
Hari berganti hari hubungan bang Ar dan Ayra semakin uwuu. Tanggal pernikahan pun sudah dipersiapkan. Bulan depan akan menjadi bulan bersejarah untuk sepasang kekasih ini.
Persiapan demi persiapan sudah dilakukan Ibu Anita dan Mamih Asti. Bahkan Ayah Arshad sudah menyewa gedung untuk acara pernikahan putra tunggalnya itu. Sebagai pebisnis kecil, tentu Ia juga akan mengundang para kliennya. Akan banyak undangan yang dibagikan.
"Bagusan mana bang?" Tanya Ayra yang tengah membolak balikkan beberapa sample kartu undangan.
Kini keduanya tengah berada diruang tv rumah Ayra. Keduanya duduk dikarpet didepan meja sedang memiilih kartu undangan.
"Emm..terserah kamu aja." Jawab bang Ar sekenanya dan terus fokus dengan Hp nya.
Ayra menoleh, merasa tak puas dengan jawaban bang Ar.
"Ihh.. Liat dulu sini!" Titahnya.
"Iya. ini juga lihat." Timpal bang Ar, namun matanya terus fokus kearah benda persegi itu.
Ayra kesal merasa diabaikan. Ia rampas paksa Hp dari tangan bang Ar. Menyembunyikan dibelakangnya dengan wajah yang ditekuk.
"Kenapa?" Tanya bang Ar lembut. "Sini dulu bentar Hpnya, lagi penting!" Pinta bang Ar dengan mengadahkan tangannya.
Ayra menggelengkan kepalanya cepat dengan air muka sama.
"Ayo dong yang bentar aja!" Pinta bang Ar lagi. Namun Ayra masih menggeleng.
"Ay bentar aja abang lagi penting!"
Ayra menyodorkan Hp nya. "Nih. Aku emang gak penting!" Timpalnya hendak berdiri, Namun bang Ar segera mencekalnya.
Bang Ar meletakkan Hpnya dimeja dan memegang kedua bahu Ayra mengarahkannya kehadapannya.
"Gak ada yang lebih penting dari kamu. Apa kamu masih belom percaya sama abang?" Ayra hanya tediam tak menjawab bang Ar. Ia masih merasa kesal.
Bang Ar meraih pipinya. "Abang lagi ngirim E-mail keperusahaan untuk pengajuan resign." Tuturnya, membuat Ayra mengerenyitkan dahinya.
Bang Ar tersenyum. "Abang akan resign dari sana."
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Abang gak bisa jauh dari kamu." Goda bang Ar mengelus pipinya.
__ADS_1
"Isshhh paan sih bang." Tak ayal Ayra tersenyum juga.
"Kalo abang gak kerja, aku dikasih makan apa dong?" Goda Ayra balik.
"Emm..pisang aja mau?" Goda bang Ar lagi menaik turunkan alisnya.
"Pisang yang mana?" Ayra tak mau kalah untuk menggoda sang kekasih.
Bang Ar mengambil tangan Ayra dan menuntunnya kebawah menuju senjata kebanggaannya yang masih terhalang bungkusnya.
Hal itu membuat Ayra tersipu. Belum sempat tangannya menyentuh itu, Ia segera menariknya.
"Ihh abang!" Ayra memukul dada bang Ar gemas. Membuat bang Ar tergelak.
"Apa?" Goda bang Ar mencekal kedua tangannya.
"Pemikirannya ihh udah kesana aja." Omelnya.
"Kemana?" Bang Ar semakin gencar menggodanya.
"Tau lah!" Ayra melengos merasa malu.
"Gak papa lah kenalan dikit."
"Ini aja dulu, boleh lah." Ucap bang Ar menunjuk dua gundukan dibalik kaosnya.
Dan itu reflek membuat Ayra meyilangkan tangannya didada. "Idiihhh gak boleh. Buat nanti aja."
