Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 8


__ADS_3

"Ay...!" panggil sang Mamih pada gadis bungsunya.


"Iya. Mih." sahutnya yang sedang menyiram tanamannya di halaman depan.


"Anterin pudding ini, gih. Kerumah Kak Icha!" titah sang Mamih dengan menyodorkan bungkusan kresek ditangannya.


"Gak ah..jauh Mih!" tolaknya. "Kenapa gak abang Agung nya aja sii yang ambil?" tanyanya lagi.


"Katanya suruh kamu aja yang antar, abangmu lagi sibuk." timpal Mamih lagi.


Seketika pergerakan Ayra terhenti dan menoleh pada sang Mamih. "Lah..kan ini weekend sibuk apaan si abang?" tanyanya lagi heran.


"Sibuk bikin cucu buat Mamih." timpal Mamih dengan kekehannya.


"Idihh... Dianya aja lagi seneng-seneng, masa aku yang musti repot sii Mih." gerutunya dengan cebikan bibir.


"Udah sana, siap-siap. Kamu anterin kasihan Kakak kamu, siapa tau menantu Mamih lagi ngidam? Tiba-tiba pengen pudding buatan Mamih katanya." ucap sang Mamih menarik tangannya.


"Tapi jauh Mih, mana panas lagi." Elaknya yang masih enggan berangkat.


"Kan pake kang ojeg. Tuh Mamih udah panggilin kang eman. Udah nunggu tuh didepan." jelas Mamih "Udah buruan kamu siap-siap!" titahnya tak mau dibantah.


Ayrapun pasrah dengan perintah sang Mamih. "Iya deh.. Iya!" Iapun berjalan menuju kamarnya untuk bersiap dengan wajahnya yang ditekuk.


Tok..tok..tok


"Assalamualikum!" sahut Ayra dengan mengetuk pintu yang tertutup.


Terdengar dari dalam suara sang Kakak membalas salamnya, dan pintupun terbuka.


"Eh, Ay.. Yuk masuk!" Ajak kak Icha.


"Abang mana Kak?" Ayra menanyakan abangnya yang katanya lagi sibuk.


"Abang lagi di kamar mandi." Jawabnya sambil menuntun Ayra untuk duduk di sofa.


Baru saja pantatnya menyentuh kursi, suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Ay...bukain pintunya!" teriak Kak Icha dari dapur.


Ayra bergegas kembali ke depan dan mebuka pintu.

__ADS_1


Setelah pintu terbuka lebar, betapa terkejutnya Ayra mendapati siapa yang bertamu.


Matanya membola lebar tatkala melihat seseorang yang begitu tampan dengan senyumnya yang mengembang.


"Haii.. Ay!" sapanya dengan senyum yang tak pernah luntur.


Ayra masih terpaku tidak membalas sapaannya.


Sampai tangan seseorang melambai dihadapannya, Ia pun tersadar.


"Ay..kamu disini juga? Apa Agung nya ada?" tanyanya.


"Eh..Bang Ar. Iya.. Ada-ada mari masuk!" balasnya dengan salah tingkah.


Ayra mempersilahkan pujaan hatinya masuk dan menggiringnya ke sofa.


Sekuat mungkin Ayra mengontrol kewarasannya agar tidak terjadi seperti kemarin. Sangat memalukan.


Ia pun memberanikan diri untuk bertanya "Bang, mau minum apa?"


"Emm..gak usah deh, nanti ngerepotin." ucapnya dengan ramah.


"Wih bro.. Apa kabar?" bang Agung yang datang tiba-tiba langsung menyambar teman lamanya ini.


Mereka berjabat tangan, bersalaman ala pria.


"Aku baik. Kamu sendiri gimana?" tanya bang Ar.


"Ya. Seperti yang kamu lihat akupun baik." balas bang Agung.


Obrolanpun mengalir diantara keduanya, melupakan seseorang yang masih berdiri dengan terus tersenyum kearah mereka. Lebih tepatnya ke satu orang.


Hingga Kak Icha menepuk pundaknya barulah Ia tersadar.


"Kamu ngapain? Kenapa gak duduk?" tanya kak Icha yang heran melihat adik iparnya terus berdiri seperti patung.


"Eh.Iya kak!" jawabnya sambil berlalu duduk disebelah bang Ar lagi.


Kak Icha membawakan minuman dan cemilan, serta pudding yang dibawa Ayra tadi untuk tamunya.


Setelah ikut bergabung kak Icha memperhatikan gelagat aneh dari adik iparnya, Ia pun tersenyum misterius.

__ADS_1


"Oh ya Ar. Apa kamu udah punya pacar?" sela kak Icha ditengah obrolan para pria itu.


"Apa sii yang. Kok nanyanya pacar?" bang Agung yang emang bucin akut sama istrinya, merasa tidak terima sang istri tercinta menanyakan perihal pacar pada pria lain.


"Yey bang. Aku kan cuma nanya. Siapa tau belom, kan aku bisa comblangin sama seseorang" timpal kak Icha dengan melirik Ayra.


Ayra yang merasa dilirik jadi salah tingkah, dan membuang wajahnya kesamping. Dan sudah dipastikan wajahnya seperti apa.


"Jangan ngadi-ngadi deh, pen jadi makcomblang segala. Ardi ini udah punya pacar. Ya gak Ar?" bang Agung memberi penjelasan pada istrinya itu, dan sialnya sangat menusuk kehati sang Adik.


"Hemmm..iya!" timpal bang Ar.


Ayra yang mendengarnya tidak mampu untuk berbicara. Dia disadarkan kembali dengan kenyataan yang tak ingin dia akui.


Obrolan demi obrolanpun mengalir diantara mereka, terkecuali Ayra yang hanya jadi pendengar saja.


Tak terasa waktupun sudah sore, Ayra memutuskan untuk pulang.


"Kak aku pulang yah, udah sore nih." Izinnya pada sang kakak ipar uang sedang berkutat didapur.


"Kamu mau pulang naek ojek Ay?" tanya sang kakak.


"Iya.Kak. Disini pangkalan ojek sebelah mana ya kak?" tanya Ayra karna memang tak tau daerah itu.


"Jam segini mana ada ojek." jawab sang kakak.


"Lah terus aku pulang gimana dong?" tanyanya lagi "Bang anterin aku pulang yah!" teriaknya dari dapur pada sang Abang yang masih mengobrol dengan bang Ar diruang tamu.


"Motor abang masih dibengkel Ay, baru bisa diambil maghriban." jawab sang abang.


"Terus gimana dong?" tanyanya lagi sambil berjalan mengahampiri kedua pria tersebut.


"Kamu pulang bareng abang aja. Kebetulan abang juga mau pulang." bukan bang Agung tapi bang Ar yang menjawab.


"Emmm.. emang gak papa bang?" tanyanya yang entah mengapa merasa tak enak hati, karena sudah dua kali menyusahkan pujaan nya ini.


"Gak lah.. Ya udah Gung aku pulang dulu ya, tar kapan-kapan aku main lagi." pamit bang Ar pada bang Agung.


"Ya udah hati-hati, maaf malah ngerepotin!" timapl bang Agung.


Setelah berpamitan merekapun berjalan keluar untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2