
"Bang! bangun!"
Ayra yang tengah tertidur pulas, tiba-tiba merasa lapar. Ia yang sempat menahannya akhirnya terbangun juga. Si Mama muda ini terus mengguncang tubuh sang suami untuk membangunkannya.
"Bang bangun dong! Aku laper!"
Bang Ar yang baru terlelap karena harus mengurus pekerjaannya, sampai harus lembur sampai tengah malam, akhirnya berusaha membuka matanya. Ia yang mendengar sang istri kelaparan tentu langsung siaga.
Ia membuka matanya perlahan untuk mengumpulkan separuh nyawanya yang masih melayang. Dengan kepala yang masih terasa berat, Ia pun mencoba untuk bangun dari tidurnya.
Ia elus kepala sang istri dengan mata yang masih mengerjap berat. "Iya sayang. Kenapa?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf ya bang! Ganggu abang tidur. Tapi aku laper!" Sesal Ayra. Ia tau sang suami pasti belum lama tertidur.
Bang Ar yang sudah membuka matanya lebar, tersenyum, Ia tangkup pipi chuby sang istri. "Gak papa sayang! Justru abang seneng, kamu mau bangunin abang. karena abang gak akan izinin kamu masak sendiri." Timpalnya membuat Ayra tersenyum.
Bang Ar beralih keperut sang istri yang sudah sedikit membuncit. Mencium dan mengelusnya lembut. "Sayang Papa mau makan apa hem?" Tanyanya membuat Ayra tertawa.
"Dede mau makan seblak!" Timpal Ayra dengan suara dibuat seperti anak kecil.
"Itu mah Mamanya kali." Bang Ar menarik hidungnya gemas membuat keduanya tergelak.
"Gak bang ini tu keinginan dede!" Elaknya.
"Masa?" Goda bang Ar.
"Iya. Dede yang ingin." Jedanya. "Ingin bantu Mama buat minta seblak sama Papa." Lanjutnya dengan kembali tergelak.
"Kamu tuh ya!" Bang Ar menarik pipi sang istri yang kian chuby. "Masa jam segini mau seblak. Ntar asam lambungnya naik lagi."
"Gak bang. Apa aja yang penting makan. Aku laper banget!" Timpalnya.
Bang Ar kembali mengelus perut sang istri sayang. "Kasihan, Dede laper ya? Papa masakin oke!" Ucapnya membuat si Mama muda tersenyum senang.
Keduanya turun dari ranjang dan keluar dari kamar menuju dapur.
"Mau makan apa?" Tanya bang Ar setelah keduanya sampai di dapur.
"Apa ya?" Ayra berfikir sejenak, makanan apa yang kira-kira enak dimakan dini hari seperti ini? Akhirnya Ia memutuskan untuk makan ini saja.
"Nasi goreng aja bang!"
"Oke!" Bang Ar tersenyum, ada rasa lega dihatinya karena sang istri tak meminta yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Yang komplit ya bang!" Ayra duduk dikursi sembari menunggu sang suami membuatkannya makanan dan dijawab acungan jempol dari sang suami.
"Pake baso sama sosis ya!" Pintanya yang dijawab anggukan suaminya. "Terus bang bawang merahnya jangan dibuat matang ya! Telurnya jangan dibikin ambyar, kecapnya dikit aja, pake sayur secuil, terus jangan dikasih micin juga!" cerocosnya membuat bang Ar menghela nafasnya panjang.
Alih-alih Ia sudah senang karena permintaannya hanya nasi goreng, eh ternyata tetap saja dalamnya penuh permintaan.
"Terus? Terus? Terus?" Ledek bang Ar.
"Ihh abang mah!" Membuat bang Ar tertawa.
"Lagian kamu sih! Kamu tau gak kita udah kaya tukang."
"Tukang apa?"
"Kamu kang parkir, abang kang nasgor!" Keduanya pun tergelak.
"Kamu pelan-pelan ngasih taunya, abang bukan koki!" Pinta bang Ar membuat Ayra tak berhenti tertawa dan diiyakan olehnya.
Selang beberapa menit nasi goreng ala Papa muda pun sudah siap dihidangkan. Saat bang Ar tengah menyajikannya dipiring, si Mama muda sudah berdiri di balik punggung sang suami.
"Aaa! Bang!" Pintanya membuat bang Ar terkejut.
"Kamu tu!" Bang Ar sampai mencubit hidungnya. "Bikin kaget aja!"
