
Hari ini ternyata Rendi benar-benar menikahi Aysa. Acara dilaksanakan dengan sederhana. Karena memang acaranya dadakan tak ada waktu untuk mempersiapkan semuanya. Acara dilaksanakan dikediaman bang Agung. Hanya ada keluarga inti saja disana.
Aysa tengah didandani sang make over ditemani Ayra disana. Ia terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya putih dan riasan natural diwajahnya. Jika dilihat-lihat Aysa memang memliliki wajah yang begitu mirip dengan Ayra. Hanya saja tak terlihat lengkungan dibibir ranumnya. Tak seperti Ayra yang selalu mengumbar senyumnya pada siapapun. Dan hal itu yang membedakan keduanya.
Ayra mendekati sang sepupu yang duduk dimeja rias. Ia pegang bahunya dan tersenyum. "Kalo dikasih senyum sedikit, sempurna!" Sindir Ayra.
Aysa hanya menatap tajam Ayra dipantulan cermin, membuat Ayra tertawa.
"Udah tar mata lu copot!" Ejek Ayra. "Udah cantik kek gini juga!" Ayra memegang dagunya dan langsung ditepis Aysa dengan berdecak kesal. Membuat Ayra semakin tergelak.
"Diem lu!"
"Idiihhh bisa ngomong juga lu!" Ejeknya membuat air muka Aysa semakin masam. Ayra kembali tergelak melihat wajah kesal sepupunya.
Hal itu yang selalu membuat mereka tak pernah akur, yang satu bawel membuat yang satunya kesal.
Ayra berhenti tertawa dan menepuk pundak sepupunya. "Udah rilex in tu mukanya! Mau ampe kapan sih lu kek gini?" Tanya Ayra membuat Aysa menaikan alisnya sebelah.
"Sekarang lu mau nikah. Apa kita akan kek gini terus?" Tanya Ayra, namun Aysa masih bergeming melihat kearahnya dipantulan cermin.
Ayra tertunduk menghela nafasnya berat. "Gue harap mulai sekarang kita kek saudara pada umumnya. Bisa berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi duka. Membesarkan anak-anak kita bersama." Tuturnya.
"Sekarang kita semakin dekat, dan gue harap dekat itu bukan cuma jarak. Tapi hati kita juga." Ayra menjeda kalimatnya dan semakin tertunduk.
"Cuma lu saudara perempuan yang gue miliki, Sa!" Ada bulir yang keluar dari ujung matanya.
Aysa menyentuh sebelah tangan Ayra yang berada dibahunya, menggenggamnya erat membuat Ayra mendongak menatap pantulan cermin. Aysa tersenyum lebar pada saudara sepupunya itu. Senyum yang tak pernah Ia tunjukkan padanya.
Ayra berhambur mendekapnya dari belakang. Menempelkan dagunya dibahu sepupunya. "Gue sayang sama lu Sa!"
"Gue doain semoga lu bahagia!" Tuturnya.
"Dan soal kemarin." Ayra melepas pelukannya. "Gue minta maaf udah ghibahin lu sama bestie gue! Dan soal bang Rendi, lu tenang aja. Gue gak pernah punya perasaan apapun sama dia." Tuturnya.
"Karena hati gue udah mentok di bang Ar!" Kekehnya.
Aysa bangun dari duduknya, memeluk sepupunya itu. "Maafin aku juga ya Ay!"
Keduanya saling mendekap menyelami rasa yang seharusnya dari dulu mereka luapkan. Hingga air mata luruh dari keduanya.
__ADS_1
Mamih datang membuat keduanya melerai pelukannya. "Aduh kedua putri Mamih kok melow-melow?" Tanya Mamih menghampiri keduanya mengelus rambut keduanya.
Ayra dan Aysa segera menghapus jejak dipipinya masing-masing. Dan senyum terukir dari wajah keduanya.
"Gak Mih! Aku cuma ikut bahagia, melihat gadis kulkas ini bisa tersenyum dihari bahagianya." Canda Ayra dan langsung dapat tabokan dilengannya dari sepepunya membuat mereka tertawa bersama.
"Mamih seneng deh kalo liat kalian akur. Tetap kaya gini ya!" Mamih membawanya kedalam dekapannya. "Semoga kalian selalu bahagia!" Tuturnya dengan senyum dari wajah ketiganya.
Mamih melerai pelukannya. "Udah yuk! Tuh calon suami kamu udah nunggu!" Ajaknya. "Terus tuh rapihin dulu makeup nya!" Titahnya dan dijawab anggukan dan senyum Aysa.