"Boleh ya dikit aja. Mumpung lagi sepi" Rayunya. Kebetulan mereka hanya berdua, Papih dan Mamih tengah pergi mengunjungi keluarganya dikota besar.
"Nggak. Nanti aja." Ayra menggeleng dan masih menyilangkan tangannya.
"Boleh." Bang Ar mencekal lengannya.
"Nggak."
Bang Ar menggelitik pinggang Ayra membuat keduanya tertawa. Ayra sampai kehilangan keseimbangannya dan terjengkang kebelakang. Kepalanya hampir terbentur namun bang Ar dengan sigap menahannya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya Ia pakai untuk menahan bobot tubuhnya.
Terjadilah adegan tindih menindih. Mata keduanya terkunci. Bang Ar menyambar benda kenyal yang sudah menjadi candunya itu. Me ***** nya, menyesap, menyecapnya lembut. Tangannya sudah menyusup kebalik kaos, meraba, mencari sesuatu yang mengait dibalik punggung Ayra.
__ADS_1
Perlakuan itu mampu membuat Ayra tak sadar dan mengalungkan tangannya dileher bang Ar. Setelah pengait itu berhasil terlepas, tangannya berpindah kedepan meraba, menangkup salah satu gundukan itu, meremasnya pelan namun mampu membuat Ayra men desah.
"Ahhhbang." Ciumannya perlahan turun keleher jenjang putih yang siap diberi tanda. Namun bang Ar tak melakukan itu, Ia hanya mengecup basah disana membuat Ayra semakin melayang.
Bang Ar meletakkan kepala Ayra pelan menarik tangannya dan masuk kebalik kaos mengambil gundukan satunya lagi. Bibirnya kembali membekap bibir Ayra yang kembali men desah.
Remasan didua gundukan itu benar-benar membuat Ayra bergetar. Bahkan bang Ar memainkan pucuknya membuat Ayra semakin melayang.
Bang Ar menuntun tangan Ayra menuju senjatanya yang tertutup celana. Dengan nalurinya Ayra mengelus sesuatu yang sudah mengganjal dibawah sana. Bahkan saat bang Ar meremas gundukannya keras, membuatnya meremas punya bang Ar keras pula.
Hingga terdengar desa han dari keduanya. "Uhhh!" Bang Ar menuntun tangan Ayra untuk masuk kebalik celananya.
Dan hal itu sukses membuat Ayra membolakan matanya. Apalagi saat Ia berhasil memegang benda panjang dan besar itu. Ia sampai menelan salivanya kuat. 'Woww!' Batinnya.
Karena merasa takut Ayra segera menarik kembali tangannya. Namun itu tak membuat bang Ar berhenti. Ia kembali meraup bibir Ayra dan terus memainkan tangannya dibalik kaos itu. Menggesekkan sesuatu dibawah sana dan membuatnya semakin men desah.
"Uhhh Ay!" matanya menatap Ayra begitu sayu dengan kabut gairah. Hasratnya semakin membuncak.
Hingga ketukan dipintu menyadarkan Ayra. Dan menghadang bibir bang Ar yang akan menyentuh bibirnya dengan tangan.
"Bang ada yang ketuk pintu." Tutur Ayra. Bang Ar berhenti dan kedunya terdiam.
Tok..tok..tok
"Ay? Lu dirumah gak?"
Teriakan seseorang dari luar mampu membuat keduanya kocar kacir. Bang Ar bangun dan lari menuju kamar mandi. Ayra bangun dan segera memasang pengait branya yang sialnya begitu susah.
Sampai Ia sudah selesai merapihkan dirinya dan menghampiri pintu. Dibukanya pintu tersebut hingga memunculkan seorang pria di depan pintu.
"Lu lagi ngapain sih? Lama amat buka pintu? Pake dikunci segala lagi?"
***************
Hayooo lagi nagapain? š¤£š¤£
Ini yang mau kenalan dikit, malah banyakš
__ADS_1
Ini yang so so an gak mau tapi menikmatiš