"Iya, ntar abang suapin. Ayo duduk dulu!" Bang Ar menarik tangan sang istri untuk mengikutinya duduk dimeja makan.
Dengan telaten bang Ar menyuapi sang istri yang begitu lahap. Semenjak hamil Ayra memang lebih banyak makan. Tak jarang Ia selalu membangunkan sang suami ditengah malam seperti ini. Namun si Papa siaga tak pernah mengeluh. Ia begitu senang dengan segala permintaan si Mama muda ini.
Dan hal itu dibuktikan dengan si Papa yang selalu siap disituasi apapun, bahkan saat lelah menyerang pun Ia selalu menuruti semua keinginan sang istri dan calon baby nya.
Begitupun dengan si Mama muda, selain perutnya yang semakin bulat. Pipinya pun kian membulat. Ayra yang memiliki body goals sekarang berubah seiring berkembangnya janin didalam rahimnya.
Namun itu tak menjadi masalah buat si Mama muda ini. Baginya asal baby nya sehat, Ia tak peduli dengan penampilan tubuhnya. Begitupun untuk sang suami, menurutnya penampilan sang istri semakin hari semakin sexy.
"Udah bang! Aku kenyang!" Ayra meghentikan suapan suaminya.
"Dikit lagi yang. Tanggung ini!" Bang ar menyodorkan lagi sendoknya.
Ayra menghentikan sendoknya dan mengambil alih sendok ditangan sang suami. "Aaa!" Ia malah menyuapkannya kemulut sang suami.
Bang Ar pun pasrah dan menerima suapan dari sang istri. Namun tanpa Ia duga, Ayra justru meraup bibirnya dan mengambil nasi yang sudah didalam mulutnya, membuat keduanya tergelak.
"Mama nakal ya!" Bang Ar membersihkan bibir sang istri dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Dede yang pengen Pa!" Timpalnya dengan suara dibuat kecil. Membuat keduanya kembali tertawa.
Tak lupa bang Ar menyiapkan segelas air putih dan juga susu ibu hamil untuknya.
"Nih! Minum dulu!" Bang Ar menyodorkan air minumnya dan susunya juga. Ayra pun segera meminumnya hingga tandas.
"Alhamdulillah!"
"Gimana udah kenyang gak?" Tanya bang Ar.
"Udah Papa! Sekarang Dede udah kenyang!" Timpalnya.
"Sekarang giliran Papa yang makan!"
"Makan? Kenapa masaknya cuma sedikit kalo abang juga mau?" Tanya Ayra.
"Abang mau makan yang lain." Timpalnya menyeringai, membuat Ayra tertawa dan menyodorkan tangannya meminta sang suami menggedongnya.
Bang Ar menggendongnya ala brigde style, Ayra mengalungkan tangannya dileher sang suami. Dengan canda dan tawa keduanya berjalan kembali ke kamar.
"Aku makin berat ya bang?" Tanya Ayra.
"Sekarang kan berdua jadi pasti berat." Timpal bang Ar.
"Udah gak langsing lagi ya?" Kekeuh Ayra.
"Gak papa, buat abang kamu tetap cantik." Ucapnya. "Semakin sexy!" Bisiknya dengan menggigit telinga sang istri manja. Membuat Ayra menggigit bibir bawahnya.
Dan hal itu seperti sebuah sinyal untuk sang suami untuk meraup manisnya bibir yang semakin hari semakin memabukkan itu.
Bang Ar menidurkan sang istri dikasur tanpa melepaskan pagutannya. Satu tangannya ia tumpu untuk menopang beban tubuhnya dan satu tangannya lagi sudah mulai membuka kancing piyama sang istri. Seperti sudah punya tugasnya sendiri, si tangan begitu lihai membuka setiap kain ditubuh istrinya.
Tak perlu waktu lama, semua kain dari tubuh keduanya sudah berhamburan tak tentu tempat. Bang Ar mennciumi perut buncit sang istri tanpa kain itu dan mengelusnya lembut.
"Dede udah kenyang ya?" Tanyanya membuat Ayra tertawa.
"Sekarang giliran Papa."
"Ngapain?" Goda Ayra.
"Buat nengok dede!" Balasnya den langsung menyerang si ibu hamil itu.
********************
__ADS_1
Ayo makin ramaikan! Kasih like, komen dan votenya. Tabur-tabur bunga juga ya! Biar bang Ar semangat nengok dede nya😁😁