
Sore pun tiba, sang surya mulai memasuki peraduannya. Merekapun memutuskan untuk kembali kerumah.
"Gak nginep aja bang?" Tanya Ayra pada sang abang.
"Gak Ay! Kakakmu kasihan sendiri dirumah. Takut ada papa juga." Timpal bang Agung.
"Ya udah ati-ati, salam juga buat kakak!" Ayra menyalimi lengan sang abang dan dijawab anggukan olehnya.
Ayra beralih pada sahabatnya. "Lu juga mau pulang aja gel?"
"Iya. Besok kita kan masuk kerja." Timpalnya membuat Ayra murung. "Udah lu jangan sedih! Gue doain smoga masalahnya cepet kelar. Cepet pulang. Biar kita bisa hangeout bareng lagi." Lanjutnya.
Ayra berhambur kepelukan sahabatnya. "Makasih ya, lu selalu ada buat gue! Lu bukan sekedar sahabat, tapi lu saudara buat gue."
Agel membalas dekapannya. "Iya. Gue tau. Lu sehat-sehat yah, Jangan sakit! Muntah-muntahnya kalo ngidam aja!"
Keduanya tergelak. Rasanya masih aneh, kala mereka tak bertemu sehari saja. Persahabatan yang seakan tak terpisahkan, ternyata jarak memisahkan mereka sekarang. Namun bagi mereka, semua itu tak jadi penghalang. Bahkan mereka selalu saling mensuport dan saling menguatkan satu sama lain.
"Ya udah. Hati-hati ya!" Pesan Ayra pada ketiganya dan dijawab anggukan mereka.
"Bang tunggu!"
Bang Agung yang sudah memakai helmnya menoleh, begitupun Agel dan Juna yang sudah siap dimotornya.
"Nih aku petikin mangga muda dari halaman rumah. Oleh-oleh buat istri abang!" Siska menyodorkan kresek hitam pada bang Agung.
Bang Agung tersenyum dan mengambil kresek yang disodorkan Siska. "Makasih ya! Adek imut." Bang Agung mengacak kepala Siska, membuat Siska salah tingkah.
"Smoga istri dan jabang bayinya sehat-sehat ya bang! Smoga suatu hari nanti kita ketemu lagi!" Ucap Siska dengan senyumnya dan dijawab anggukan bang Agung.
Setelah berpamitan, kedua motor itupun berlalu begitupun dengan Siska yang memilih pulang kerumahnya.
Kini tinggalah sepasang manusia itu di depan rumah. Dengan Ayra yang bersandar didada sang suami, dan bang Ar merangkulnya.
"Masuk yuk! Udah mau maghrib!" Ajak bang Ar.
"Bentar bang, lihat dulu lembayung. Cantik sekali." Timpal Ayra memandang langit jingga kemerahan yang memancarkan keindahan sore hari.
Bang Ar beralih memeluk sang istri dari belakang. Menempelkan dagunya dibahu ternyaman itu.
"Dan kamu. Kamu cantik berulangkali."
Ayra tersenyum mendengar penuturan sang suami. "Emm.. Manis banget sih!" Timpal Ayra mengelus pipi sang suami.
Ayra berbalik menghadap sang suami, mengalungkan tangan dilehernya. Begitupun bang Ar yang sudah memeluk pinggangnya. Tanpa basa basi Ayra berjinjit menjangkau benda kenyal yang selalu mengucapkan kata cinta padanya itu.
Ayra melepaskan pagutannya, namun sang suami malah mengangkat tubuhnya seperti koala membuat Ayra kaget menjerit. Keduanya tertawa, menikmati kebersamaan dibawah langit senja.
"Udah yuk masuk! Anginnya udah terlalu dingin." Ajaknya dengan terus menggendongnya.
__ADS_1
"Turunin bang, akunya tar jatuh!"Titah Ayra.
"Tar abang turunin."
"Dimana?"
"Dikamar."
Kedunya tergelak, sambil berjalan dengan Ayra digendongan sang suami. Ayra kembali menjangkau bibir suaminya, menyesap rasa yang selalu membuatnya melayang.
Tanpa disadari keduanya sudah terjatuh diatas ranjang. Tubuh bang Ar sudah menindihnya. Tangannya tak mau diam mencari keberadaan benda favoritnya. Bibirnya turun menyusuri leher jenjang putih sang istri dan meninggalkan beberapa jejaknya disana.
"Udah bang!" Ayra menghentikan aksinya. "Cepet mandi! Udah maghrib."
"Ck. Tanggung yang!" Timpal bang Ar.
"Entar malam kita lanjut lagi. Sekarang mandi dulu yuk!" Ajaknya.
Bang Ar pun pasrah dan mengikuti tarikan sang istri ke kamar mandi.
Setelah melakukan ritual mandi berjamaah yang tentunya pake iklan sedikit itu, keduanya pun sudah bersiap. Bang Ar yang akan melaksanakan tiga rakaatnya, dan Ayra yang akan menyiapkan makan malam.
