Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 55


__ADS_3

Ketika pikirannya lagi kalang kabut, angkurawut, pabaliut. Tiba-tiba suara notif menyadarkan Ayra. Ia segera membuka notif pesan itu berharap seseorang yang tengah memenuhi otaknya menghubunginya. Namun nyatanya nihil.


Bukan pesan dari calon suaminya yang Ia dapat, namun dari seseorang yang ingin sekali Ia hindari. Satu pesan tak Ia baca, sampai suara notif terus mengganggu indera pendengarannya.


Ia pun mulai kesal dan membuka pesan demi pesan yang sudah berjejer itu.


Bang Rendi📤


Ay?


Bang Rendi📤


Bisa kita bertemu?


Bang Rendi📤


Mau ya?


Bang Rendi📤


Sebentar aja🙏


Bang Rendi📤


Abang gakan macem-macem


Bang Rendi📤


Abang cuma mau minta maaf!


**


Ayra hanya menghela nafasnya panjang dan membanting Hp nya dikasur, tanpa ingin membalasnya. Ia ikut merebahkan dirinya disana. Mencoba memejamkan matanya.


Kepalanya terasa berdenyut tatkala membayangkan calon suaminya yang tengah jalan dengan mantannya.


Dibayangkannya sang pujaan hati yang sedang melakukan ritual terakhiran dengan mantannya. Membuatnya benar-benar tak rela, Ia sampai menutup kedua telinga menggunakan kedua tangannya dan berteriak.


"TIDAK!!!!"


Mamih yang tengah beres-beres diruang tamu merasa terkejut mendengar teriakan anak gadisnya.


Mamihpun berlari dan membuka pintu kamar Ayra kasar.

__ADS_1


Braakk


"Ada apa Ay?" Tanya Mamih khawatir.


Hal itu tentu membuat Ayra ikut terkejut sampai terbangum dan mengusap dadanya kaget.


"Astagfirulloh. Mamih Paan sih? Kaget tau!" Omelnya pada sang Mamih.


"Kamu yang apaan? Teriak-teriak, mau bikin Mamih jantungan?" Omel balik Mamih berkacak pinggang diambang pintu.


"Paan sih Mih. Gak lah. Tadi tuh aku?" Ayra tak meneruskan ucapannya, bingung harus bilang apa pada Mamihnya.


"Oh ya Mih bang Ar udah datang belom?" Tanyanya mengalihkan perhatian.


Mamih hanya geleng-geleng kepala melihat putri bungsunya ini.


"Belom. Ini udah siang, kok dia belum jemput? Tante Diana pasti udah nunggu tuh!" Ucap Mamih.


"Bang Ar lagi ke mes dulu. Katanya mau anterin undangan sekaligus ngambil barang-barang yang ketingalan." Timpalnya.


"Yaudah kamu tunggu aja. Dan inget jangan teriak-teriak lagi bikin Mamih kaget aja." Pesannya sebelum kembali menutup pintu kamar putrinya dan di iyakan Ayra.


Setelah kepergian Mamih Ia kembali mengechek Hp nya, Ia coba kembali menelpon nomor kontak teratasnya. Namun hasilnya tetap sama.


Saking lelahnya memikirkan keberadaan calon suaminya. Ia sampai terlelap. Ia terlentang di kasur kingsize nya, tanpa selimut. Satu lengannya Ia tindihkan dikepalanya.


*


Fiuuhhh~


Terpaan nafas hangat yang mengenai wajahmya sukses membangunkannya. Ia mengerjapkan matanya perlahan dan mendapati wajah seseorang yang tengah menguasai otaknya persis tepat berada didepan wajahnya.


Ia tersenyum, Ia pikir ini hanya mimpi. Ia tangkup wajah itu dan mendaratkan bibirnya dibibir calon suaminya. Dikecupnya bibir itu lama. Tak ada balasan membuat Ia semakin berfikir itu mimpi.


Ia jauhkan wajah itu dan wajahnya berubah masam, bibirnya mengerucut.


