
Terik mentari pagi mengahangatkan sepasang manusia diatas kuda besi yang ditumpanginya. Namun tak mampu mengalahkan hangatnya pelukan seorang gadis pada tubuh sang pujaannya.
"Bang?" Tanya Ayra mendongakan wajahnya kesamping.
Karena laju motor pelan bang Ar mampu mendengarnya.
"Iya!" Jawab bang Ar melirik sekilas ke samping dan kembali fokus.
"Apa bener abang udah putus sama pacarnya?" Tanyanya setengah berteriak. Biar kedengeran. Pikirnya.
"Hmm..Iya! Kenapa emang?" Jawab bang Ar dengan suara agk keras.
"Gak. Takutnya tar marah. Tar akunya di sleding." Timpalnya cekikikan.
Bang Ar tersenyum mendengar penuturannya. Bang Ar semakin memelankan laju kendaraannya.
"Ya gak lah. Gak bakalan ada yang marah. Justru abang yang takut. Bawa pacar orang sembarangan!" Jawabnya.
"Siapa yang punya pacar? Aku single loh bang!" Timpal Ayra dengan bangga.
"Jomblo kali?" Goda bang Ar.
"Issshh abang mah. Yang keren dikit napa? Berasa gak laku banget aku tuh. Eh! Tapi emang iya." Ayra ketawa dengan penuturannya sendiri.
Bang Ar ikut ketawa pelan mendengarnya. "Tapi yang kemaren?" Tanya bang Ar.
"Apa?"
"Yang pengen duduk bareng di kafe tuh?" Tanya bang Ar dengan nada menggoda.
"Bang Rendi?" Tanya Ayra memastikan.
"He'em"
"Oh...Kalo itu cuma salah satu fans aku, bang!" Jawabnya.
"Itu berarti kamu salah kalo bilang kamu gak laku. Buktinya tuh banyak banget fansnya?" Tanya bang Ar lagi.
Ayra malah ketawa mendengarnya. "Paan sih bang biasa aja. Lagian aku gak pernah nanggepin mereka."
"Tetep aja! Banyak saingannya." Ucap bang Ar membuat tawa Ayra berenti.
"Kenapa bang?" Tanyanya serius.
"Ah! Nggak. Kita udah mao sampe tuh." Jawab bang Ar mengalihkan perhatian.
Entah kenapa ada rasa takut untuk melangkah lebih jauh. Takut kembali tak bisa menggapainya?
__ADS_1
Motor pun sampai ditempat tujuan. Tempat yang membentang hijau dengan udara yang begitu sejuk. Terpapar luas didepan mata.
Ayra turun dari motor. Ia merentangkan tangannya menghirup udara yang menenangkan dengan memejamkan matanya.
Bang Ar berdiri disisinya, memasukan kedua tangannya disaku celana. Ia pandangi dalam-dalam wajah gadis disampingnya.
Begitu cantik. Bang Ar menyunggingkan senyumnya, menikmati pemandangan indah disampingnya dengan detak jantungnya yang kembali tak menentu.
'Pantaskah aku meraih hatimu? Sedangkan kamu terlalu sempurna untuk ku raih!' Batinnya.
"Seger ya bang?" Tanya Ayra.
"Hemm..iya! Kamu suka?" Bang Ar terus menatap kearah Ayra.
"He'em" Jawab Ayra disertai anggukan dengan matanya terus terpejam dan senyumnya yang begitu manis.
Rambut gelombang Ayra yang tergerai terombang ambing terbawa angin. Semakin menambah pesona Ayra dimata bang Ar.
Bagai terhipnotis, Bang Ar mengangkat tangannya menyelipkan rambut Ayra ditelinganya dengan sedikit memiringkan wajahnya untuk bisa melihat cipataan Tuhan yang begitu indah.
Ayra membuka pelan matanya, merasakan sentuhan tangan bang Ar mengenai pipinya. Kedua mata mereka bertemu, saling mengunci.
Entah dorongan dari mana bang Ar semakin mengikis jaraknya hingga...
