
Setelah dinyatakan positif hamil, pasangan yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai orangtua itu, masih tinggal dirumah yang ada diperkebunan. Meski kedua orangtuanya terus membujuk mereka untuk kembali, namun mereka tetap tak mau meninggalkan rumah itu.
Dengan alasan masih betah dengan hawa yang begitu sejuk untuk mereka hirup tiap pagi. Padahal ada alasan lain yang mereka tidak ungkapkan pada kedua orangtua mereka. Bukan masalah perkebunan ataupun produk yang mereka tangani.
Namun karena satu hal yang membuat mereka nyaman disana, kebersamaan keduanya jalani tanpa orang tua mereka. Mereka tengah belajar hidup mandiri, sebelum mendapatkan rumah yang mereka impikan. Tinggal berdua memberikan kebebasan untuk keduanya merajut cinta, apalagi keromantisan mereka yang seolah tak mengenal tempat dan waktu.
Pekerjaan bang Ar pun hanya Ia kerjakan diruang kerjanya, tanpa harus masuk ke kantor. Karena memang disana ada sang Ayah yang mengurusnya. Bang Ar juga bertugas mengecek setiap perkebunan dan sawah. Pekerjaan yang dulu ayahnya lakukan sendiri, kini dilakukan berdua dengannya.
Kedua orangtua mereka pun pasrah, menyerahkan keputusannya pada keduanya. Dengan syarat mereka harus kembali setelah kehamilan Ayra menginjak trisimester akhir dan disetujui keduanya. Tetap saja rasa khawatir selalu dirasakan dua ibu itu, membuat keduanya bergantian untuk menjenguknya. Namun mereka sedikit tenang, karena setiap hari bu Titin selalu menjenguknya dan memberi kabar kepada dua calon nenek itu.
**
Hari ini pemeriksaan kedua untuk si calon Mama dan baby nya. Si calon Papa siaga pun sudah siap didepan mobil untuk mengantar sang istri menuju klinik.
Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, bang Ar masih harus merasakan morning sick setiap paginya. Hal yang seharusnya dirasakan si calon Mama, beralih pada si calon Papa. Namun itu tak membuat bang Ar mengeluh, justru Ia sangat bersyukur bisa merasakan nikmatnya menjadi calon orangtua.
"Gimana sayang udah siap?" Tanya bang Ar.
"Udah. Apa abang gak lemes mau nganter aku?" Tanya balik Ayra. Ia tentu khawatir, karena sang suami yang harus menguras isi perutnya setiap pagi.
"Gak. Abang baik-baik aja kok! Yuk berangkat keburu siang!" Ajaknya menggandeng tangan sang istri dan membukakan pintu mobil untuknya.
Jarak yang lumayan agak jauh mengharuskannya membawa kendaraan. Apalagi rumah yang mereka tempati berada diujung desa. Kalau saja mereka membawa motor, mungkin lebih baik memakai motor. Namun karena yang mereka bawa mobil, jadi dengan terpaksa memakai mobil saja.
Bukan karena apa-apa mereka tak mau menggunakan mobil, mereka suka risih dengan kejulidan ibu-ibu yang mengatai mereka suka pamer.
Tak berselang lama mobilpun sampai dihalaman klinik. Keduanya turun dengan bang Ar membukakan pintu mobil untuk istrinya. Keduanya berjalan dengan bang Ar yang menggandeng tangan istrinya. Tentu hal itu menjadi pusat perhatian mereka. Bahkan banyak dari mereka yang membicarakan ke uwuan pasangan ini.
"Aduh-aduh neng Ay, mau periksa kandungan yah?" Tanya salah satu ibu disana.
__ADS_1
"Iya bu!" Jawab Ayra dengan senyum ramahnya.
"Tuh ibu-ibu lihat! Cariin suami buat anak-anak perawannya teh harus kaya den Ardi. Jadi suami siaga atuh!" Timpal salah satu ibu lagi.
"Iya. Jangan sampai punya suami yang gak peduli sama istrinya, apalgi yang suka main tangan." Timpal salah satu ibu muda.
