Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 40


__ADS_3

Keduanya sampai ditempat yang dituju. Ternyata semua temannya telah sampai terlebih dahulu.


"Ngumpet dimana kalian?" Tanya Devan.


"Kita istirahat dulu diperkebunan." Jawab bang Ar.


"Istirahat apa istirahat?" Goda Feby.


"Paan sih lu, gue ampe kehabisan oksigen tau gak. Dah kaya dikejar anjing mang Dadang gue." Protes Ayra membuat ketiga gadis itu tergelak.


Hal itu mengingatkan mereka berempat saat SMA dulu, yang suka jadi incaran anjing mang Dadang di dipengkolan gang. Kala mereka pulang sekolah.


"Hadeuh.. Jadi kangen kan sama anjing mang Dadang." Celetuk Rila membuat mereka semakin tergelak.


Para pemuda yang tak mengerti akan pembicaraan para gadisnya, hanya mengeremyitkan dahinya tak mengerti.


"Udah. Mukanya gak usah pada bingung gitu. Ini kisah sekolah kita dulu." Tutur Agel merangkul tangan Juna sang kekasih.


"Oh ya, dimana tante-tante itu gak ngikut sini kan?" Tanya Ayra. Ia khawatir akan bertemu lagi dengan wanita ulet bulu itu.


"Gak. Kek nya dia pulang deh." Timpal Rila.


"Gue gak habis fikir, ada ya wanita kek gitu. Centilnya, naudzhubillah." Timpal Feby.


"Tapi body nya boleh juga." Celetuk Rio. Membuat semua atensi pindah kearahnya.


"Hah? Lu suka sama tante-tante kek gitu?" Tanya Feby tak percaya.


"Gue kan bilang body nya, bukan orangnya." Jawab Rio santai.


"Wah! Gue gak nyangka seorang jombloer sejati kek lu, selera nya gak nanggung-nanggung emang." Timpal Juna geleng-geleng kepala.


"Mantap mas bro. Lanjutkan!" Timpal Devan. Rio hanya memutar bola matanya malas.


"Dasar emang cowok sama aja!" Cetus Feby dan berlalu pergi.


Semua orang melongo melihatnya. Rio hanya menyedikan bahunya acuh. Dan ikut berlalu berlawanan arah


"Lah napa tuh anak pada?" Tanya Ayra heran dan hanya dijawab gedikan bahu dari yang lainnya.


"Udah biarin aja mereka. Kita masuk yuk!" Ajak bang Ar menggandeng tangannya.


**


Setelah melihat tanaman-tanaman yang sedang dirawat para pekerja, mereka memilih berjalan-jalan kembali. Kali ini tujuan mereka adalah sawah yang ditunjukkan oleh salah satu pekerja disana.

__ADS_1


Dilihatnya tanaman padi yang membentang luas, dan beberapa macam tanaman seperti tomat, sawi, cabe dan masih banyak lagi. Membuat mereka antusias untuk menjelajahi alam yang hijau itu. Lebih tepatnya hanya keempat gadis itu saja.


"Yang panas nih. Udah yuk kita neduh aja di saung itu!" Ajak Devan pada sang pacar seraya menunjuk saung (Gubuk) ditengah sawah.


"Ih kamu mah, gak seru. Ini tu pengalaman pertama aku bisa tau sawah." Jawab Rila


"Iya. Tapi kan ntar kulit putih kamu gosong gimana?" Tanya Devan merayu pacarnya itu.


Rila berfikir sejenak. Lalu beralih pada tangannya yang memakai baju lengan pendek.


"Ah iya yah. Ya udah deh yuk kita neduh. Aku gak mau gosong." Jawaban Rila membuat Devan tersenyum lebar.


Ternyata tak susah membujuk kekasihnya ini. Rila yang terkesan perfeksionis dalam hal penampilan tentu memilih ajakan kekasihnya.


"Kita juga neduh yuk yang. Aku haus!" Ajak Agel pada Juna.


