
"Ay...!" panggilan lembut seseorang menyadarkan Ayra dari kegugupannya.
"Eh..i-iya bang." tanggapnya dengan terbata, karena masih menetralkan degup jantungnya.
"Kamu apa kabar? Lama ya gak ketemu." Sapanya lagi, dan jangan lupakan senyum manisnya yang membuat Ayra ingin terbang melayang. Terseponah.
"Iya bang. Aku baik. Abang sendiri gimana kabarnya?" Tanya Ayra masih dengan kecanggungannya.
Sungguh berada sedekat ini dengan sang pujaan hati, membuat Ayra jadi sosok yang terlihat bodoh.
Ayra yang cerewet dan nyablak mendadak jadi pendiam didekat orang yang mampu membuatnya tak pernah bisa berpaling.
"Ya, seperti yang kamu lihat abang baik." jawabnya dengan terus menyunggingkan senyuman manisnya. "Oh ya, gimana kabarnya Agung?" sambungnya lagi.
"Emm..bang Agung baik bang, sekarang dia udah tinggal dirumahnya sendiri." jawab Ayra mulai bisa mengontrol dirinya.
"Syukurlah..tar kapan-kapan abang maen deh."
"Kemana?" tanya Ayra dengan polosnya. Tiba-tiba otaknya nge leg memikirkan sang pujaan yang akan maen.
"Ya kerumah Agung lah. Katanya udah punya rumah baru. Tar abang silaturahmi kesana." jawabnya dengan santai.
Ayra yang mulai mencerna perkataan bang Ar, baru ngeuh. Dibayangannya sang pujaan yang akan main kerumahnya, apalagi sampe kehatinya. Eaaak.
"Iyaa..bang boleh, tar aku kasih alamatnya." timpal Ayra kikuk.
"Eh pada sibuk aja ngobrol. Ay, Feb lu mau pesen apa?" tanya Agel pada mereka yang baru gabung. "Yang laen, ada yang mau nambah?" sambungnya lagi.
"Cafucinno latte!"
sahut Ayra dan bang Ar bersamaan. Semua tampak kaget dan saling lirik satu sama lain.
Tak terkecuali si pelaku yang jadi pusat perhatian, Ayra tampak memalingkn wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti tomat.
Bang Ar pun tampak menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Ehemm...cieeee" deheman dan godaan dari Feby membuyarkan suasana yang tampak canggung.
__ADS_1
Ayra hanya bergumam kecil dan mendelik ke arah Feby yng terus menggodanya.
"Eh, gaiss.. Sorry ya gue pulang duluan. Tadi si Tia telepon minta diapelin." sahut Ian mengalihkan perhatian mereka.
"Ya elah.. gak tahanan amat. padahal ya bentar lagi di pisangin tuh gak diapelin lagi." celetuk Rio pada si calon manten.
"Ck. So tau lu, jomblo lapuk!" timpalnya lagi.
"Eh lu harusnya dah mulai dipingit, jan ngapel mulu." timpal Devan.
"Gada istilah pingit-pingitan buat gue. Gue manten kekinian, bukan manten baheula" timpal sang manten yang gak mau terus-terusan digoda.
"Dah lah gue balik dulu. Keburu ngamuk tar. Bye!" Lanjutnya lagi sambil berlalu pergi.
"Eh..Gue jug balik duluan ya!" kali ini Feby yang bersuara.
"Lah napa lagi lu?" tanya Agel keheranan.
"Gue harus jemput adik gue disekolahnya, dia baru pulang study tour. Ayah gue gak bisa jemput, katanya ban nya kempes."
"Gampang tar lu minta anterin sama bang Ar. kan kalian searah juga. Dah ya gue buru-buru si Cici keburu nangis." timpal Feby sambil ngibrit keluar.
"Udah gak usah cemberut, tar abang anterin pulang." sahut bang Ar mengalihkan perhatian Ayra padanya.
"Ya deh bang." pasrah Ayra.
Juna dan Agel yang melihat keduanya bertos ria dibawah meja. Rencana buat ngedeketin keduanya sukses.
Agel yang asik berbincang dengan Juna, Devan dan Rila yang curi-curi kesempatan, sijomblo Rio yang sibuk dengam Hp nya, seperti Hp nyalah kekasihnya.
Dan Ayra dengan bang Ar, yang sudah mulai asik bertukar cerita, hingga tak terasa waktupun sudah larut malam.
Mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah masing-masing.
"Bang Ar, aku titip Ayra ya. Awas jan diapa-apain!" pesan Agel pada bang Ar, ketika mereka diparkiran.
"Iya, tenang aja dianter sampe depan rumahnya dengan aman." sahut bang Ar.
__ADS_1
Agel dan Jun melesat duluan mengekori Devan dan Rila juga Rio, karena memang ketiga motor itu searah. Berbeda dengn tujuan Ayra dan bang Ar.
"Nih, pake helmnya!" titah bang Ar seraya menyodorkan helmnya pada Ayra.
Ayra menerimanya dengan ragu. Ada cemburu dihatinya, mungkinkah helmnya itu bekas pake kekasihnya?
Ayra memutuskan untuk tidak memakai helmnya dengan alasan gerah, pengen ngangin.
"Ya udah terserah kamu aja. Yuk naik" ajak nya lagi.
Ayra yang gak pernah naik motor tinggi bertanya dengn ragu "Bang ini gimana ya naiknya?"
Bang Ar yang sudah siap langsung menolehkan wajahnya.
"Sini" bang Ar mengulurkan tangannya agar diraih Ayra.
Ayra yang kembali ngeleg, dengan perlakuan bang Ar. Sampe bang Ar membuyarkan lamunannya dengn memegang tangnnya dan meletakan dipundaknya bang Ar
"Naik!" titahnya lagi
Ayra menuruti perintahnya dengan terus mengontrol kewarasannya.
Bang Ar menarik tangan Ayra ke depan untuk memeluknya.
Deg
Jantung Ayra kembali disko Ia terpaku dengan apa yang terjadi. Bukan hanya Ayra saja bahkan bang Ar merasakan hal yang sama.
'Janting gue kenapa?' Batinnya. Namun segera Ia tepis.
"Pegangan yang benar, takut jatuh!" sahutnya. Namun sama sekali tak ditanggapi oleh Ayra, karena entah kemana jiwanya saat ini.
Motor pun bergerak menelusuri jalanan yang cukup ramai tak ada pembicaraan dikeduanya, hanya saling mendengarkan detak jantungnya masing-masing.
'Jika aku boleh meminta, aku ingin berhenti di waktu ini, seperti ini, nyaman!' Batin Ayra.
*****************
__ADS_1