Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 102


__ADS_3

Hari terus berlalu, kehamilan Ayra semakin membulat. Dokter memprediksi hari persalinannya tinggal dua minggu lagi. Bang Ar dan sang istri tengah mempersiapkan segala keperluan baby nya buat nanti.


"Bang udah dimasukin semua kan perlengkapannya?" Tanya Ayra pada sang suami yang tengah merapikan barang-barang bayi kedalam tas.


"Udah. Nih udah masuk semua!" Timpal bang Ar. "Dah beres!" Bang Ar menutup tasnya dan menyimpannya didekat baby box.


Mereka disarankan untuk mempacking keperluan baby nya dari sekarang, takut-takut nanti kalo waktunya tiba akan terlupa.


"Yaudah, kita jenguk kakak Aska yuk! Kangen aku!" Ajak Ayra. Karena perutnya yang sudah semakin membulat, Ayra tak bisa sering berkunjung ke rumah sang abang.


"Yuk! Tar abang cari konci mobil dulu." Timpalnya dan berlalu mendekati meja nakas dan membuka lacinya.


"Kita pake motor aja lah bang, biar cepet!"


"Gak! Bahaya. Kita pakai mobil aja!" Tolak bang Ar yang masih mencari koncinya yang belum ketemu.


"Kenapa emang?" Tanya Ayra heran.


"Perut kamunya udah besar, tar kepencet baby nya gimana?"


Pertanyaan bang Ar sukses membuat Ayra tergelak. "Takut meletus ya?" Ledeknya.


Bang Ar menghela nafasnya kasar. Alih-alih Ia khawatir dengan baby nya. Malah dibuat candaan. Ia sampai rela menskip bikin partnya, dan hanya melakukannya beberapa kali dalam sebulan ini. Takut baby nya kepencet cenah.


"Gak lucu!" Cetus bang Ar. Membuat Ayra semakin tergelak.


"Udah ayo!" Ajaknya, mengambil konci yang ternyata berada diatas meja rias.


Keduanya berpamitan terlebih dahulu pada Ayah dan Ibu yang tengah menghabiskan quality time nya didalam kamar. Pasangan paruh baya ini, biarpun sudah tak muda lagi. Namun keduanya selalu terlihat romantis dan harmonis. Kebucinan sang Ayah sudah mendarah daging, bahkan mengalir ke darah putra semata wayangnya itu. Emang ya buah jatuh gak jauh dari pohonnya.


Didalam mobil bumil itu terus saja mengoceh membuat suaminya ikut tertawa.


"Bang beneran hari ini Siska kesini?" Tanya Ayra.


"Katanya sih gitu. Dia minta dijemput, tapi gak jadi katanya mau dijemput sama mantan kang ojeg kamu." Timpal bang Ar membuat mereka tertawa.


"Katanya baby Deril juga mau main kerumah kakak." Timpal Ayra.

__ADS_1


"Emm bagus deh biar tambah rame!" Timpal bang Ar.


**


Tak berselang lama mobil pun sampai dihalaman rumah bang Agung. Tampak mobil berjejer disana. Keduanya masuk dan mendapati rumah yang begitu ramai.


"Kakak!" Pekik seorang gadis menghampiri Ayra merentangkan tangannya ingin berhambur memeluknya. Namun bang Ar membalikkan tubuh sang istri, hingga gadis itu memeluk punggungnya.


"Kenapa dibalik sih kak?" Tanya Siska.


"Takut baby nya kepencet." Timpal bang Ar membuat Ayra kembali tertawa, untuk kesekian kalinya suaminya itu mengucapkan hal itu. Tapi tidak dengan Siska yang melongo. Ia sampai mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Udah ayo duduk, pegel ni kaki!" Ayra menggandeng lengan Siska dan duduk dikursi.


"Hai baby Deril, gantengnya onty. Sini onty gendong!" Ajaknya.


"Jangan! Tar ketindih baby nya." Larang bang Ar.


"Ihh apa sih bang pengen gendong. Gumushh tau gak?" Ayra mencubit pipi gembul bayi montok yang sudah bisa didudukan dipangkuan Mamihnya itu.


"Ya udah kamu ciumi aja. Ajak main aja jangan digendong!" Peringat bang Ar. Sungguh kelakuan bang Ar ini membuat mereka tertawa dan geleng-geleng kepala.


"Gak! Lagi ada acara keluarga dia." Timpal Rila dan dijawab anggukan olehnya.


"Kakak ini kapan launchingnya?" Tanya Siska mengelus perut Ayra.


"Katanya sih dua minggu lagi, entah! Bisa maju, bisa mundur juga." Timpalnya. "Kamu beneran dijemput Feby? Terus tu bocah kemana?"


"Iya! Kak Feby lagi ikutan masak sama Mamih, sama Ibu juga." Timpal Siska dan dijawab anggukan olehnya.


"Kek nya baby Aska bangun tuh, aku ambil dulu ya!" Siska berlalu memasuki kamar bang Agung kala mendengar tangisnya yang melengking.


