Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 100


__ADS_3

Pesta berlangsung begitu meriah. Semua para tamu termasuk teman-teman SMA nya kembali memenuhi acara tersebut. Banyak yang begitu memuji penampilan Ayra seperti biasa. Perut buncitnya selalu menjadi sorotan buat mereka.


Banyak yang mengucapkan selamat dan mendoakan kehamilannya. Ayra begitu bersyukur ternyata banyak yang peduli dengan baby nya. Bang Ar senantiasa selalu disamping istrinya itu. Senyum dari keduanya terus terukir. Bahkan aura keduanya melebihi pasangan ratu dan rajanya hari ini.


"Itu dua bocah kemana ya bang?" Tanya Ayra.


"Udah biarin aja. Paling cari kenalan. Kenapa emang?" Timpal bang Ar.


"Aku tuh takut mereka hilang. Tar kita mesti tanggung jawab lagi." Timpalnya membuat bang Ar tertawa.


"Kita kek lagi jagain anak TK ya?" Kekeh bang Ar.


"Iya. Takut mereka saling senggol." Timpal Ayra ikut terkekeh.


"Biarin. Tar kalo ribut terus nangis. Tinggal dikasih es krim." Timpal bang Ar membuat keduanya tergelak.


Tawa keduanya menjadi perhatian seseorang. Ia menghela nafasnya kasar. "Kalo gue gak bisa dapetin Ayra, gue harus bisa dapetin saudaranya." Ucapnya.


Sementara itu di meja pojok dua orang gadis tengah menikmati makanannya. Lebih tepatnya satu orang. Karena hanya Siska yang menikmatinya, Aysa hanya sibuk dengan Hp nya.


"Kak Aysa! Makan!" Tawar Siska namun tak digubris olehnya.


Siska geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis disampingnya. "Beneran kek ngomong sama patung!" Sindirnya.


Aysa menatap Siska tajam. Namun yang ditatap seperti menantang. "Kalo laper, makan aja! Gak usah bawel." Tutur Aysa membuat Siska dongkol. Ia sampai mengepalkan tangannya, bahkan seperti ingin mencakar makhluk disisinya itu.


Akhirnya Ia kembali menikmati makanannya. Ia tak mau ambil pusing. Mau makan mau nggak, terserah. Pikirnya.


Tiba-tiba dua orang pemuda menghampiri keduanya dan ikut duduk didepan keduanya. "Hai Siska? Aysa?" Sapa Rendi.


Siska yang tengah makan mendongak. "Kak Rendi?" Sapanya balik.


"Lagi makan ya?" Tanya Rendi dan dijawab anggukan olehnya yang tengah mengunyah dengan santainya, membuat seseorang disamping Rendi tertawa kecil.


"Napa lu?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Ada ya! Cewek yang santai aja menikmati makanannya biarpun disapa sama cowok." Tutur Ivan.


Siska kembali mendongak. "Tewus haus gimanga? Owang wapew uga!" Timpal Siska dengan makanan yang mengembung dipipinya membuat kedua cowok didepannya tergelak.


"Kamu tu ya, bener-bener lucu." Timpal Ivan menahan perutnya yang sakit, namun hanya dijawab gedikan bahu oleh Siska dan kembali menikmati makanannya.


Aysa yang tengah fokus dengan Hp nya, terdiam sejenak melihat Siska dan hanya geleng-geleng kepala. Rendi yang melihat tersenyum, ternyata gadis didepannya bisa merespon juga.


"Aysa, boleh minta nomor WA nya?" Tanya Rendi. Aysa hanya menatapnya sebentar dan kembali fokus dengan Hp nya.


Siska yang telah menyelesaikan makannya, melihat ke arah Aysa. "Kakak ditanya tuh! Diem bae." Aysa masih tak menjawab apapun.


"Ck. Percuma kakak ngomong sama dia, kek ngomong sama patung. Pantes aja kak Ayra gak mau ngajak dia. Orangnya ngeslin juga!" Tutur Siska membuat Rendi menaikan alisnya tak mengerti.


Namun sindiran Siska tak membuat Aysa terpancing. Rendi yang penasaran dengan hubungan ketiganya. Menanyakannya.


"Sebenarnya hubungan kalian tu apa?" Tanya Rendi penasaran.


"Kita gak ada hubungan. Masih normal!" Timpal Siska membuat Ivan kembali tergelak, namun tidak dengan Rendi. Ia berdecak kesal dengan jawaban Siska. Alih-alih Ia bertanya dengan serius. Eh dijawab guyonan.


Siska yang ikut tertawa akhirnya menjawab. "Kak Aysa ini sepupunya kak Ayra. Kalo aku, aku adik angkatnya kak Ayra." Timpal Siska dan dijawab anggukan olehnya.


