Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 53


__ADS_3

Hari minggu tiba. Me time days untuk ketiga gadis dan satu bumil yang tengah berkumpul dikamar sang calon pengantin yang bentar lagi akan melepas masa lajangnya.


Seperti yang sudah diwanti-wanti dari awal oleh sang Ibu mertua, Ayra benar-benar berhenti dari pekerjaannya. Begitupun bang Ar, Ia sudah resign dari perusahaan itu dan memilih bekerja membantu sang Ayah dikantor perusahaan kecil miliknya.


Kini keempatnya tengah berbaring diatas karpet dikamar Ayra. Segala macam cemilan dan minuman berserakan disana. Mereka benar-benar tengah menghabiskan waktunya berempat dan melupakan pasangannya masing-masing.


"Eh Ril gimana rasanya malam pertama?" Tanya Feby.


"Emm.. Rasanya gue tegang banget." Timpal Rila.


"Kenapa itukan bukan pertama buat lu?" Tanya Ayra heran.


"Iya sih. Biar sebelum nikah gue sering ngelakuinnya-" Ucapan Rila dipotong Feby.


"Waahh berarti sering lu ya? Pantesan aja jadi!" Selak Feby membuat mereka tertawa.


"Yey gak gitu juga, pernah beberapa kali aja." Jawabnya dan mendapat sorakan dari ketiganya.


"Sama aja!"


Rila bangun dan duduk membawa bantal di pangkuannya. Ketiga gadis itupun mengikuti pergerakan si bumil.


"Gini ya, walaupun itu bukan yang pertama, tapi hawa malam pertama itu gak main-main. Gue bener-bener nervous tau gak." Timpal Rila.


"Gue kira karena udah biasa bakal biasa-biasa aja tuh." Timpal Agel.


"Eh eh tapi ya, gimana rasanya pas pertama kali nganu?" Tanya Ayra.


"Pertamanya sih sakit." Membuat ketiga gadis itu ikut tegang. "Tapi lama-lama enak. Ketagihan lagi."Lanjut Rila dengan senyumnya.


"Apalagi nih ya!" Rila menjeda ucapannya membuat mereka penasaran dan semakin tegang.


"Pertama gue lihat punya Devan, beuhhh gede banget!" Membuat mereka menganga.


"Segede apa?" Tanya Feby.


"Segede pisang ambon." Dan itu sukses membuat pipi Ayra merona. Ia sampai mengingat kejadian saat diruang tv waktu itu.


"Terus terus.. Gimana itu bisa masuk. Kan gede?" Tanya Feby lagi. Ayra merasa wajahnya semakin panas.

__ADS_1


"Ya bisalah! Sekecil apapun punya lu tu pisang tetep masuk." Timpal Rila.


Kedua gadis beroh ria menanggapi penuturan Rila, tapi tidak dengan Ayra. Feby melirik ke arah Ayra dan melihat rona dipipinya.


"Woy! Kenapa lu?" Tanya Feby pada Ayra.


"Hah?! E-enggak." Jawab Ayra gugup.


"Waah jangan-jangan lu udah unboxing lagi?" Todong Agel dan sukses membuat Ayra gelagapan.


"Paan sih lu, nggak lah gue masih ori yaa!" Elaknya.


"Halaah gue gak percaya, terus napa tu muka kek gitu?" Timpal Feby.


Ayra meraba-raba seluruh wajahnya. "Apa? Kenapa? Gakpapa juga " Elaknya lagi.


"Udah lu ngaku aja. Udah nyampe mana?" Goda Rila.


"Paan sih nggak!" Elaknya lagi.


"Pasti tuh pisang bang Ar dah masuk ya?" Tanya Agel. Mereka semakin gencar menggoda si calon pengantin ini.


"Gak. Gue cuma pegang kok!" Ucapnya keceplosan dan langsung membekap mulutnya sendiri.


Ayra menekuk wajahnya, Ia merasa malu mengakui semua itu didepan sahabat-sahabatnya.


