
Gubrakk!!!
Bang Ar yang mendengar sang istri dinyatakan positif langsung tak sadarkan diri. Kondisinya yang masih lemah tentu menjadi faktor penyebabnya. Semua orang panik dan langsung membawanya ke ruang perawatan.
Setelah dipindahkan keruang perawatan, bang Ar masih belum juga sadar. Ia ditemani Ayah dan Papihnya. Sementara Ibu dan Mamih menemani Ayra untuk melanjutkan pemeriksaan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk pemeriksaan karena kondisi janin dan si calon ibunya memang sehat. Berhubung usia kandungannya baru menginjak tiga minggu, jadi belum ada pemeriksaan khusus.
Ketiga wanita itu pun kembali keruang rawat bang Ar, untuk memastikan keadaan si calon Papa itu. Saat masuk mereka mendapati bang Ar yang belum sadarkan diri. Namun senyum terukir dari kedua pria paruh baya disana kala melihat anak dan mantunya yang membawa kabar bahagia itu.
Ayra berjalam menghampiri sang suami yang terbaring lemah diatas brankar. Ia ambil tangannya dan mengeluskannya keatas perut ratanya.
"Bang bangun! Lihat doa kita semalam terkabul." Ia terus menggerakan tangan suaminya untuk mengelus perutnya.
"Abang bangun dong! Apa abang gak seneng hasil bikin part kita udah jadi?" Tanyanya sendu dan menunduk.
Dengan perlahan mata bang Ar terbuka. Seulas senyum Ia berikan, namun tak disadari sang istri. Bang Ar menggerakkan tangannya diperut rata istri tercintanya itu membuat Ayra tersadar.
Ia mendongakan wajahnya dan tersenyum melihat sang suami yang tersadar. "Abang!" Ayra berhambur memeluk suaminya yang terbaring. Bang Ar mengelus kepala istrinya sayang menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Rasa syukur dan bahagianya mengalahkan rasa pusing dikepalanya.
Ayra melerai pelukannya dan membantu sang suami untuk bangun. Senyum bahagia terus terukir dari keduanya. Ia usap pipi sang istri dan beralih ke perut ratanya.
"Makasih sayang! Makasih! Abang bahagia! Abang akan jadi Papa! Jadi Papa."
Bang Ar kembali menariknya kedalam pelukannya. Melayangkan ciumannya pada wajah sang istri bertubi-tubi, bahkan Ia lupa dengan kedua orangtua dan mertuanya yang tengah ikut bahagia menyaksikan kebahagaiaan mereka.
Air mata keduanya luruh begitu saja. Kebahagiannya begitu berlipat ganda. Apa yang mereka inginkan terkabul dengan begitu cepat. Hasil silaturahmi bikin part mencari pahalanya berbuah nyata.
Kedua emak-emak pun tidak bisa menyembunyikan tangis bahagianya, keduanya berpelukan meluapkan rasa bahagianya tatkala mereka akan segera menjadi nenek. Apalagi sang Mamih, dalam waktu dekat Ia akan mendapatkan dua cucu sekaligus dari kedua putra putrinya.
Ayah meghampiri keduanya. "Selamat ya Ar, Ay! Ayah ikut bahagia. Bentar lagi beneran gendong cucu nih!" Ucap Ayah menepuk bahu putra kesayangannya itu dengan senyum dan kekeuhannya.
Papih pun ikut menghampiri keduanya. "Selamat untuk kalian berdua. Papih juga ikut bahagia!" Ucap Papih mengusap kepala putri bungsunya. "Bentar lagi putri Papih jadi seorang Ibu, jangan manja lagi ya!" Kekeuhnya, disambut pelukan Ayra diperutnya.
"Makasih Papih. Aku akan berusaha jadi Ibu dan istri yang baik!" Ucapnya dan dijawab elusan sayang oleh cinta pertamanya itu.
__ADS_1
Ayra beralih ke Ayah mertuanya menyambut tangannya dan menyaliminya takzim. "Makasih Ayah. Doakan kami agar selalu sehat dan bahagia. Begitupun Kalian, selalu sehat dan bahagia yah!" Ucapnya dan diiyakan Ayah dan usapan sayang dikepalanya.
Bang Ar hanya tersenyum melihat kebahgiaan didalam keluarganya ini. Bahkan rasa bahagianya tak mampu Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Kini giliran calon nenek-nenek yang memberi selamat pada putra putri mereka.
