
Pagi menyapa, mentari bersinar membangunkan keempat gadis yang tengah bergelut ria dalam selimut.
Berantakan. Kasur king size yang menopang tubuh keempatnya sudah tidak beraturan, layaknya kapal pecah.Sungguh mereka tidak ada anggun-anggunnya.
"Ay! Bangun woy!"Feby mengguncang tubuh Ayra. Gadis satu ini susah sekali untuk dibangunkan. Niatnya yang ingin jadi calon istri yang baik dengan bangun pagi, harus di skip dulu.
Dikala ketiganya sudah siap memulai hari, Ayra justru enggan membuka mata. Lebih tepatnya lagi enak rebahan, karena telinganya sudah mendengar namun enggan untuk bangun.
"Buruan bangun, tuh bang Ar lu dipatuk ayam." Celetuk Feby membuat kedua gadis disampingnya mengerenyitkan dahinya.
"Rezeki Feb, rezeki." Timpal Agel.
"Kan bang Ar tu rezekinya si Ay." Timpal Feby lagi membuat kedua gadis itu geleng-geleng kepala.
"Bangun woy! Tuh bang Ar lu beneran dipatuk, alias dicolek sama gadis-gadis sini." Celetukan Feby kali ini, dengan sekejap membuat Ayra terbangun.
Tanpa fikir panjang Ayra langsung loncat dari kasur dan buru-buru keluar kamar. Ia melupakan penampilannya saat ini yang hanya menggunakan hotpans dan kaos oblong. Dan jangan lupakan wajah bantal dan rambutnya yang acakadul.
Ketiga gadis itu sekuat tenaga menahan tawanya. Kali ini Feby bener-bener balas dendam mengerjai Ayra. Setelah Ayra bener-bener menghilang tawa merekapun pecah.
Ayra menerobos keluar rumah, mencari keberadaan sang kekasih dan gadis yang dimaksud Feby.
"Mana? Mana ulet bulunya?" Teriak Ayra membuat keempat pemuda yang tengah berada dihalaman depan mengalihkan atensi mereka kepadanya.
Keempat pemuda itu melongo melihat penampilan Ayra. Begitupun bang Ar, Ia sampai gagal fokus melihat paha mulus jenjang sang kekasih. Buru-buru Ia menghampiri gadisnya, dan menarik tangannya membawanya masuk kedalam rumah.
"Ihh bang kok aku ditarik? Mana ulet bulunya, aku mau basmi." Protes Ayra saat mereka berjalan masuk.
Bang Ar membawanya kepojok ruang tamu. Ia menatap Ayra intens. Ayra yang ditatap merasa bingung. "Kenapa sii bang?"
Bang Ar memindai penampilan Ayra dari atas sampai bawah. 'Tetap cantik!' batinnya.
Ayra mengikuti tatapan bang Ar pada dirinya. "Astagfirulloh!" Kagetnya. Ia baru sadar dengan penampilannya yang ah memalukan.
__ADS_1
Buru-buru Ia akan melepaskan diri, namun kalah cepat dengan pergerakan bang Ar. Bang Ar mencekal lengannya dan merapatkan tubuhnya kedinding.
"Mau kemana?" Goda bang Ar. Entah kenapa terlintas dibenak bang Ar untuk menggoda gadisnya ini.
"A-aku mau ke kamar, mau mandi dulu bang." Jawab Ayra dengan gugup. Jantungnya sudah jedag jedug tak karuan. Apalagi saat melihat tatapan mata bang Ar yang sulit Ia artikan.
"Udah tar aja mandinya." Timpal bang Ar. Ia semakin mengikis jarak lebih menempel membuat Ayra menahan nafasnya sejenak.
"Bang jangan kek gini. Tar dilihat yang lain!" Pinta Ayra yang semakin gugup.
"Emangnya kita ngapain?" Tanya bang Ar. Ia menundukkan wajahnya untuk menggapai wajah Ayra. Hembusan nafas bang Ar menerpa wajah Ayra membuatnya reflek menutup mata.
Bang Ar terkekeh melihat gadisnya ini.
"Fyuuhh!"
Bang Ar meniup wajah Ayra dan reflek membuat Ayra membuka mata.
Ayra hanya menganggukan kepalanya cepat dan dengan terburu melesat meninggalkan bang Ar saat cekalan tangannya terlepas.
Bang Ar tertawa kecil disertai gelengan kepala merasa gemas dengan tingkah gadisnya. Ternyata menggoda gadisnya ini sangat menyenangkan. Meski tak dipungkiri Ia pun sekuat mungkin menahan gejolak dalam dirinya, tatkala berdekatan seperti itu.
**
"Bang pelan-pelan!" Pinta Ayra.
"Enakan cepet." Jawab bang Ar.
"Tapi akunya cape." Timpal Ayra.
"Udah kamu mah diem, biar abang aja!" Timpal bang Ar lagi.
"Santai aja lah bang." Rengek Ayra.
__ADS_1
"Tar kita gak kebagian buburnya." Timpal bang Ar.
Kini mereka berdua tengah mengayuh sepeda gandeng untuk berolahraga sekaligus mencari bubur untuk sarapan.
Tak cuma mereka berdua, namun dua pasangan yang lain pun sama-sama memakai sepeda itu. Tak terkecuali Feby dan Rio, meski harus melalui drama dulu namun tak ayal juga berpasangan.
Setelah sampai dialun-alun desa, mereka memarkirkan sepedanya disana dan mencari tukang bubur di deretan para penjual yang berjejer.
Karena pedagang disana hanya menggunakan kursi tunggal beberapa biji, jadi mereka lebih memilih duduk di rerumputan.
"Enak juga ya sepedaan, seger banget udarnya." Ucap Agel.
"Ya iyalah seger yang didepan pacar sendiri." Timpal Feby sinis.
"Isshh lu mah sirikan amat. Anggap Rio tu juga pacar lu." Timpal Rila.
Feby hanya menyebikkan bibirnya.
"Sabar ya Misjom." Timpal Ayra menepuk pundak Feby.
"Paan Misjom?" Tanya bang Ar.
"Miss Jomblo!" Timpal ketiga gadis itu diiringi gelak tawa. Membuat Feby semakin mengerucutkan bibirnya.
Tiba-tiba datang dua orang gadis menghampiri mereka. Sepertinya mereka masih anak SMA terlihat dari penampilannya yang sedikit alay.
"Permisi kakak-kakak! Boleh kenalan gak?" Tanya salah satu gadis.
Semua menatap heran, terutama keempat gadis itu. Mereka mengernyitkan dahinya tatkala melihat tingkah kedua gadis ini yang caper pada cowok mereka.
'Wah hama ini. Bahaya!' Batinnya.
*************
__ADS_1