Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 101


__ADS_3

Ayra yang sudah melakukan pelepasan pertamanya dibuat pasrah. Bang Ar yang sudah membuka sisa kain ditubuhnya, mulai melancarkan aksinya. Si pisang sudah tegak, sudah siap silaturahmi dengan nona manisnya. Ia mengusap perut buncitnya terlebih dahulu dan menciuminya.


"Papa tengok ya de."


Bang Ar mengangkat kedua kaki sang istri, membukanya lebar-lebar. Ia mulai menenggelamkan pisangnya, membiarkannya masuk lebih dalam. Menggerakkan pinggulnya perlahan, tak mau sampai menyakiti baby nya. Bahkan posisinya dibuat agar tak menghimpit perut buncitnya.


De sa han begitu berirama memenuhi ruangan yang luas dengan cahaya benderang itu. Bang Ar benar-benar melakukannya dengan perlahan namun pasti. Meski tak dapat dipungkiri Ia menginginkan untuk mempercepat temponya. Namun Ia sadar untuk tak menyakiti baby nya dan memenuhi semua saran dokter.


"Abangghhhh!!"


"Yess babyhhh!!!"


Keduanya terus menikmati tempo itu, sampai keduanya ingin mencapai puncak, barulah tempo sedikit dinaikan. Hingga erangan panjang menandakan keduanya tumbang diwaktu bersamaan.


Bang Ar menciumi perutnya bertubi-tubi. "Mau ditengok lagi ya de?" Ucapnya terkekeh membuat Ayra tertawa.


Ayra bangkit dari tidurnya dan menindih sang suami. "Oke giliran si nona makan si pisang!"


Tak dapat dipungkiri, gairah Ayra semakin menggebu kala kehamilannya. Mungkin efek dari hormon kehamilan yang membuatnya selalu meminta lagi dan lagi.


Ia mulai melakukan pemanasan lagi. Menyusuri tubuh sispex sang suami. Memainkan ****** didada bidangnya. menggesek si pisang untuk memancing gairahnya. Bang Ar pun tak tinggal diam, Ia kembali memainkan dua buah yang melambai dihadapannya. Menyusu seperti bayi. "Bentar lagi rebutan sama baby."


Dirasa sipisang kembali tegang, Ayra memulai aksinya. Nona manis memakan pisangnya dengan lahap. Ayra mulai menari diatas tubuhnya dengan gerakan pelan nan sensual, membuatnya semakin menantang dimata suaminya. Dengan terus meremas dua buah kesayangannya, bang Ar mencoba ikut bergerak menggali kenikmatannya.


Entah dimenit keberapa keduanya kembali tumbang untuk yang kedua kalinya.


Bang Ar menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Menarik sang istri kedekapannya. Mencium keningnya lama. "Udah dulu ya! Ntar lagi, kasihan dede nya!" Bang Ar terkekeh.


"Isshh.. Paan sih bang aku ngantuk juga, pengen tidur." Timpal Ayra mencubit dada sang suami dan disambut tawa olehnya.


"Ya udah yuk kita tidur!" Ajaknya.


Karena terlalu lelah, tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk keduanya mengarungi dermaga mimpi.


**


Sinar mentari yang memasuki jendela kamar tak membuat sepasang manusia itu terbangun. Keduanya begitu menikmati tidur nyenyaknya. Berbeda terbalik dengan keadaan dilain rumah. Suara tangisan menggegerkan seisi rumah.

__ADS_1


Oweeekkk oweeekkk


"Cup! Cup! Sayang, pengen mimi ya? Mimih bikinin dulu yaa!" Ucap Mamih menenangkannya.


Bang Agung yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Mamih didekat box bayinya. "Kenapa Mih?" Tanyanya.


"Kayanya dia haus. Mamih bikinin dulu susunya. Kamu jagain dulu ya bentar." Mamih berlalu keluar untuk membuat susu.


Baby Aska semakin histeris. "Cup! Cup sayang jangan nangis!" Bang Agung menepuk pahanya berusaha menenangkannya. "Duh gimana ini cara ngambilnya?" Bang Agung ingin menggendongnya, namun Ia tak tau cara mengambil yang benar.


"Kenapa dede nya bang? Kok gak digendong?" Tanya Siska yang masuk ke dalam kamar setelah mendengar tangisannya.


"Ini gue mau gendong, tapi gimana cara ngambilnya?" Timpal bang Agung.


"Ya ampun! Sini-sini." Siska mendekat kearah box dan menggendongnya. "Dede kenapa? Haus ya? Cup..cup sama onty dulu ya sayang." Ia terus berceloteh dan menepuk-nepuk bokongnya pelan hingga tagisannya pun berhenti.


"Pinter! Jangan nangis ya ganteng, lagi dibuatin dulu miminya." Siska sampai mencium pipi yang tidak terlalu chuby namun menggemaskan milik baby Aska.


Bang Agung tersenyum. Andai? Bayangan sang istri yang menggendong dan menyusui putra mereka terlintas begitu saja. Air matanya jatuh tak dapat Ia bendung. Siska yang melihat bang Agung tertunduk dengan lelehan air mata dipipnya menghela nafasnya panjang. Ia tau apa yang dirasa pria di depannya itu.


