
Setelah memakan makanan yang dibawa oleh Siska. Kini kelima orang itu, lebih tepatnya keenam karena Ayra terus merengek memaksa untuk ikut, akan mengunjungi greenhouse untuk mengecek bibit yang kemaren belum tumbuh. Begitupun Siska, dia sangat bersemangat untuk ikut nimbrung. Pasalnya Ia begitu penasaran dengan pria yang mengaku sudah beristri itu.
Kini keenam orang tersebut sedang berjalan melewati perkebunan teh, dengan Ayra yang berada digendongan suaminya.
"Eh lu turun napa? Kasihan noh laki lu!" Titah bang Agung.
"Biarin napa sih bang? Laki gue aja gak protes, napa lu yang ribet." Timpal Ayra.
"Lu yang ribet. Gak kasihan apa sama laki lu. Noh lihat keringatnya ampe ngucur!" Timpal bang Agung.
"Cape ya bang?" Tanya Ayra khawatir. Diusapnya keringat didahi sang suami membuat bang Ar tersenyum.
"Ya udah bang aku turun aja. Gak lemes lagi kok!" Titahnya.
"Udah gak papa, bentar lagi sampai." Timpal bang Ar tersenyum membuat Ayra ikut senyum dan memcium pipi kanannya.
"Sayang abang suami!" Membuat bang Ar tertawa.
"Hadeuh bucin! Udah gak usah romantis-romantisan, bini gue kagak ada!" Protes bang Agung.
"Apa si lu bang sirik aja!" Ayra masih menimpalinya membuat sang abang memutar bola matanya malas.
"Emang istrinya kemana bang?" Tanya Siska penasaran.
"Ada dirumah, dia lagi gak mood ngapa-ngapain. Lagi hamil muda dia." Timpal bang Agung dan dijawab anggukan kepala olehnya.
"Yah aku kira istri abang lagi jadi TKW gitu." Timpal Siska.
"Kenapa emang?"
"Biar aku jadi serep nya." Timpalnya membuat mereka tergelak.
"Lu tuh, masih kecil juga. Jangan mau jadi serep!" Timpal bang Agung.
"Jadi apa dong?"
"Jadi selipan." Timpal bang Agung membuat keduanya tergelak.
"Udah lah lu masih kecil juga. Belajar dulu yang bener jangan mikirin dulu pacaran! Mana mau jadi serep istri abang lagi. Gak bakalan ada yang bisa gantiin dia, apalagi nyerpin." Ucapan bang Agung sukses membuat Siska melengos.
"Yey! Aku becanda kali. Mana mau juga aku sama abang. Ntar dikira sugar baby lagi. Kek ponakan gandeng om nya." Elak Siska.
__ADS_1
"Enak aja, ngatain om-om abang masih muda ya! Ganteng gini juga." Protes bang Agung.
"Apanya yang ganteng, udah tua gitu juga! Cogan-cogan kek Taehyung gitu. Itu baru ganteng, cool namanya. Abang gandeng aku, gak cocok!" Timpal Siska tak mau kalah.
"Wah ngeremehin nih, sini lu gandeng tangan gue!" Siska menurut menggandeng tangannya dan tersenyum puas. "Jun lihat gue!" Bang Agung memanggil Juna yang sudah didepannya, membuat dia menoleh dengan kekasihnya. Namun tidak dengan pasangan yang sudah menjuah itu.
"Menurut lu, gue gandeng gadis kek gini masih pantes gak?" Tanyanya.
Juna dan Agel hanya mengerenyit heran dengan tingkah keduanya, apalagi melihat senyum Siska yang aneh menurut meraka.
"Gak! Abang udah punya istri. Jangan macem-macem!" Timpal Agel.
Siska tergelak. Membuat bang Agung menoyor kepalanya. Ternyata Ia dikerjai bocah tengil ini. "Lagian sih bang. So..so an pengen terlihat keren. Udahlah!" Siska menghempaskan tangan bang Agung dan membuat bang Agung kesal.
Entah kenapa walaupun baru pertama bertemu, mereka terlihat langsung akrab. Ia jadi mengingat sosok sang adik dulu didirinya. 'Tu bocil persis Ayra, ngeselin.' Batinnya.