"Enak ya yang udah terakhiran. Tuh bibir pasti bekasnya. Mana lupa belum aku bersihin, tapi udah terlanjur aku cium. Sayang banget aku gak punya mantan, jadinya gak bisa ngerasain terakhiran juga. Kamu tega banget sih bang." Cerocosnya membuat bang Ar tersenyum.


Bang Ar meraup bibir yang tengah cemberut itu, Ia lu mat, Ia gigit bibir bawahnya dan meloloskan lidahnya melesak kedalam rongga mulut Ayra mengabsen tiap inci didalamnya. Mengecapnya menikmati manisnya bibir yang selalu membuatnya candu itu.


"Apa yang kamu pikirkan tentang abang itu salah. Abang emang ketemu dia, tapi tak melakukan apa yang ada dipikiranmu. Dia emang minta abang peluk untuk terakhir kalinya tapi abang menolak. Karena apa? Karena abang gak akan nyentuh gadis manapun selagi abang berkomitmen dengan satu gadis. kamu harus ingat itu!" Tutur bang Ar jujur.


Membuat Ayra menarik leher bang Ar memeluknya erat. Bang Ar membalas mengusap pucuk kepalanya sayang.

__ADS_1


"Jangan tinggalin aku ya bang!" Lirihnya.


"Gak akan!"


Ayra melepas pelukannya dan ingin duduk, namun bang Ar mencekalnya.


"Bang jangan macem-macem! Ada Mamih diluar."


"Gak. Abang cuma mau satu macem."


"Isshh minggir gak? Aku masih marah sama abang." Ayra memalingkan wajahnya dan kembli cemberut.


"Kenapa?" Goda bang Ar.


"Abang perginya lama, terus nemuin mantan, dan kenapa juga mesti matiin Hp? Sengaja ya biar gak keganggu?" Omelnya.


Bang Ar merogoh celananya dan mengambil Hpnya. Diperlihatkan layar Hp nya pada gadisnya itu. "Nih! Hp nya lowbet sayang."


Ayra masih menekuk wajahnya. Bang Ar tak kehabisan akal Ia terus merayu gadisnya untuk tidak marah. Ia letakan Hpnya dinakas dan kembali mendekatkan wajahnya kewajah gadisnya.


"Abang gak nemuin dia. Abang abis beresin barang dimes. Udah mau pulang. Eh pas keluar abang ketemu teman abang terus kita ngobrol dulu. Pas lagi ngobrol dia dateng. Yaudah kita ngobrol dulu. Cuma ngobrol kok beneran." Ucapnya. Cara jitu untuk meyakinkan hati gadisnya ini hanya dengan kejujuran.


"Kamu gak percaya sama abang?"


"Iya aku percaya. Tapikan-" Belum selesai Ia bicara bibirnya kembali dibungkam calon suaminya itu. Ciuman yang awalnya lembut semakin menuntut. Bahkan tangan bang Ar sudah bergeliyara kesana kemari, hingga bertengger di dua gundukan favoritnya. Diremasnya lembut penuh perasaan.


Bang Ar yang awalnya duduk ditepi ranjang kini sudah beralih menindih tubuh langsing calon istrinya. Saat tangannya akan menyusup kebawah celana gadisnya, tiba-tiba ketukan dipintu membuyarkan konsentrasinya.


Tok..tok..tok..


"Ay cepetan udah mau sore! Tante Diana udah nungguin!" Teriak Mamih dari luar.


Bang Ar dan Ayra terdiam sejenak mendengarkan teriakan sang Mamih.


"Udah bang turun. Kita harus pergi!" Titahnya.


Bang Ar pun turun dan berdecak kesal hingga menjambak rambutnya kasar.


"Kita nikah siri aja dulu. Yuk!"


"Kita getok aja mak othornya. Lama bener, kita kagak juga cepet dikawinin."


*****************

__ADS_1


*Kasih votenya lah biar cepet dinikahin terus dikawinin🤣🤣🤣


__ADS_2