Ia memegang tangan bang Agung dan membawanya untuk duduk dipinggir ranjang. Bang Ar yang sedikit kaget, segera mengusap pipinya kasar.


Bang Agung terdiam. Ia tertunduk menyelami perasaannya yang masih terbalut dengan luka.


"De, kita siap-siap lihat Papih kamu nangis ya! Kita lihat masih ganteng gak kalo nangis." Celetuk Siska memainkan tangan baby aska dipangkuannya, yang mendadak kalem.


Bang Agung menoleh dan melongo, alih-alih akan mendapat penenangan malah dapat ledekan. Ia sentil jidat gadis disampingnya gemas.


"Awww!!"


"Sakit bang. Kebiasaan deh!" Siska mengusap jidatnya yang mungkin memerah.


"Lagian lu yah, bukannya nyemangatin gue. Malah ngeledek!" Sewot bang Agung.


"Ngapain juga mesti terus nyemangatin? Orangnya juga kek gak mau disemangatin gitu." Timpal Siska.


"Gue tu masih berkabung, gak ngerasain banget sih lu jadi gue!" Timpal bang Agung dengan air yang kembali jatuh dari ujung matanya.

__ADS_1


Siska kembali menghela nafasnya, Ia usap punggungnya pelan. "Bukan gitu maksud aku bang. Aku cuma pengen abang kembali tersenyum, absurd lagi kek pertama kali kita ketemu. Aku lihat abang sekarang, kek bukan abang yang aku kenal." Ucap Siska.


"Aku tau semua ini tak segampang membalikan telapak tangan. Tapi abang harus terus mencoba. Kuncinya ini!" Siska menunjuk hidung baby Aska dan menciuminya lagi. Bang Agung melihat kearah baby Aska dan berusaha tersenyum.


"Kalo sakit itu datang. Bahkan rindu itu hadir. Abang lihat wajahnya dede! Lihat! Aku aja pengen terus memandanginya. Emm bikin adem!" Timpal Siska tersenyum. Bang Agung tersenyum dan ikut mengelus pipi putranya lembut.


"Maafin Papih ya sayang! Mulai hari ini, Papih akan berusaha bangkit untuk kamu. Menjadi Ayah sekaligus Ibu yang baik buatmu." Bang Agung mengusap kepala baby Aska lembut dan mencium keningnya lama.


Mamih yang lagi-lagi melihat keduanya, tersenyum bahagia. Diumurnya yang masih muda, ternyata Siska begitu dewasa, Ia begitu peka dengan perasaan orang lain dan mampu membuatnya kembali bersemangat.


Mamih menghampiri keduanya dengan membawa sebotol susu. "Mana cucu Mimih, nih miminya udah jadi." Mamih mengambil alih baby Aska dari pangkuan Siska.


"Mih, bang! Aku pamit ya. Mau pulang hari ini!" Ucap Siska membuat bang Agung mengerenyitkan dahinya heran.


"Kenapa udah mau pulang?" Tanya bang Agung.


"Aku kan harus sekolah. Hari ini aja aku bolos, gak sempet minta izin." Timpal Siska dan dijawab anggukan pasrah bang Agung. Entah kenapa ada rasa gak rela jika gadis yang Ia klam adek nya itu pulang.


"Ya udah, tar Mamih nyuruh orang buat anterin kalian pulang ya!" Tutur Mamih dan dijawab anggukan kepala oleh Siska.


"Dede, yang anteng ya ganteng. Onty pulang dulu! Ntar kapan-kapan onty main lagi kesini ya!" Siska menciumi pipi baby Aska gemas.


"Jangan lama-lama ya, jengukin lagi dede nya kesini!" Timpal Mamih dan diiyakan Siska.


Siska dan bu Titin sudah siap untuk pulang, Setelah berpamitan dengan seluruh orang rumah, keduanya pun keluar. Bang Agung pun mengantarnya sampai depan.


"Aku pulang ya bang!" Pamitnya. Bang Agung mendaratkan tangannya dipucuk kepalanya, bahkan menguseuknya gemas.


"Hati-hati ya adek imut!" Pesan bang Agung dan diiyakan Siska dengan senyum manisnya.


Siska masuk menyusul sang Ibu yang sudah stay di jok belakang. Mobil pun berlalu meninggalkan rumah itu. Bang Agung terus menatap kepergian mobil itu sampai hilang ditelan belokan.


Siska yang berada didalam mobil, terus melihat kesisi dan melihat kaca spion yang menampilkan seseorang yang masih berdiri disana. Ia menyunggingkan senyumnya. Hatinya berdebar kala tangannya mengusap rambut yang tadi kena useukan bang Agung.


'Jika Tuhan mentakdirkan rasa ini benar. Yakinlah kita akan dipertemukan diwaktu yang tepat!' Batinnya.


******************

__ADS_1


Vote, like dan komennya ya readers! Yang mau ngasih bunga sama kopi, sini tangan mak othor masih kosong loh😁😁


__ADS_2