Siska berjalan mendahului pasangan didepannya. Dan bang Agung yang masih menggerutu kesal dibelakang.
**
Setelah sampai, bang Ar mendudukan sang istri disebuah bangku panjang. Ia ikut duduk disana bersandar pada meja.
"Cape ya bang? Aku kan udah bilang turunin, abang sii ngeyel." Omel Ayra pada sang suami. "Sini aku lap keringatnya!" Ayra mengelap dahi suaminya menggunakan lengan yang terbalut kaosnya.
"Ahhh! Sweet. Jadi pengen ngamer deh."
"Yuk ngamer!!"
"Gak boleh, lagi puasa!"
Bang Ar menghembuskan nafasnya pasrah sambil berdecak, membuat sang istri tergelak.
"Tahan ya bang seminggu doang!" Goda Ayra. Namun bang Ar tak menimpalinya wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Udah jangan lesu gitu, menjelajah yang lainnya masih tetap boleh bang. Asal jang si nona manis aja!" Bujuknya.
"Hemm..Iya deh. Seenggaknya masih bisa bikin part baru!" Timpal bang Ar membuat keduanya tertawa.
"Napa sih heboh banget?" Tanya Agel yang baru masuk dengan Juna, disusul Siska dan bang Agung dibelakangnya.
Merekapun ikut duduk dibangku panjang didepannya. Bang Ar dan sang istri berbalik menghadap mereka.
__ADS_1
"Gak. Ini urusan bikin part. Ada bocah harus diskip!" Timpal Ayra melirik Siska. Yang dilirik terlihat memberenggut kesal membuat mereka tertawa.
"Mang!"
"Iya. Den."
"Tolong beliin minuman dan cemilannya juga buat kakak dan teman-teman saya! Sekalian buat kalian juga" Pinta bang Ar pada mang Udin, dan memberikannya uang.
"Baik. Den!" Mang udin pun berlalu untuk pergi kewarung.
Disana selain mang Udin ada juga empat pekerja. Mereka sudah tak sungkan lagi dengan atasan mereka. Mengingat sifat bang Ar yang bebas bergaul dengan siapa saja. Membuat mereka menyukainya.
"Ini kan bibit bener semua? Terus salahnya dimana? Heran gue!" Protes bang Agung yang tengah melihat-lihat semua bibit yang sudah tumbuh itu.
"Iya. Sebenarnya apa permasalahannya?" Tanya Juna ikut heran.
"Kek nya ini mah sengaja, pihak klien ingin menjatuhkan perusahaan ayahnya bang Ar deh." Timpal Agel.
"Kalo gini caranya, mening lu tuntut aja Ar mereka!" Saran bang Agung dan dijawab anggukan mereka.
"Ayah gak pernah mau berurusan dengan rana hukum. Ribet katanya. Mending kalo produk kita bisa langsung keluar. Kalo enggak kan urusannya tambah panjang. Mana produk gak bisa edar, terus kita buang-buang uang juga, kan percuma." Timpal bang Ar.
"Iya. Bener tuh! Mending uangnya kita tabung, buat modal lagi. Terus tu produk kita pasarain sendiri." Timpal Ayra.
"Ya udah mulai besok kita bergerak!" Ajak bang Agung dan dijawab anggukan yakin oleh mereka.
"Bergerak ngapain bang?" Tanya Siska dengan polosnya.
"Ck. Lu bocil gak usah ikut campur. Masih anak bawang juga!" Timpal bang Agung.
"Paan sih bang. Cuma nanya doang! Lagian emang sih aku masih kecil, imut-imut gini." Timpalnya dengan wajah dibuat seimut mungkin.
"Idihh imut-imut cenah. Amit-amit mah iya!" Selak bang Agung membuat Siska mengerucutkan bibirnya.
"Aku sumpahin anaknya bang Agung mirip kek aku!" Timpal Siska dengan menjulurkan lidahnya.
"Enak aja. Kagak ada! Gue yang bikin, istri gue yang lahirin. Masa miripnya sama lu." Timpal bang Agung dan hanya dijawab cebikan bibir dari Siska.
Mereka tergelak melihat tingkah kedua manusia yang sudah seperti tom and jerry itu.
**************
__ADS_1
Tunjukkan jejakmu readersš¤
Kutunggu vote, like dan komennya ya!