Mode ghibah Emak-emak disini ON, Membuat Ayra harus pura-pura tak mendengarnya. Namun pembahasannya kian menarik kala nama yang Ia kenal menjadi bahan ghibahannya.
"Iya. Kaya si Sari, anaknya bu Ningsih itu. Masa baru nikah beberapa hari udah dikasarin sama suaminya!" Timpal si ibu pertama.
"Si Sari yang suaminya ganteng itu?" Tanya si ibu muda itu.
"Iya. Kalo aku sih ya, buat apa ganteng kalo suka main tangan. Lagian ya tu bu Ningsih ngebiarin gitu aja anaknya disakiti, kalo anak aku, udah aku bawa pulang!"
Ayra menyimak sejenak percakapan mereka. 'Bu Ningsih? Kaya kenal?' Batinnya. Namun karena sifatnya yang pelupa, Ia pun kembali cuek dengan pembahasan mereka.
Berhubung hari ini ada jadwal posyandu juga, jadi klinik begitu ramai dengan ibu-ibu. Banyak juga ibu-ibu muda sepertinya disana. Bahkan banyak pula yang curi-curi perhatian pada bang Ar. Karena hanya dia seorang yang mengantar sang istri disana.
"Bang! Abang tunggu dimobil aja gih!" Titahnya.
"Kenapa?"
"Takut gantengnya habis!"
"Hah?!" Bang Ar yang tak mengerti mendongak melihat muka kusut sang istri.
Ia masukan Hp kesaku celananya. Ia cubit gemas kedua pipi istrinya. "Kenapa sih? Cemburu hemm?" Ayra tak menjawab, Ia hanya mencebikkan bibirnya.
"Udah, kamu gak usah khawatir. Abang hanya milik kamu ya!" Bang Ar mengusap kedua pipi yang Ia tarik tadi. "Yuk! Giliran kita!" Bang Ar bangun dan menarik tangan sang istri untuk ikut bangun.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju ruang pemeriksaan. Bu bidan yang bertugas, membantu Ayra berbaring. Ia mulai pemeriksaan, menyingkap bajunya dan mengolesi gel dingin untuk mengecek detak jantung si jabang bayi.
Suara dari alat yang digerakan dibagian perut sang istri mengahasilkan suara yang membuat keduanya terharu. Suara detak jantung pertama yang keduanya dengar begitu menggemaskan di telinga mereka. Usia kandungan yang sudah memasuki minggu ke sepuluh ini menjadi awal terdengar jelas ada kehidupan didalam sana.
Kebahagiaan begitu terpancar dari wajah pasangan itu. Bahkan karena tak ada keluhan muntah-muntah dan pusing Ayra hanya di beri vitamin penambah darah saja.
"Terimakasih ya bu!" Tutur Ayra dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Iya. Sama-sama neng!" Timpal bu bidan.
Setelah selesai keduanya keluar dan berpamitan pada ibu-ibu yang tadi tengah berghibah. Keduanya keluar dan masuk kedalam mobil.
"Aku seneng deh bang bisa denger detak jantungnya untuk pertama kali." Ayra terus mengelus perut ratanya itu.
Bang Ar menunduk menjangakau perut rata sang istri dan menciuminya berkali-kali. "Abang juga! Rasanya masih kek mimpi." Timpalnya.
"Ini benar-benar sebuah anugerah. Kita dikasih kepercayaan begitu cepat."
"Apa kamu gak nyesel jadi ibu muda?" Tanya bang Ar serius. Ia sampai menegakkan badannya.
"Gak dong kenapa harus nyesel?"
"Abang tau, kamu masih ingin lanjut kuliah kan?"
Ayra terseyum. "Dulu sebelum bertemu dengan abang aku emang kerja buat masuk kuliah. Pengen nerusin pendidikan aku. Tapi setelah ketemu abang aku udah gak mikirin itu lagi."
"Kenapa?" Tanya bang Age.
"Yang aku pikirin sekarang hanya Dapur, Sumur, Kasur!" Kekeh Ayra hingga keduanya pun tergelak.
__ADS_1
*****************
Ayo ramaikan! Tinggalkan jejakmu disinu readers😊