Ia mendekati box bayi dan benar saja Ia mendapati baby Aska sudah tengkurap sambil menangis. "Aduh! Dede udah besar ya?" Siska mengangkat tubuhnya dan menggendongnya. "Kangen gak sama onty?"


Ketika Siska tengah mencoba menenangkan baby Aska. Bang Agung yang tengah mandi buru-buru keluar, kala tak mendengar tangis putranya lagi. Takut jatuh dari box. Pikirnya.


Ia buka pintu kamar mandi keras. Siska beralih menatap padanya dan

__ADS_1


"Aaaa!!!"


Siska menejerit dan segera berbalik. Jantungnya berdegup begitu cepat, pipinya serasa terbakar melihat pemandangan didedepannya tadi.


Bang Agung yang tersadar, buru-buru menutup lagi pintunya. Ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa Ia lupa memakai handuk? Dan tadi, Siska melihatnya. Entah apa yang akan dipikirkan gadis itu. Karena perasaan khawatirnya pada putranya, tanpa sadar Ia melupakan keadaanya. Tubuhnya yang masih terbalut sabun dan handuk yang tak sempat Ia pakai. "Memalukan!"


Ayra yang mendengar jeritan Siska langsung bergegas menyusul dengan bang Ar. "Kenapa Sis?" Tanya Ayra khwatir.


"Ah! Ng-nggak kak! Tadi ada kecoa. Iya kecoa." Jawab Siska terbata dan ngasal.


Ayra mengela nafasnya. "Kirain ada apa? Mana sini kakaknya Mama. Gendong ya!" Ajak Ayra.


"Gak usah sayang. Biar Siska aja yang gendong. Kasian baby nya!" Tolak bang Ar.


"Ihh abang kenapa sih? Ini itu gak boleh mulu, aku kangen tau sama kakak." Ucapnya memberenggut.


Bang Ar memegang kedua bahu istrinya. "Abang cuma gak mau kamu sama baby kita kelelahan. Hemm!" Ucap bang Ar mengelus pipi chuby istrinya.


Ia tau di trisemester terakhir ini, Ayra gampang sekali lelah. Jangankan untuk angkat beban, untuk berdiri saja kadang suka tak sanggup. Kehamilan yang begitu besar itu seperti membuatnya susah untuk bergerak. Dan bang Ar sangat mengkhawatirkan itu, Ia yang begitu peka memang tak harus mendapat keluhan terlebih dahulu dari sang istri.


"Udah cukup diajak main aja ya!" Titah bang Ar dan dijawab anggukan sang istri. Ayra tau betapa overprotektif nya si calon Papa ini.


"Yuk! Kakak sama Papa ya!" Bang Ar mengambil alih baby Aska dari Siska. Keduanya sudah mengklam baby Aska sebagai putra mereka juga.


Pasangan itupun keluar membawa baby Aska. Siska ditugaskan Ayra untuk membuatkannya susu. Sekarang dikamar itu sudah disediakan pantry dipojok ruangan, agar gampang saat menyiapkan susu untuk baby Aska.


Dengan perasaan yang masih tak menentu, Ia berusaha mempercepat pergerakannya. Tak ingin kembali melihat bang Agung dan ingin segera keluar dari sana. Ia menuangkan susu kedalam botol dan akan menyeduhnya. Namun sialnya tutup termos mendadak begitu sulit Ia buka. Ia terus mencoba namun tetap sama.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur dari belakangnya mengambil termos yang Ia pegang, aroma sabun begitu menyenyengat di indera penciumannya. Ia menelan salivanya susah payah dan tak berani membalikkan badan.


"Bukanya harus pelan-pelan. Nih!" Bang Agung menyodorkan termosnya, namun tak segera Siska ambil, Ia masih bergeming membuat bang Agung meyentuh lengannya.


Siska terkesiap merasakan dingin yang menyentuh kulitnya hingga Ia menoleh. Bukan jeritan seperti tadi, namun Ia hanya menganga melihat tubuh sispex bang Agung, Ia pindai tubuh sempurna didepannya. Rambut basahnya yang masih mengucur mengaliri garis wajahnya yang tegas. Dadanya yang bidang dengan otot lengan yang terbentuk. Roti sobek yang Ia lihat di dalam drakor, terpampang jelas didepannya. Handuk yang menutupi bagian bawahnya, tentu sesuatu yang berharga bersembunyi disana. Otak kecilnya traveling kemana-mana, hingga punggung tangan yang basah itu kembali menyentuh keningnya dan sukses mengejutkannya.


"Astagfirulloh!" Rona dipipi Siska muncul begitu saja. Ia menutup wajahnya dan buru-buru berlenggang keluar kamar dengan berkata. "Otakku traveling mak!"


******************

__ADS_1


Mari-mari merapat! Gak bosen-bosen ngingetin readers buat ninggalin jejak. Vote, like dan komennya ya! Mau tabur bunga juga boleh😊


__ADS_2