
"Karena ini!"
Semua orang melongo melihat benda pipih yang dibawa Agel.
"Itu?"
"Ini punya lu Feb!" Timpal Agel dan mengasongkannya dimeja.
"Kok bisa sama lu?" Tanya Feby heran.
"Jadi tadi tuh gue mau ajak lu jalan. Kata Ibu lu ada dikamar, ya udah gue masuk aja! Eh lu nya gak ada. Dan gue lihat benda itu di kasur lu, gue ambil lah. Gue tau kalo sampe ibu lu yang lihat, bisa berabe urusannya." Tutur Agel dan dijawab anggukan mereka.
"Makasih ya gel, lu emang ngerti banget! Karena panik gue sampe luapin itu." Tutur Feby dan diiyakan Agel.
"Oh iya, tadi gimana? Kalian beneran akan segera nikah?" Tanya Agel dan dijawab anggukan pasangan itu.
"Tapi gue bingung, gimana caranya bilang sama orangtua gue?" Tanya Feby.
"Kamu ga usah khawatir aku akan bicara sama mereka." Timpal Rio.
"Kalau menurutku kalian minta izin buat nikah aja. Jangan dulu membahas soal kehamilan!" Timpal bang Ar.
"Iya, apalagi Ayah belum restuin kalian. Takut terjadi hal yang gak diinginkan juga sama mereka, kalo tau keadaan lu." Timpal Ayra.
"Gue setuju. Kalian minta restu baik-baik, pengen segera nikah. Terus lu juga yo, harus bilang juga sama orang tua lu buat segera melamar Feby. Pokoknya jangan dulu ada pembahasan soal hamil. Cukup kita aja yang tau. Biar nanti mereka tau setelah kalian sah menikah! Gimana?" Tutur Agel dan dijawab anggukan mereka.
Rio menangkup wajah sang kekasih yang menunduk sendu. "Udah kamu jangan sedih lagi. Kamu gak sendiri. Ini adalah tanggung jawab aku. Aku akan lakuin cara apapun buat dapat restu Ayah. Apapun yang terjadi, tetaplah disampingku!" Tuturnya dan dijawab anggukan Feby.
Rio menariknya kedalam dekapannya. Mengelus rambutnya dan menciumi pucuk kepalanya. "Maafin aku ya! Harusnya aku bisa menahannya."
"Gak! Kamu gak salah, kita lakuin ini atas dasar sama suka. Kita akan hadapi ini bersama." Timpal Feby. Dan Rio semakin mengeratkan dekapaannya.
Ketiga orang yang menyaksikan itu tersenyum. Bagai dejavu kedua wanita itu mengingat kembali akan satu sahabatnya Rila, Ia justru bahagia dengan keadaannya. Bahkan terkesan hobah saat mengetahui dirinya hamil.
"Kok gue jadi inget si Rilril ya?" Tanya Ayra.
"Iya. Gue juga!" Timpal Agel membuat keduanya tertawa.
Rio melerai pelukannya mengelus lembut pipi sang kekasih dan menyelipkan anak rambut yang menjuntai menghalangi pipi mulusnya.
__ADS_1
"Sekarang kita kerumah kamu!"
"Ngapain?"
"Numpang makan! Ya minta restu lah." Timpal Rio membuat ketiga orang didepannya tergelak.
Ternyata Rio masih tetap Rio yang sama, dibalik sikap manisnya, masih terselip sikap arogannya.
"Isshh mau minta restu sama siapa. Ayahnya juga belum pulang?" Timpal Feby.
"Gak usah buru-buru juga. Tar malem baru kalian bicarakan!" Timpal bang Ar dan dijawab anggukan dua wanita disampingnya.
Akhirnya setelah lama berdiskusi tentang rencana dan strategi untuk meluluhkan hati Ayah Feby, mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama.
**
Malam harinya Feby memberaniakn diri untuk meminta restu pada kedua orang tuanya. Kini mereka tengah berkumpul diruang keluarga. Hanya mereka bertiga karena sang adik tengah belajar dikamarnya.
"Yah, bu aku mau bicara sesuatu." Ucap Feby ragu-ragu.
"Apa nak?" Tanya Ibu dengan lembut.
Ibu mengangguk menggenggam erat tangannya, namun Ayah masih tetap bergeming. Membuat Feby menghela nafasnya pelan.