Walaupun Ayra tak pandai masak, namun untuk menanak nasi Ia sudah bisa. Ia menyiapkan bahan sementara menunggu sang suami yang akan masak.
Selang beberapa menit bang Ar pun tiba didapur. "Abang kira udah jadi masakannya?" Sindirnya.
"Isshh... Aku belajar dulu, lihat abang dulu masak. Biar pas." Timpalnya.
"Udah, tuh aku udah nanak nasi." Timpalnya membuat bang Ar tergelak.
"Ya udah sekarang belajar masak lauknya. Kita buat ayam goreng aja yang mudah."
Keduanya mulai bergulat dengan pisau dan bumbu-bumbu dapur. Kali ini Ayra belajar bersungguh-sungguh, Ia terus memperhatikan apa yang suaminya ajarkan. Dari mulai mengupas bumbu dan menghaluskannya. Hingga memotong ayam dan mencucinya.
Tiga puluh menit kemudian, masakan siap. Hanya ada nasi, ayam goreng, lalaban dan tak lupa sambal. Biarpun sudah ditentang keras sang suami agar tak membuat sambal namun Ayra tetep kekeuh membuatnya.
Ini adalah masakan pertama buatan Ayra. Walaupun dengan arahan-arahan dari sang suami. Namun ada rasa bangga dihatinya, bisa menyuguhkan masakannya didepan suaminya.
"Tadaaa! Akhirnya aku bisa masak.." Ayra sampai memeluk sang suami dan keduanya tertawa.
"Jangan seneng dulu, kita cobain dulu rasanya!" Timpal bang Ar dan dijawab anggukan olehnya.
Keduanya duduk dikursi dengan makanan yang sudah tersedia dimejanya. Ayra menyendokkan nasi dan kawan-kawannya untuk suami dan juga dirinya.
Tanpa menggunakan sendok, bang Ar mulai mencicipinya. Namun tidak dengan Ayra, Ia begitu tegang mendengar masukan dari suaminya. Bagai seorang peserta lomba master chef yang menunggu komentar dari jurinya. Ayra sampai berkeringat dingin. Karena terakhir dia memasak telur keasinan dan memasak nasi goreng tanpa garam.
"Gimana bang?" Tanyanya setelah nasi masuk kedalam mulut suaminya.
"Enak! Enak banget." Timpal bang Ar dan terus memakannya.
__ADS_1
"Ahh! Abang mah suka gitu, enak-enak ujung-ujungnya nggak enak!" Protes Ayra. Ia sudah sering kali kena prank suaminya. Apalagi masakannya yang selalu dipuji padahal mah gak enak.
"Beneran yang ini mah enak. Nih kamu cobain!" Bang Ar menyuapi sang istri dengan tangannya.
Ayra yang menerima suapan bergeming setelah merasakan masakannya. Tiba-tiba air matanya jatuh. Membuat bang Ar kaget.
"Kamu kenapa yang? Kok nangis? Ini beneran enak yang. Sumpah!"
Ayra mengahmbur memeluk sang suami disisinya. "Aku terhuraaaaa"
Bang Ar tersenyum merasa lega. Ternyata begitu bahagianya sang istri kala bisa memasak.
"Udah, sekarang kita lanjut makannya!" Ajak bang Ar menghapus air yang meleleh dipipinya dan dijawab anggukan sang istri.
"Besok ajarin lagi ya bang, pengen masak sayur juga!"
"Iya. Tar diajari lagi. Sekarang kita makan ya, abang udah laper ini!"
Keduanya tertawa lagi dan mulai memakan makanannya. Sesekali saling menyuapi, hingga tak terasa makanan pun tandas tak ada yang tersisa.
"Alhamdulillah!"
Ayra membawa piring kotor ke wastaple dan dan bang Ar yang merapihkan mejanya.
"Udah bang. Biarin aja , biar tar aku yang bersihin!" Titah Ayra dengan busa-busa ditangannya.
"Gak papa, biar abang bantu, biar cepet beres." Timpal bang Ar. Ayra hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah selesai keduanya beralih keruang tv, menonton tv dengan ditemani dua cangkir teh.
"Makasih ya bang udah bantu. Padahal mah aku juga bisa sendiri!" Ucap Ayra.
"Gakpapa lah. Kita itu harus kerja sama dalam hal apapun." Timpal bang Ar.
"Apa-apa berdua ya bang?" Goda Ayra.
"Iya lah. Harus dilakukan berdua. Bikin part aja berdua." Balasnya, hingga keduanya tergelak.
***************
Ayo ramaikan readers😊 Biarpun mak othor lagi tumbang🤧 tetep semangat ini buat up💪
Sehat-sehat yaa buat kaleannnn😘
Ini pak guru multi bisa😂
__ADS_1
Ini muridnya yang baru bisa masak😂