"Ar.. Kamu udah sampai?" Seseorang mengalihkan perhatian keduanya.
Ia berdehem untuk menetralkan perasaanya yang gugup. Bagaikan tercyduk.
Begitupun Ayra Ia segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba terasa terbakar.
Seorang wanita paruh baya mrnghampiri keduanya.
"Kenapa baru nyampe? Eh ini.." Tanya Ibu Anita dan beralih melirik gadis cantik disamping putranya.
"Emm.. Ini Ayra bu. Masih ingetkan?" Jelas Ardi.
Ayra mendongakan wajahnya menatap Ibu Anita dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ibu. Apa kabar?" Tanyanya dengan menyalimi takzim tangan Ibu.
Ibu tersenyum melihat gadis ramah yang Ia temui dulu. "Ibu baik. Kamu gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah aku juga baik bu." Jawabnya dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Ibu seneng deh bisa bertemu kamu lagi. Disini dingin, ayo kita kerumah!" tutur Ibu mengajak Ayra dan bang Ar ke rumah yang sengaja dibuatnya dekat perkebunan.
Ayra hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah Ibu yang sudah menggandeng tangannya. Bang Ar hanya mengikuti kedunya dari belakang.
__ADS_1
Sesampainya disebuah rumah sederhana namun begitu nyaman dengan halaman yang begitu luas, dihiasi berbagai macam tanaman.
Mereka segera masuk kedalamnya. Ayra dipersilahkan duduk diatas kursi diikuti oleh bang Ar.
"Ibu buatin minuman dulu ya!" Pamit Ibu Anita.
"Emm..Gak usah repot-repot bu!" Pinta Ayra tak enak hati.
"Udah gak papa, kamu istrihat dulu sama Ardi ya!" Titahnya.
Ayra hanya menganggukan kepalanya.
Entah kenapa ditinggal berdua seperti ini, membuat keduanya merasa canggung.
"Ehemm... Apa kamu mau istirahat dikamar?" Tanya bang Ar memulai obrolan.
"Emmm..Gak usah bang disini aja." Jawab Ayra menundukkan kepalanya merasa malu dengan apa yang terjadi tadi.
"Maaf ya!" ucap Bang Ardi sukses membuat Ayra menoleh.
"Untuk apa?" Tanya Ayra dengan mengerenyitkan dahinya.
"Untuk yang tadi. Abang gak maksud bu-" Ucapan bang Ar terpotong.
"Udah gak papa bang!" Jawab Ayra dengan mencoba untuk tersenyum. Ada rasa kecewa dihatinya. Entah karena bang Ar yang tiba-tiba berani, meski dengan status yang belum jelas. Atau kecewa karena tidak jadi.
Bang Ar ikut tersenyum. Sejujurnya Ia merasa bersalah sudah berani kurang ajar pada gadis cantik disampingnya. Namun Ia pun tidak bisa mengendalikan perasaannya.
'Apa aku udah jatuh cinta padanya?'
"Nih. Diminum dulu!" Ibu menghidangkan dua cangkir teh dengan cemilannya.
"Makasi bu." Ayra pun meminum minumannya.
"Kamu tunggu disini bentar ya. Abang mau nemuin Ayah dulu!" Pamit bang Ar yang hanya dijawab anggukan oleh Ayra.
Setelah kepergian bang Ar, Ibu mulai mengajak Ayra mengobrol.
"Apa kalian pacaran?" Ibu sudah gatal ingin sekali menanyakan itu dari sejak melihat keduanya di perkebunan tadi.
"Gak bu. Kita temen." Jawabnya malu-malu.
"Yah, padahal Ibu berharap kalian pacaran." Ujar Ibu senyum-senyum memperhatikan ekspresi wajah gadis dihadapannya.
'Pengennya sih gitu bu.' ingin sekali Ia menjawab, namun hanya mampu keluar dalam hati.
Ayra benar-benar dibuat malu karenanya, Ia hanya menundukan kepalanya dengan melipat bibirnya.
__ADS_1
**************