Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 First kiss


__ADS_3

Dikediaman bang Ar, Kini seluruh penghuni rumah tengah bersiap untuk mengadakan makan malam. Aska masih belum pulang, meski timomnya sudah ngomel-ngomel untuk menyuruhnya segera pulang. Namun Mama Ay memaksanya untuk ikut makan malam terlebih dahulu.


"Timom kamu itu posesif banget. Masa cuma mau makan disini aja pake ngomel segala?" Protes Mama Ay, yang tengah menyendokan makanan untuk sang suami.


"Namanya juga sama putra sendiri Ma. Kamu juga kalo si Aka lagi dirumah neneknya, sama meriweuh nya tuh kek Siska." Balas bang Ar.


"Ya tapi kan aku gak gitu-gitu amat bang! Biasa aja." Elaknya dengan mendudukan diri dikursinya setelah menyendokan juga makanan pada piringnya.


Bang Ar tersenyum melihat tingkah sang istri. Tak sadar aja, dirinya lebih posesif dari kakak iparnya itu. Mungkin karena Aska sudah seperti putranya sendiri, sang istri jadi ingin memberi perhatian lebih padanya. Ada rasa kurang suka, orang lain ikut posesif padanya. Meski itu orang tuanya sendiri.


"Udah! Buruan makan!" Finalnya membelai rambut sang istri, sebelum mereka memulai makannya.


Anak-anaknya pun sudah mengerti, setelah kata terakhir sang Papa tak ada yang berani melayangkan protesan apapun. Itu sudah menjadi salah satu undang-undang wajib yang harus diltaati para penghuni rumah. Merekapun menikmati makanannya tanpa sepatah katapun.


Setelah selesai makan, Aska benar-benar harus pulang. Kepergian sang Papih keluar kota membuat Ia harus menjadi bodyguard untuk kedua wanita tercintanya.


"Aka beneran mau pulang?" Tanya Sena yang duduk dibahu sofa disamping sang kakak.


"Iya de. Timom bisa ngamuk kalo aka nginep disini." Jawabnya terkekeh dan sukses membuat Sena tertawa. Sudah kebayang gimana tanggapan ibu cerewet itu.


"Aku titip ini dong buat Kia." Ucap Sena seraya memberikan paper bag kecil padanya.


"Apa ini?" Tanya Aska penasaran.


"Udah aka gak perlu tau. Itu tuh urusan cewek. Aka mana ngerti." Balasnya dan disambut senyum oleh Aska serta usekan gemas dipucuk kepalanya.


Hal itu tentu menjadi perhatian Abi yang duduk disofa sebrang yang terhalang meja. Ia tersenyum sinis melihat itu. Hingga Ia bangkit dan memilih meninggalkan pemandangan yang menyesakkan dadanya itu.


"Ya udah aka pulang ya!" Pamit Aska dan dijawab anggukan sang adik.


"Iya kak! Hati-hati udah malam ini." Pesan Sena.


"Iya tenang aja. Oh iya, besok aka jemput ya!" Ucapnya.


"Gak usah kak! Aku bareng Abi aja." Tolak Sena. Membuat sang kakak menaikan satu alisnya.


"Beneran kak! Udah aka juga harus antar Kia dulu kan. Biar aka gak bolak balik juga, aku bareng sama Abi aja." Jelas Sena membuat sang kakak menghembuskan nafasnya panjang. Dengan sedikit menahan kesal Ia pun akhirnya pulang setelah berpamitan pada Papa Ar dan Mama Ay.

__ADS_1


**


Sena berlalu menaiki tangga hendak memasuki kamarnya. Namun langkahnya berhenti kala melihat pintu balkon yang terbuka. Ia berencana ingin menutup pintu tersebut. Namun baru saja tangannya ingin menyeret pintu kaca tersebut. Atensinya terarah pada sosok yang tengah duduk dikursi santai seorang diri.


Sena menghampirinya. Tentu Ia tau siapa yang tengah duduk anteng dengan pensil dan layar persegi ditangannya.


"Lu lagi ngapain?" Tanya Sena yang ikut mendudukan diri dikursi yang dapat berayun, yang untungnya muat dua orang itu.


"Hem!" Hanya gumaman yang keluar dari bibir yang sangat irit mengeluarkan kata itu.


Sena melongokan wajahnya. Hingga matanya membola sempurna melihat sesuatu di dalam layar tersebut.


"I-ini?" Tanyanya shok seraya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Abi melirik kearah sang gadis hingga menarik satu sudut bibirnya.