"Sayang Mamih bahagia banget. Kamu bakal jadi Mamih juga!" Ucap Mamih memeluk erat putri bungsunya ini.
"Ihh.. Mamih! Aku gak mau jadi Mamih." Protesnya membuat Mamih menaikan alisnya sebelah. "Aku tu maunya jadi Mama ya kan Papa?" Tanyanya pada sang suami.
Semua tertawa mendengar penuturan si calon Mama ini. Ternyata keduanya sudah mepersiapkan panggilan baru untuk diri mereka sendiri.
"Ya deh. Mama muda." Goda Mamih disambut senyum bahagia oleh Ayra.
"Selamat ya sayang! Ibu doakan kalian selalu, sehat, bahagia dan lancar sampai hari H tiba." Ucap Ibu sembari mengelus perut rata sang mantu.
Ayra berhambur memeluk Ibu mertua serasa Ibunya sendiri itu, mendekapnya erat. "Makasih Ibu!"
Ibu pun membalas dengan mendekapnya dan mengelus rambutnya sayang.
Disepanjang perjalanan pulang, bang Ar dan Ayra yang duduk dibelakang nampak begitu bahagia. Bahkan bang Ar tak melepas genggaman tangan dan rangkulannya dibahu sang istri dengan istrinya yang terus bersandar didada bidangnya. Ia sudah tak peduli dengan kedua mertuanya yang terus meledek mereka, karena tingkah keduanya itu.
Papih dan Mamih hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Seperti dejavu hal yang pernah mereka rasakan dulu, kini mereka lihat pada putra putri mereka.
Tak berselang lama mobilpun sampai. Mereka turun dari mobilnya. Bang Ar tak melepas barang sedikitpun tangan sang istri. Satu tangannya merangkul pinggananya posesif.
Kedatangannya langsung ditodong pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang sudah siap menyambut mereka.
"Giman-gimana?"
"Bagaimana hasilnya?"
"Kenapa lama?"
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Mereka yang menunggu sejak tadi, dibuat penasaran dengan kepergiam mereka yang cukup lama.
Ayra dan bang Ar hanya tersenyum menanggapi semua pertanyaan mereka.
"Malah senyam senyum? Gimana?" Tanya Feby penasaran. Pasalnya Ia dan Siska sudah membuat taruhan untuk berita yang akan mereka dengar.
"Jeng...jeng!!" Ayra melihatkan benda pipih yang Ia bawa.
"Dua garis merah!" Timpal Agel sampai membekap mulutnya.
Semua orang bersorak sorai menyambut kebahagiaan sepasang pengantin yang sudah tidak baru itu lagi. Satu persatu memberi ucapan selamat pada keduanya.
"Akhirnya Ay! Gue ada temennya. Tar kita bisa periksa bareng, shoping baju baby bareng, terus tar kalo dah lahir, kita mainnya bisa bareng. Apalagi ni ya, kalo baby lu cewek, kita jodohin." Cerocoa Rila dengan hebohnya.
"Iya! Iya. Tapi jangan main jodoh-jodohan lah. Gimana diatur sama authornya aja. Yang penting baby kita sehat-sehat ya!" Timpal Ayra.
Kebahagiaan begitu terlukis dari semua orang disana terkecuali Siska. Bukan karena Ia tak ikut bahagia dengan kehamilan Ayra yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Namun karena Ia kalah taruhan dengan Feby.
"Udah lu kalah. Lu harus bikin seblak super hot buat gue!" Ucap Feby pada Siska dan dijawab cebikan bibir olehnya.
Semua tertawa dengan tingkah keduanya.
Bang Ar mengajak sang istri kekamar untuk istirahat. Keduanya meninggalkan kumpulan orang-orang yang tengah bahagia dihalaman luar.
"Apa abang bahagia?" Tanya Ayra yang tengah berdiri menghadap sang suami yang tengah duduk disisi ranjang.
Bang Ar terus menciumi perut rata istrinya. "Sangat! Bahkan abang gak tau harus berucap apa? Kebahagiaan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Dan hanya satu yang bisa abang ucap untuk mewakili semua rasa yang ada dihati abang."
"Apa?" Tany Ayra
"Alhamdulillah." Ucapnya bersyukur, hingga senyuamn mengembang terukir dari bibir keduanya.
***************
__ADS_1
Mari-mari ramaikan! Jangan lupa like, komennya ya! Kasih vote dan taburan bunganya juga boleh😊