenazah kak Icha. Sementara sang bayi akan dirawat disini selama beberapa hari, sampai kondisinya stabil.
Ayra semakin melemah dipelukan sang suami kala melihat keadaan sang abang. Tangisnya tak berhenti membuat bang Ar khawatir. "Sayang! Udah ya, kamu harus kuat! Kamu harus bisa menguatkan abang. Kasihan dia!" Tuturnya.
"Kamu juga harus ingat!" Bang Ar mengelus perut buncit sang istri. "Ada dia. Kamu gak boleh stres. Kasihan juga baby kita!" Lanjutnya.
Ayra ikut mengusap perutnya. "Maafin Mama ya Nak! Kita harus kuat buat Om Agung dan kakak bayi ya sayang!"
__ADS_1
"Maafin aku ya bang!" Ayra memeluk erat peluk sang suami dan dibalas olehnya dengan usapan lembut dikepala dan ciuman dipucuk kepalanya.
Setelah semua menumpahkan rasa sakit dan sesak yang mereka rasa. Semuanya tengah bersiap untuk pulang. Saat brankar keluar dari dalam, menampakkan seseorang yang terbujur kaku dengan tertutup kain putih disekujur tubuhnya, tangis mereka pun kembali pecah.
Ibu kak Icha berlari menghampiri jasad putri tercintanya dan memeluknya. "Icha sayang! Kenapa kamu tinggalin Ibu? Kenapa kamu tinggalin suami dan bayi kamu?"
Mamih dan Ibu Anita kembali merangkul Ibu mencoba menenangkannya. "Udah ya bu! Kita harus ikhlas! Biar Icha tenang disana."
Akhirnya mereka membiarkan brankar kembali berjalan. Mereka pun menyusul setelah melihat sebentar bayi mungil yang tengah tertidur di dalam inkubator bayi.
Ibu kak Icha yang dirangkul oleh Mamih dan Ibu. Bang Agung dirangkul Papih dan Ayah. Dan Ayra yang terus dalam dekapan sang suami. Mereka masuk didua mobil. Dengan Ayah dan bang Ar yang menjadi supir. Satu mobil bang Agung dan motor bang Ar ditinggal disana.
**
Selang beberapa menit mereka tiba dirumah bang Agung. Kabar berpulangnya sang istri sudah diketahui pak RT disana. Semua tetangga sudah berkumpul menyambut mereka. Begitupun keluarga Papih dan Ibu kak Icha yang sudah menyiapkan segala sesuatunya disana.
Tak berselang lama dari kedatangan mereka, mobil jenazah pun tiba. Tangis kembali pecah dari semua keluarga. Bahkan tetangganya pun ikut menumpahkan air matanya. Kak Icha yag mereka kenal merupakan sosok yang begitu baik dan ramah membuat mereka begitu kehilangan sosok ka Icha.
Pelayat terus berdatangan memenuhi rumah duka. Teman, kerabat dari jauh pun mulai berdatangan. Begitupun sahabat reseh. Mereka yang sudah menganggap bang Agung seperti abang mereka sendiri begitu ikut merasa kehilangan.
Ayra terus memeluk tubuh sang abang yang kaku, hanya air matanya saja yang luruh. Tatapannya kosong. Membuat semua ikut merasa sakit melihatnya. 'Apa ini yang kamu maksud kehendak-Nya Cha?' Batinnya.
*****************
**Nangis bombay😭😭😭😭😭😭
Pernah disituasi Ayra. Dan rasanya😔
Jangan lupa yaa jejaknya**!!!
__ADS_1