"Oke.. Yuk!" Jawab Juna. Dan menuntun sang kekasih menuju saung.


Kebetulan pekerja yang tau anak sang pemilik tengah berkunjung kesana sudah menyiapkan jamuan ala kadarnya disaung.


Bang Ar dan Ayra masih terus berjalan berdua ditengah kebun sayur. Melihat para pekerja yang tengah mengurus sayuran. Bahkan bang Ar sempat mengobrol dulu menanyakan tentang perkembangan dan hasil panen dengan para pekerja disana.


Ada dua orang yang dipercaya untuk mengurus para pekerja kebun sayur dan sawah disana. Ayah sang pemilik hanya menerima laporan saja.


"Kamu cape gak?" Tanya bang Ar. Keduanya kini berjalan ditepi sawah.


"Kenapa?"


"Karena sama abang."


Ayra menyunggingkan senyum manisnya dan terus berjalan terlebih dahulu.


"Abang fotoin aku dong!" Titahnya dengan membalikan badan.


Namun karena kurang hati-hati sebelah kakinya malah melesat masuk kedalam sawah, Ia hampir terjengkang namun bang Ar segera meraih tubuhnya. Lagi-lagi keuntungan tengah berada dipihaknya.


Ayra menjerit terkejot bahkan dengan sigap mengalungkan tangannya keleher bang Ar dan membuat bibir kedunya bertubrukan.


Keduanya diam sejenak. Lalu tersadar dimanakah mereka sekarang? Akhirnya Ayra segera menjauhkan dirinya, begitupun bang Ar. Kalo saja bukan ditempat umum, entah apa yang akan keduanya lakukan.


"Aww.. aww!" Ayra menarik kakinya yang penuh dengan lumpur sawah.


Ia berjinjit dan memegang kedua lengan bang Ar.


"Kenapa?" Tanya bang Ar khawatir.

__ADS_1


"Sakit bang!" Jawab Ayra dengan mata berkaca-kaca.


"Ya ampun. Kamu pasti terkilir." Bang Ar berjongkok melihat kaki Ayra.


Dibukanya sepatu kets yang penuh lumpur itu dan menggulung sedikit ujung celana jeansnya yang kotor.


Karena merasa susah jika harus dilihat disana. tanpa aba-aba bang Ar menggendong Ayra ala brige style, membuat Ayra menjerit san reflek merangkul pundak bang Ar.


Ayra tidak bisa menutupi rona bahagianya. Ia sampai menyembunyikan wajahnya diceruk bang Ar. Hal itu justru membuat bang Ar mati-matian menahan sesuatu dalam dirinya.


"Bang yang lain pada kemana?" Tanyanya pada bang Ar yang tengah mendudukannya.


"Kek nya pada pulang deh. Mana yang sakit?" Bang Ar meraba pergelangan kaki Ayra.


"Aw...aw.. tuh tuh bang yang situ." Jerit Ayra.


"Kamu tahan bentar ya!"


"Aw.. pelan-pelan bang!"


"Iya. Ini juga pelan."


Bang Ar terus memutar-mutar pergelangan kakinya perlahan.


"Gimana masih sakit?" Tanya bang Ar.


"Gak bang. Udah enakan."


"Ya udah kita pulang yuk. Udah sore juga!" Ajak bang Ar dan dijawab anggukan Ayra.


Bang Ar berjongkok memunggungi Ayra. Membuat Ayra bingung.


"Kenapa bang?"


"Yuk naik!"


Bang Ar menepuk punggungnya meminta Ayra naik.


"Tapi bang, aku berat."


"Gak papa ayo cepet."


Perintahnya lagi tak dapat ditolak. Ayra pun pasrah dan naik ke atas punggung bang Ar.


Sepanjang perjalanan diisi dengan candaan dan gelak tawa keduanya.

__ADS_1


Ayra yang sudaah menunjukan kecerewetannya didepan bang Ar, sudah tak canggung lagi. Begitupun bang Ar yang sudah terbiasa melayangkan gombalan-gomblannya.


**************


__ADS_2