"I-ini beneran gue?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukan Abi.


"Mmhhh!! Cantik banget." Pekiknya kegirangan.


"Makasih bi, Makasih!" Ucapnya dengan memeluk erat tubuh tegap itu, dan Abi pun membalasnya seraya membelai rambut panjangnya dan menghirup dalam-dalam aroma rambut sang gadis.


Sena melerai pelukannya. Ia beralih meraih tablet dari tangan Abi dan melihat sketsa dirinya terpampang cantik dilayar itu dengan senyum yang tak luntur dari bibir manisnya.


Tangan Abi terulur mengusek pucuk kepalanya gemas. Hingga Sena menoleh kearahnya. Abi mendekatkan wajahnya dan tersenyum. Hal itu tentu membuat Sena termangu melihat lengkungan manis itu.


"Apa lu suka?" Tanyanya dan hanya dijawab anggukan Sena yang masih terpaku.


"Lu tau? Setiap hari tangan gue gak bisa berhenti buat gambar itu." Ucapnya terkekeh. Entah kemana jiwa Sena sekarang yang jelas Ia begitu terpesona melihat keajaiban itu.


Abi kian mengikis jarak hingga membuat Sena terkesiap kala hidung keduanya bersentuhan. Sena gelagapan hendak melepaskan diri, bamun Abi menahannya.


"L-lu mau apa?" Tanya Sena tergagap.


"Bukannya lu mau bayar hasil kerja gue?" Tanyanya.


"I-iya. Tapi gak kek gini." Balasnya masih tergugup.


"Emang gue mau ngapain?" Tanyanya kembali mengikis jarak wajahnya.

__ADS_1


Sena menarik kedua ujung tali hoodie sepupunya itu, sampai menciut. Hingga wajahnya masuk sempurna kedalamnya. Sena tergelak merasa lucu melihat itu.


Namun tanpa diduga Abi melepaskan hoodienya hingga menyisakan kaos putih saja yang melekat ditubuhnya. Ia pegang kedua ujung dari kain itu hingga memanjang dan mengaitkannya dileher sang gadis seperti sebuah syal. Dan kembali menariknya hingga jarak keduanya kembali terkikis.


"Lakukan ini untuk membayarnya!" Tutur Abi. Hingga Sena dapat merasakan hembusan nafas yang terasa hangat menerpa wajahnya.


"Apa?" Tanya Sena.


"Jangan terlalu dekat dengan Aka. Gue gak suka!" Larangan Abi sukses membuat Sena menaikan satu alisnya.


"Kenapa Lu-?" Sena tak meneruskan ucapannya kala tiba beda kenyal menempel diatas bibirnya dan membungkamnya.


Deg!


Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Aliran darah dinadinya terasa mengalir lebih deras. Matanya membola sempurna merasakan hal yang pertama Ia rasakan. Hingga suara Abi menyadarkannya.


"Masuklah. Jangan sampe lu sakit!" Titahnya.


Tanpa kata Ia segera berdiri dan ngibrit masuk kedalam dengan menahan nafas dan wajahnya yang kemungkinan memerah.


Abi menghembuskan nafasnya panjang seraya memejamkan matanya. Dengan berani Ia berbuat seperti itu pada sepupunya sendiri. Namun Ia tak bisa menahannya lagi. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri dan berhenti menghianati hatinya.


Ia usap bibirnya sendiri seraya tersenyum lebar. Dan tangannya beralih pada dadanya, merasakan degup jantung yang berpacu tak beraturan. Namun Ia sangat menikmati itu.


"You are only mine. Sena." Gumamnya.


**


Sementara itu, Sena memasuki kamarnya dan menutup pintunya dengan keras. Ia berdiri dibalik pintu itu seraya menarik dan membuang nafanya tak beraturan, yang sempat Ia tahan tadi.


Ia tepuk-tepuk pipinya yang memanas karena hal tadi. Lalu tangannya meraba bibir yang tadi bertemu dengan bibir sepupunya itu. Ia merutuki dirinya yang tak bisa menolak. Lalu berlari dan membantingkan tubuhnya keatas kasur dengan tengkurap dan melesakan wajahnya disana.


"Abiii!!" Rengeknya kesal dengan tangan dan kaki yang bergerak seperti tengah berenang. "First kisss gue!" Pekiknya.


****************


Yuk jangan lupa jejaknya yaašŸ¤—Udah kelihatan nih, hati Sensen ke siapa?šŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2