**
Sang mempelai pria sudah duduk dikursi yang disediakan, Ia duduk berhadapan dengan pak penghulu dan Papih Aysa sebagai walinya. Suasana begitu khidamat, doa-doa terlantun dari pak ustadz dan orang-orang yang menghadiri itu.
Pengantin wanitapun datang dengan digandeng sepupunya, senyum terus terukir dari keduanya. Membuat mereka semua melongo melihat senyum yang begitu sama itu.
"Ini yang mana pengantin wanitanya?" Goda pak penghulu.
"Ya inilah pak!" Ucap Ayra menepuk pundak sepupunya. Membuat mereka tertawa kecil.
"Ya sudah kita mulai saja! Nak Rendi apa kamu sudah siap?" Tanya pak penghulu.
"Sepertinya ini tak bisa ditunda terlalu lama lagi." Tutur pak penghulu membuat mereka semakin cekikikan.
Aysa menyenggol lengan calon suaminya, hingga menyadarkannya. Semua tergelak melihat ekspresi si calon mempelai pria itu.
"Gimnaa bisa kita mulai?" Tanya pak penghulu.
"Iya pa!"
"Baiklah kita mulai!" Setelah mendapat wejangan dari pak penghulu dan pembacaan syahadat. Acra inti pun dimulai.
Hingga terdengar suara "SAH!" dari para saksi. Ucap syukur pun terlantun dari semua yang hadir disana.
Acara masih berjalan, tapi pasangan orangtua. baru itu sudah meninggalkan tempat acara. Mereka pulang terlebih dahulu, karena baby Shaka yang mendadak rewel.
"Kenapa ya bang, disana dedenya nangis terus? Udah nyampe rumah eh malah tidur?" Tanya Ayra keheranan.
"Dia tau, kalo kita perlu waktu berdua." Timpal bang Ar dengan msndekap sang istri dari belakang. Melesakkam wajahnya diceruk leher sang istri.
__ADS_1
Keduanya tengah berdiri didekat box bayi, setelah Ayra menidurkan baby Shaka.
Ayra meresapi perlakuan suaminya. Tak dapat dipungkiri keduanya menginginkan hal yang sama. Malam pertama mereka dirumah barunya tidak dapat mereka nikmati berdua, karena sang putra yang rewel kala jauh dari neneknya.
Hal yang suka dilakukan sang nenek sebelum tidur, tentu membuat baby Shaka sedikit rewel menginginkan hal itu. Hanya sebatas tepukan dibokongnya ketika tidur didalam box sebwlum tidur, dan hal itu sudah menjadi candu buat sang baby.
"Banghhh!!"
"Ya sayang!"
Tangan nakal bang Ar sudah bertengger didua buah kesayangannya dan bermain disana. Bibirnya terus menyusuri leher jenjangnya. Membuat Ayda men de sah.
"Kita dahuluin yah!" Ucap bang Ar.
"Apa?"
"Malam pertama si pengantin." Timpal bang Ar membuat keduanya tergelak.
Bang Ar terus menyusuri ceruknya dan tak melepas dekapannya. Membawanya keatas kasur.
Bang Ar menindihnya meraup bibir yang terus mengeluarkan de sa han yang mendayu indah ditelinganya. Satu tangannya membuka kancing baju sang istri perlahan. Menyusuri punggung mulusnya, untuk mencari pengait yang membalut dua buah favoritnya.
Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut, baju atas keduanya sudah berhamburan dimana-mana.
Ketika tangan bang Ar akan membuka piyama bawah sang istri, tiba-tiba suara ketukan dipintu membuyarkan konsentrasi keduanya.
Keduanya terdiam mendengar siapa yang mengetuk pintu.
"Ay! Lu didalam?"
Bang Ar menghela nafasnya kasar. Disaat hasratnya kian membuncak. Ambyar sudah dengan teriakan seseorang diluar sana. Bang Ar bangun dari tidurnya dengan berdecak kesal, lalu mengambil kemejanya dan berlenggang kekamar mandi.
Ayra terkekeh melihat tingkah sang suami. Ia pun bangun, mengambil pakaiannya dan memakainya.
Ia membuka pintu dan melihat seseorang didepan kamarnya dengan penampilan berantakan dan air mata yang membasahi pipinya. "Feby!" Pekiknya kaget.
****************
Jangan lupa tinggalkan jejak kaleann readers😊
__ADS_1