
Sepulang sekolah, mereka yang tadi sudah merencanakan akan makan-makan untuk merayakan kembalinya Abi sudah stay didalam kafe. Mereka semua ikut, kecuali Rizky yang sudah pulang duluan karena memang ada urusan dengan keluarganya.
Kafe yang dipilih mereka adalah kafe legend. Kafe yang menjadi saksi berkumpulnya gerup reseh. Tempat itu pula yang menyatukan Papa Ar dengan Mama Ay dulu. Seperti dejavu, tempat tongkrongan orang tua mereka kini menjadi tongkrongan mereka.
Sekarang tempat ini sudah berkembang pesat, sudah banyak cabangnya juga. Namun yang menjadi legend, kondisi didalamnya masih sama seperti belasan tahun yang lalu.
Kini mereka tengah duduk dilesehan memesan makanan yang masih menjadi trend anak muda jaman now. Seblak varian toping menjadi menu favorit mereka, kecuali Aska. Aska yang memiliki masalah dengan perutnya. Dilarang keras memakan makanan pedas, termasuk seblak itu.
Obrolan dilanjut setelah memesan makanan. Sena yang cerewet tentu jadi narasumber disana. Banyak hal unfaedah juga yang mereka bahas. Termasuk mengghibahi si ratu sirik, yang tadi sempat mengomentari dirinya.
"Awas aja kalo aka mau deket-deket sama dia. Aku pecat jadi Aka!" Ucapnya memberi ancaman pada sang kakak.
"Sebelum adekku yang cantik ini mecat aka. Kamu duluan yang aka pecat." Timpal Shaka dan dijawab cebikan oleh gadis cantik didepannya.
"Lagian siapa juga yang mau deket-deket sama nenek gayung kek dia. Biar dikasih folowers jutaan juga ogah!" Timpalnya lagi.
"Jangan ogah-ogah! Ntar kesemsem baru nyaho!" Timpal Jingga.
"Emang gue lu, yang asal kesemsem sama buaya. Sakit sendiri kan?" Sindir Shaka.
"Gak usah ngalihin pembicaraan dan gak usah dibahas!" Tutur Jingga dengan muka masamnya. Udah tau lagi patah hati putus cinta, eh tu mulut Shaka minta dicabein kek nya.
"Gue sih cuma kasih saran aja ya! Kalo cari cowok tu yang beneran dikit, buaya kok dipacarin!" Ucap Shaka lagi.
"Emang aka sendiri udah bener?" Tanya Sena.
"Pura-pura lupa atau gak nyadar!" Sindir Jingga dan dijawab gedikan bahu oleh Shaka dan cebikan bibir. Membuat mereka tertawa dan geleng-geleng kepala.
Deril yang sedari tadi sibuk dengan benda pipih ditangannya, mulai nimrung. Bukan untuk ikut menimpali namun untuk berpamitan. "Eh! Gue pulang duluan ya! Ntar kapan-kapan gue ikut ngumpul lagi." Ucapnya seraya memakai jaket dan memebereskan barangnya.
"Kemana?" Tanya Aska.
"Gue lupa punya janji sama Sisil. Gue duluan yah bye!" Ucapnya seraya berdiri.
"Lah makanan lu gimana?" Tanya Shaka.
"Buat lu aja!" Jawabnya sambil berlenggang pergi.
"Buat gue cenah. Seblaknya aja belom dibayar juga. Dasar kampret!" Gerutu Shaka membuat mereka tergelak.
Pesanan pun tiba, beberapa mangkok seblak spesial sudah tersaji disana dengan minuman boba menyegarkan menemani seblak yang sudah terlihat hot jeletot dan satu mie gorang untuk Aska.
Abi yang duduk disisi Sena melihat mangkok gadis disampingnya. Ia ambil sayap ayam dari mangkoknya dan memindahkannya ke mangkok sang gadis. Hingga membuat Sena menoleh dan menyunggingkan senyuman manisnya.
"Uhh!! Ternyata lu masih inget makanan favorit gue?" Tanya Sena dan dijawab anggukan Abi.
Sena pun mengambil basonya dan dipindahkan ke mangkok Abi, hingga membuat Abi menoleh dan dibalas senyuman manis Sena.
__ADS_1
"Gak ganti favorit kan?" Tanya Sena dan dijawab senyum simpul dari Abi.
Aska yang berada disamping sebelahnya terdiam memperhatikan interaksi keduanya, hingga tiba-tiba Ia menginginkan seblak sang adik dan mendadak mie yang Ia makan menjadi hambar.
Ia lepaskan sendok dan garpu ditangannya dengan helaan nafas panjang. Sena menengok kesamping dan mendapati sang kakak yang tak meneruskan makannya.
"Aka kenapa? Kok gak dimakan?" Tanya Sena.