Ia menggenggam tang sang Ayah. "Aku gak tau apa yang menjadi alasan Ayah tak menyukai Rio, tapi aku mohon sama Ayah restui kami. Aku mencintainya Yah. Aku ingin menikah dengannya." Tuturnya.
Ayah menoleh "Menikah?" Tanyanya menaikan satu alisnya dan dijawab anggukan kepala olehnya.
"Kenapa kamu harus pilih dia Feb. Kenapa bukan Ivan, dia jauh lebih baik. Hidupmu juga lebih terjamin?" Lanjutnya.
"Jadi itu yang jadi masalah buat Ayah? bang Ivam mungkin lebih menjamin dari segi materinya, tapi hati?" Feby menggelengkan kepalanya.
"Feb Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu. Coba kamu pikirkan lagi baik-baik! Kita semua sudah tau bagaimana Ivan dan juga keluarganya. Sedangkan Rio, kita gak tau bagaimana dia juga keluarganya."
"Ayah gak akan tau, karena Ayah gak kasih kesempatan Rio buat ngenalin dirinya. Aku tau siapa Rio, dia pria baik! Keluarganya juga baik padaku." Timpal Feby.
Ayah hanya menghela nafasnya. Bukan maksud mau membandingkan hanya Ia tak percaya begitu saja pada lelaki yang baru Ia kenal. Ia sudah terlanjur respek pada anak tetangganya, bahkan dari dulu Ia mengharapkannya menjadi mantunya.
Ibu hanya jadi pendengar yang baik disana. Ia tau keras kepala keduanya sangatlah sama. Tak akan ada yang mau mengalah diantara keduanya.
__ADS_1
Ketika mereka tengah terdiam, menekan egonya masing-masing agar bisa berpikir dengan jernih. Suara ketukan pintu membuyarlan lamunan mereka.
Ibu beranjak kedepan membuka pintu untuk tamunya.
"Asslamualaikum bu!" Sapa seorang pria mencium tangannya takzim.
"Walaikumsalam!" Jawabnya tersenyum pada ketiga orang didepannya dan mempersilahkannya masuk.
Ketiganya masuk dan dipersilahkan duduk disofa ruang tamu. Ayah dan Feby pun menghampiri mereka. Jarak dari ruang tv dan ruang tamu yang hanya diskat tentu membuat mereka tau siapa yang bertamu.
Rio menyalimi takzim tangan Ayah kekasihnya. Begitu pun kedua orang tuanya yang ikut menyapa dan saling menjabat tangan. Sedikit ada basa basi menanyakan kabar terlebih dahulu sebelum mereka mengutarakan keinginannya.
"Maaf mengganggu bapak dan keluarga disini. Saya dan keluarga datang kemari untuk meminang putri sulung bapak." Tutur Papa Rio memulai prngutaraan maksudnya.
Ayah terdiam sejenak, melirik kearah sang putri. Feby memberikan tatapan memohon pada sang Ayah.
"Bagaimana pak?" Tanya Papa Rio lagi.
"Saya sih terserah putri saya." Penuturan Ayah sukses membuat Feby tersenyum lebar. "Tapi apakah nak Rio bisa membahagiakannya?" Tanya Ayah membuat senyum Feby surut.
"Tentu. Saya akan berusaha membahagiakannya." Timpal Rio tegas.
"Satu lagi. Kenapa nak Rio memilih putri saya untuk menjadi pendamping hidup? Padahal banyak gadis diluaran sana yang lebih baik dari putri saya. Bahkan Feby buka gadis anggun seperti idaman semua lelaki?" Tanya Ayah membuat Feby disampingnya mencengkram paha sang Ayah.
"Karena dia adalah Feby. Hanya dia satu-satunya gadis yang merubah hidup saya jadi lebih baik." Timpalnya tersenyum kearah sang kekasih membuat Ia tersipu.
"Seperti kata Ayah, aku pun begitu. Bukan pria idaman semua gadis, tapi hanya Feby yang mengakui itu." Lanjutnya.
Membuat semua orang tersenyum, namun Ayah hanya menghela nafasnya pasrah. Sepertinya Ia harus mengalah untuk kebahagiaan putri sulungnya itu.
"Baiklah jadi kapan?" Tanya Ayah.
"Apanya?" Tanya Feby ragu
"Kalian menikah?" Pertanyaan sang Ayah sukses membuatnya melebarkan senyumnya.
***************
Ayo tinggalkan jejak kaleeannn! Tinggalkan komentar kalian, biar hanya kata next!
__ADS_1
Yuk ramaikan kolom komentarnya!😊