Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 52


__ADS_3

Bang Agung berkacak pinggang didepan pintu. Namun Ayra berusaha setenang mungkin.


"Ada apa sii bang? Datang-datang teriak-teriak." Omel Ayra.


"Gimana gue gak teriak-teriak, dari tadi gue gedor pintu lu kagak nyaut." Timpal bang Agung.


"Lagi ngapain lu coba? Terus kenapa pintunya pake dikunci?" Cecarnya lagi.


"Gue. Gue tadi lagi didapur. Iya. Gak kedengaran." Timpal Ayra sedikit gugup.


"Terus mana Ardi? Kata Mamih dia lagi disini?" Tanyanya curiga.


"Emm.. Dia, dia lagi dikamar mandi, dari tadi belum keluar katanya muleus." Jawab Ayra asal.


Membuat bang Ar manggut-manggut dan masuk kedalam. Ayra mengekorinya dari belakang.


Saat masuk Ia mendapati bang Ar yang baru keluar dari kamar mandi. Ayra memilih memasuki dapur.


"Hai Gung. Udah lama?" Tanya bang Ar basa basi. Jujur bang Ar merasa takut. Takut bang Agung mendengar de sahan mereka tadi.


"Belum. Baru aja masuk. Eh katanya perut lu sakit?" Tanyanya.


"Ah." Bang Ar berfikir sejenak. "Iya nih. Kebanyakan makan pedas." Lanjutnya.


"Emang kalian abis makan apa?" Tanyanya seolah menginterogasi.


"Seblak!" Bukan bangb Ar namun Ayra yang menjawab dengan membawa dua cangkir ditangannya.


"Minum dulu bang. Biar enakan perutnya!" Titahnya.


Bukan bang Ar yang minum namun bang Agung. "Njirrr...pait!"


Ayra tertawa melihat abangnya yang sudah menjulurkan lidah dan mengerenyitkan dahinya.

__ADS_1


"Sengaja gak gue kasih gula."


"Kenapa?"


"Cukup liat gue aja. Manis." Ayra semakin tergelak.


"Yang ada makin pait." Kesal bang Agung.


"Gak gitu. Maksudnya kan bang Ar lagi gak enak perut tuh. Katanya kalo dikasih teh pahit bakal enakan." Timpal Ayra membuat bang Ar tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Namun entah karena haus atau apa bang Agung memaksa meminumnya hingga tandas.


"Bang lu mau ngapain sii kesini?" Tanya Ayra.


"Kenapa? Gue ganggu kalian?" Tanya balik bang Agung.


"Iya ganggu. Ganggu banget!" Tapi hal itu hanya mampu diucapkan keduanya dalam hati.


"Gue sengaja kesini karena tau kalo kalian cuma berdua. Takut yang ketiganya setan." Tutur bang Agung.


"Oh ya bang" Ucapan bang Ar terpotong bang Agung.


"Wiiih abang cenah." Selak bang Agung.


"Ya gak sopan aja gitu, bentar lagi lu jadi abang gue juga kan?" Balas bang Ar.


Bang Agung pun tersenyum. "Iya deh Adek Ar." Merekapun kembali tergelak.


"Oh iya. Tadi mau ngomong apa?" Tanya bang Agung lagi.


"Apa ya? Lupa gue." Bang Ar nampak berfikir sejenak. "Oh iya. Lu masih suka motor?" Tanyanya.


"Suka lah. Itukan hobby gue."Timpal bang Agung.

__ADS_1


"Gimana kalo kapan-kapan kita ngemodif lah. Kangen juga." Tawar bang Ar.


"Oke boleh juga tuh!" Timpal bang Agung.


Keduanya terus mengobrol membahas tentang motor dan pekerjaannya masing-masing.


Hingga tanpa keduanya sadari, Ayra sudah tertidur bersandar dipundak bang Ar.


"Yaah tu bocah tidur!" Bang Agung menunjuk Ayra dengan dagunya.


Bang Ar menoleh dan tersenyum. Tiba-tiba Hp bang Agung berdering, menandakan ada panggilan masuk. Ia berlalu meningglkan keduanya.


"Eh gue balik ya, Kaka ipar lu pengen rujak. Lagi ngidam dia." Tutur bang Agung.


"Gue titip adek gue ini ya! Jaga dan bahagiain dia. Gue percaya sama lu!" Pesannya menepuk pundak bang Ar. "Gue harap lu bisa menahannya ampe hari H tiba!" Goda bang Agung, membuat bang Ar menaikan satu alisnya.


"Jangan sampe suara kek tadi meresahkan orang." Timpal bang Ar menepuk bahu bang Ar dan berlalu pergi.


Benarkah mereka tercyduk? Memalukan!


Bang Ar menggendong tubuh Ayra ala bridge style memasuki kamarnya. Ia rebahkan tubuh langsing sang kekasih dan menyelimutinya sampai dada. Ia kecup keningnya lama membuat Ayra tersadar.


Ia menarik tangan bang Ar, hingga bang Ar menubruknya. "Bang temani aku tidur!" Pintanya.


Bang Ar tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ayra bergeser memberi ruang untuk bang Ar merebahkan diri.


Bang Ar ikut merebahkan diri disamping Ayra. Ia tarik tubuh Ayra kedalam dekapanya. Ayra memeluk bang Ar dan memyembunyikan wajahnya didada bang Ar. Keduanya benar-benar terlelap sampai malam.


Bang Ar terbangun lebih dulu. Mendapati sang kekasih tertidur pulas Ia pun beranajak keluar. Ia raih Hp dinakas dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari calon mertuanya. Lalu dilihatnya pesan masuk dari nomor yang sama. Ternyata kedua mertuanya tak bisa pulang. Dan menitipkan Ayra padanya.


Ia keluar dari kamar dan mengunci pintu depan. Ia duduk sebentar disofa depan kembali mengechek kembali E-mailnya. Ternyata pengajuannya tidak diterima semudah itu.


Ia kembali kedalam kamar Ayra. Kembali merebahkan dirinya disamping sang kekasih, memeluk gadisnya erat dan menciumi pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Abang akan berusaha membahagiakanmu, melakukan yang terbaik buat kamu."


*************


__ADS_2