"Ay punya bang Ar kek nya lebih gede ya?" Goda Feby. Membuat Ayra memukulnya dengan bantal.


"Jangan kek gitu dong gue malu." Tutur Ayra menutup wajahnya dengan bantal.


"Tapi beneran lu belom unboxing?" Tanya Agel.


"Gak lah. Gue masih sadar. Untung aja waktu tu datang bang Agung, kalo nggak mungkin gue dah jebol." Ucap Ayra.


"Pasti bang Ar agresif banget ya? Biasanya yang kalem tu lebih bahaya." Tanya Rila.


"Emm iya sih. Tapi ya, katanya yang pendiem gitu yang lebih agresif. Kalo bang Ar mah masih dibatas wajar, normal lah." Timpal Ayra.


"Waah berarti lu yang mesti hati-hati Feb!" Peringat Rila.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Feby.


"Si Rio kan pendiem. Bisa aja diem-diem menghanyutkan!" Timpal Rila.


"Isshh siapa juga yang bakal ngapa-ngapain sama dia?" Elak Feby.


"Lahh bukannya kalian dah jadian?" Tanya Ayra balik.


"Nggak." Jawab Feby murung.


"Kenapa?" Tanya ketiganya serempak. Feby terdiam hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Feb? Cerita lah sama kita!" Tanya Agel.


Feby menghembuskan nafasnya kasar. "Gue gak tau mesti gimana? Rio gak pernah ungkapin apa-apa ke gue, tapi perlakuan dia sama gue beda. Gue bingung harus mengartikan itu apa?" Tuturnya.


"Feb, lu harus percaya Rio tu cinta sama lu. Dia gak ngucapin, bukan berarti dia gak ngungkapin." Timpal Agel menyentuh pundak sahabatnya itu. Dan dijawab anggukan kepala oleh yang lainnya.


"Tapi Gel, gue jadi gak yakin. Apa susahnya sih diungkapin?" Tanya Feby.


"Sekarang gini aja. Gimana hati lu?" Tanya Agel lagi.


"Itu dia yang gue bingung. Siapa sebenarnya yang ada dihati gue. Gue mau mutusin Rio yang bakal gue pilih, tapi bang Ivan.." Feby tak meneruskan ucapannya.


"Udah lah Feb. Gak usah siksa diri lu kek gitu. Lupain bang Ivan. Lu ngungkapin kagak, gimana coba dia bakal peka?" Tutur Ayra.


"Masalahnya kemaren tiba-tiba bang Ivan telepon gue, cuma gak gue angkat. Soalnya gue dah tidur. Dan baru lihat pesannya kalo dia nunggu gue dihalaman rumahnya." Tutur Feby.


"Terus lu tanya kenapa dia hubungi lu?" Tanya Rila.


"Gak. Gue gak berani."


Mereka menghela nafasnya kasar. Sahabatnya ini kenapa gak pernah peka soal cinta.


"Ya udah lu pikirin lagi baik-baik mana yang harus lu perjuangin. Lu rasain kemana cinta lu berlabuh. Jangn terburu-buru takutnya lu bakal nyesel!" Peringat Agel dan dijawab anggukan oleh Feby.


"Udah sekarang lu jalani aja apa adanya. Bentar lagi hari bahagia gue. Gue pengen lu semua ikut bahagia buat gue!" Tutur Ayra merangkul pundak Feby dan Rila. Agel pun merangkul oundak Feby. Mereka berjejer saling merangkul. Mereka pun tersenyum dan mengangguk.


"Apapun yang terjadi, kita mesti saling cerita. Biarpun nanti kita memiliki kehidupan msing-masing. Kita harus tetep kek gini." Tutur Agel dan diiyakan mereka. "Kita kan sahabat!"

__ADS_1


*****************


*Mari-mari kasih jempolnya, vote nya gak nambah-nambah inišŸ˜… Dikasih vote nya dong, biar semangat buat malam pertama.. Eaakk🤣


__ADS_2