"Gak enak. Aka cobain punya kamu!" Sang kakak akan menyambar sendok dimangkuk Sena, namun segera dijauhkan Sena.
"Gak boleh!" Sena segera menyingkirkan mangkuknya mendekat kearah Abi. "Aku gak mau ya kena semprot timom!" Ucapnya.
"Gak papa dikit aja" Sang kakak masih berusah untuk mengambilnya namun tangannya ditahan Sena.
"Gak boleh! Ya gak boleh! Bandel banget sih!" Omel Sena membuat sang kakak mengangkat sudut bibirnya.
"Dikit aja! Ya! Ya!" Pintanya dengan manja dan sukses membuat Jingga dan Shaka mengerenyitkan dahinya heran. Seorang Aska bermanja pada adek nya, warbiyasaa! Pikir keduanya.
"Gak boleh!" Tegas Sena. "Aku gak mau aka kenapa-napa. Katanya mau jagain aku? Mau antar jemput aku? Terus kalo aka nya sakit gimana coba?" Ceroscosnya membuat sang kakak menyunggingkan senyuman lebar nan manisnya. "Udah deh, jangan aneh-aneh! Dibilangin itu gak usah ngeyel." Omelnya.
"Iya deh! Nggak!" Jawabnya mengusek pucuk kepalanya gemas.
Hal itu tentu tak lepas dari perhatian Abi. Ia tersenyum sinis melihat interaksi keduanya. 'Apa hanya kak Aska yang lu harap jadi penjaga lu?' Batinnya. Hingga kuah cebe terasa tercekat ditenggorokannya, membuat Ia tersedak.
Uhukk! Uhukk!
"Makanya makan tu pelan-pelan! Udah tau pedes juga." Omel Sena namun hanya dijawab gedikan bahu olehnya.
"Gue lihat lu kek gimana gitu Sen." Ucap Jingga.
"Kenapa?"
"Kek punya dua laki!" Celetuk Jingga dan sukses membuat kedua pemuda disisi Sena tersedak berjamaah.
Uhuk! Uhuk!
Uhuk! Uhun!
Ketiga orang disana merasa heran termasuk Sena juga. "Kalian napa sih?" Tanyanya melirik kiri kanannya.
"Nggak!" Jawab Aska cepat dan Abi hanya kembali mrnyedikan bahunya.
Sena hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya. Hingga mereka kembali memakan makanannya. Namun tiba-tiba suara dering telepon menghentikan kembali pergerakan mereka. Ternyata sumber suaranya dari layar pipih Aska. Ia pun mengangkat panggilan itu.
"Ya mom!"
"Hemm!"
__ADS_1
"Tapi.."
"Ya udah Aka jemput!"
Ia kembali menyimpan Hp itu keatas meja dengan hembusan nafas panjang.
"Timom ya kak?" Tanya Sena yang sudah hapal betul lengkingan suara itu.
"He'em." Jawabnya seraya menganngukan kepalanya. "Aka disuruh jemput Kia, dirumah temennya."
"Ya udah cepetan sana jemput!" Titah Shaka.
"Terus kamu gimana pulangnya?" Tanyanya pada Sena.
"Ya elah kak! Tinggal ikut kak Shaka aja atau Abi. Gampang!"
"Tapi-"
"Udah sana. Ntar si Kia ngamuk! Kena semprot Papih deh, ntar!" Usir Sena, bahkan Ia mendorong bahu sang kakak untuk berdiri.
Aska akhirnya pasrah. Ia juga tak bisa membiarkan adek kecilnya menunggu lama. Walaupun entah kenapa hatinya terasa berat meninggalkan adek tersayangnya itu, namun Ia harus pergi.
Ia melirik sejenak ke arah sepupunya yang cuek dan tak memberikan tanggapan itu sejenak, kemudian menghembuskn nafasnya panjang. Sepertinya kali ini Ia harus merelakan adeknya dibonceng sepupu kulkasnya itu, karena sudah dipastikan kakaknya takan pernah mau membawa adeknya. Apalagi tau ada kang ojek nganggur disana.
Setelah kepergian Aska, tak berselang lama mereka juga memutuskan untuk pulang.
"Gue bareng lu ya bi. Banyak hal yang mau gue tanyain sama lu." Ucap Sena dan dijawab angguka Abi. "Lu bareng kak Shaka ya Jin!" Titahnya.
"Gak usah, gue pesen ojol aja!" Jawab Jingga seraya mengotak atik Hpnya membuat Shaka berdecak kesal.
Ia rampas Hp dari tangan sang gadis. "Bareng gue? Atau HP lu milik gue?" Ancamnya dan berlenggang pergi.
******************
Jangan lupa like dan komennya yaa gaiss😘😘 Ramaikan kolom komentar nya, mak othor sendirian nih! Takut diculik🙈
Ini yang kek punya dua laki🤣
Ini laki pertama😜
Ini laki kedua😜
__ADS_1