Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 9


__ADS_3

Hening! Tak ada suara dari kedua insan yang tengah menumpangi sang kuda besi. Hanya deruan nya saja yang terdengar.


Bahkan nafas dari salah satu insan itu nyaris tak terdengar, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


Tidak seperti kemaren, sekarang Ayra hanya memegang pinggir jaket bang Ar untuk pegangannya.


Karena sudah dipastikan kalau sampai memeluk lagi, Ayra akan oleng seperti sebelumnya.


"Loh, Bang kok berhenti disini?" tanya Ayra keheranan.


Karena tiba-tiba motornya berhenti dipinggir jalan. Tepatnya disebuah warung tenda bertuliskan "PECEL LELE Mak Isoh".


"Abang laper. Kita makan dulu ya?!" Jawab bang Ar setelah melepas helmnya, dan menengokan wajahnya ke belakang.


Ayra yang kaget karena tiba-tiba bang Ar berbalik ke arahnya hanya mampu menganggukan kepalanya.


Keduanya turun dari motor dan masuk ke tenda itu.


"Kamu mau makan apa?" tanya bang Ar, setelah mereka mendudukan diri diatas kursi.


"Terserah abang aja!" Ayra menjawab sambil terus memandangi wajah tampan pujaannya itu tanpa berkedip.


Lumayan kesempatan bisa terus mandangin ciptaan Tuhan yang sempurna, fikirnya.


Bang Ay yang sedari duduk fokus dengan Hp nya, tak menyadari dirinya tengah diperhatikan.


"Abang mau bebek goreng. Kamu suka gak?" tanyanya lagi.


"He'emm suka banget." Jawab Ayra dengan semangat, entah apa yang ada dipikirannya.


"Yaudah!" bang Ar memasukan kembali Hp nya dan mulai memesan.


"Mak Bebek goreng 2" bang Ar menjeda kalimatnya, dan beralih menatap ke Ayra.

__ADS_1


Deg


Pandangan keduanya bertemu, saling mengunci. Ada gelenyar aneh dihatinya.


"Sambelnya pedes apa biasa aja?" pertanyaan dari Mak Isoh berhasil menyadarkan keduanya.


Keduanya gelapan, seraya tertangkap basah sedang berbuat yang tidak-tidak.


Bang Ar berdehem untuk menutupi perasaannya yang tiba-tiba saja gugup.


"Ehem..Kamu sambelnya mau pedes apa sedang?" tanyanya sebiasa mungkin.


"Pedes." timpal Ayra yang tertunduk, menyembunyikan rona dipipinya.


Ayra meminum air yang ada didepannya. untuk menetralkan rasa gugupnya.


Bang Ar mencoba untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka dengan memulai obrolan.


"Ay...kamu sama Ian pernah ada hubungan apa?" tanyanya.


"Ehmm..kami hanya temen." jawab Ayra masih dengan gugup.


"Ohh..abang kira kalian pernah pacaran." Sahutnya lagi.


"Lebih tepatnya dia fans aku." timpal Ayra lagi dengan terkekeh.


"Waah pasti banyak yaa fans nya?" goda bang Ar, dengan senyum jahilnya.


Suasanapun menghangat, tidak ada lagi kecanggungan. Berbagai macam obrolan terlontar, mulai dari pekerjaan sampe hal yang unfaedah.


Sampai makanan pun tiba dan mereka memutuskan untuk makan tanpa bicara.


Selesai makan mereka memutuskan untuk segera pulang, waktu pun sudah hampir gelap.

__ADS_1


Sebelum menaiki motornya, bang Ar melepaskan jaketnya dan menyodorkannya ke tangan Ayra "Nih pake jaket abang, biar gak kedinginan!" titahnya.


Ayra yang tak percaya, segitu perhatiannya bang Ar. Sama cewek lain aja dia perhatian apalagi sama ceweknya. Kan jadi pen nikung.


"Eh..gak usah bang. Tar abang kedinginan lagi." tolaknya merasa tak enak. Padahal mah ya hatinya berbunga.


"Udah gak papa, pake aja!" titahnya lagi sambil dipasangkan dibahu Ayra.


Melayang sudah Ayra. Ia pun memakai jaketnya dengan terus mengembangkam senyumannya.


Mereka melaju membelah jalan yang ramai, dengan Ayra yang tak berani memeluk bang Ar dan hanya memegang kaosnya.


Motorpun sampai didepan pagar rumah Ayra.


Ayra turun dari motor dan berdiri di sisi bang Ar yang masih diatas motor.


"Bang mampir dulu!" ajaknya pada sang pujaan.


"Gak lah kapan-kapan aja, udah mau maghrib soalnya." jawab bang Ar yang melirik jam ditangannya.


"Oh..yaudah, makasih ya bang udah nganterin aku, dua kali ma yang kemarin. Maaf kemarin lupa bilang makasih sama abang. Trus traktirannya yang tadi juga makasih yaa bang." ucapnya tulus dengan senyuman manisnya.


Bang Ar yang melihat senyum manis Ayra, membalasnya dan tanpa sadar mengusek pucuk rambut Ayra gemas.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, sungguh membuat jiwa Ayra terbang entah kemana.


"Sama-sama. Yaudah abang pulang dulu. Bye!" Pamitnya seraya menjalankan motornya.


Entah apa yang mereka rasakan saat ini yang jelas tak ada satupun dari mereka yang ingat dengan jaket bang Ar yang masih melekat ditubuh Ayra.


Ayra terus memandangi motor bang Ar sampai hilang ditelan belokan.


'Jika memang kita berjodoh. Tuhan pasti akan mempertemukan kita diwaktu yang seharusnya.' Batinnya.

__ADS_1


**********


__ADS_2