"Oh iya kakak ini siapa?" Tanya Siska pada Ivan.


"Kenalin aku Ivan. Kamu Siska kan?" Timpalnya mengulurkan tangan dan disambut Siska, Ia mengangguk dan tersenyum.


"Aysa!" Panggil Rendi namun Aysa masih bergeming. "Boleh minta nomor WA nya?" Tanyanya lagi.


"Udah! Nomor WA aku aja. Sini Hp nya!" Siska mengadahkan tangannya untuk meminta Hp. Rendi akan memberi Hpnya namun sebelum Siska mengambilnya, Aysa terlebih dahulu mengambilnya.


Ia mengetikan beberapa nomor disana. Dan kembali menyimpan Hp nya didepan Rendi. Rendi sampai melongo melihat hal itu. Siska hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudara kakaknya itu.


"Nih. Ketik nomor kamu disini!" Ivan memberi Hp nya pada Siska. Akhirnya Ia pun mengetikan nomornya disana.


Ketika mereka tengah mengobrol, Ayra dan bang Ar menghampirinya. "Pulang yuk udah malem!" Ajak Ayra.

__ADS_1


"Bentar lagi lah kak!" Siska melirik jam ditangannya. "Baru jam sepuluh." Timpal Siska.


"Ck. Gue harus istirahat. Ini perut gue udah kram. Gak kasihan lu sama baby gue." Ucap Ayra mengelus perut buncitnya.


"Oh iya!" Siska ikut mengelus perut Ayra. "Maafin onty ya sayang. Kita pulang sekarang!" Ucapnya membuat mereka tertawa kecil, kecuali Aysa.


"Ya udah. Kak Rendi, kak Ivan kita pulang dulu ya!" Pamitnya pada kedua pemuda didepannya.


"Iya. Hati-hati dijalan!"


Aysa juga ikut berdiri saat Siska berdiri. Tanpa pamit Ia berlenggang begitu saja. Membuat mereka menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah berpamitan kepada kedua pemuda tadi, mereka juga berpamitan pada pasangan pengantin dan kedua pasangan sahabatnya untuk pulang terlebih dahulu.


Mobil melesat meninggalkan keramaian pesta, bang Ar mengantarkan dulu kedua gadis yang duduk dibangku belakang kerumah bang Agung. Setelah itu keduanya kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.


**


Tak berselang lama Mobilpun sampai. Namun bang Ar melihat sang istri yang tertidur pulas dibangku sampingnya. Karena tak mau mengganggu sang istri, bang Ar menggendongnya ala brigde style memasuki rumah, bahkan menaiki tangga menuju kamarnya.


Ia yang melihat kamarnya berantakan karena ulah dua gadis tadi, kembali keluar kamar menuju kamar sebelahnya yang tak terpakai, namun tetap rapi dan bersih.


Ia baringkan tubuh sang istri pelan. Ia selimuti tubuhnya sampai dada. Merasa tubuh sang istri pasti gerah. Bang Ar mengambil piyama sang istri untuk menggantinya.


Bang Ar mulai membuka reseleting di bagian punggungnya, membuat Ayra bergeliyat namun matanya masih tertutup. Bang Ar terus menarik gaunnya kebawah hingga terpampang gundukan yang semakin membesar bahkan menyembul dari cangkangnya.


Bang Ar menelan salivanya susah payah, jiwa kelelakiannya berontak meminta untuk dituntaskan. Bang Ar merasa kasihan dengan kondisi sang istri yang seperti kecapean. Namun Ia juga tak bisa menundanya lagi.


Akhirnya Ia tarik gaun yang melekat ditubuh sang istri hingga terlepas dan melemparnya ke sembarang arah, menyisakan kain tipis dibagian nona manis kesayangannya. Ia buka cangkang didua gundukan favoritnya. Mulai meremasnya pelan. Ia raup sebelah buah yang kian menantang itu, memainkan lidahnya dipucuk yang sudah membesar itu. Memilinnya dan menyesapnya kuat, membuat si empunya sukses men de sah.


Bang Ar membuka kemejanya tanpa melepas hisapannya. Membuka kain tipis yang menghalangi nona manisnya. Mengusap lembut si nona membuat Ayra semakin men de sah.


"Abangh!!!" Bang Ar semakin bersemangat mendengar lenguhan sang istri yang mendayu merdu ditelinganya. Satu tangannya terus meremas kedua gunung bergantian. Bibirnya menelusuri seluruh tubuhnya memberikan maha karyanya disana sini. Satu tangannya lagi semakin lincah dibawah sana. Ayra semakin dibuat melayang hingga. "Yah, banjir!!!"


****************

__ADS_1


Ayo goyangkan jempolmu! tinggalkan jejakmu readerss😉


__ADS_2