Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 45


__ADS_3

"Bangsat! kurang ajar! Berani lu sentuh cewek gue!" Teriak bang Ar dan terus melayangkan bogem mentah ke wajah Rendi.


Bugh


Bugh


"Bangun lu Banci! Pengecut lu!" Umpatan-umpatan terus terucap dari bibir bang Ar yang tengah kalap.


Setelah kepergian Ayra ke toilet, selang beberapa menit bang Ar datang. Feby memberitahu bang Ar kalo Ayra sudah terlalu lama di toilet.


Bang Ar yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya. Lama Ia menunggu didepan toilet, belum juga ada tanda-tanda Ayra keluar. Hingga Feby datang dan mengecheknya kedalam.


Betapa terkejotnya Ia kala mengetahui Ayra sudah tak ada didalam. Ia dan Feby memutuskan untuk mencarinya. Ingin menghubunginya namun tasnya tertinggal di meja.


Mereka terus mencari disekitar toilet, hingga bang ar mendengar teriakan seseorang memanggil namanya. Bang Ar terkejot melihat gadisnya yang akan dilecehkan seorang pria.


Tanpa pikir panjang Ia langsung menarik kerah baju si pria dan melayangkan bogem mentah diwajahnya hingga beberapa kali.


"Bangun lu!" Titah bang Ar mengeraskn rahangnya.


Rendi menyentuh hidungnya dan sudut bibirnya yang berdarah kena bogeman bang Ar. Ia tersenyum sinis ke arah bang Ar.


"Cih!" Rendi berdecih dan hendak bangun.


Namun segera bang Ar kembali menarik kerah bajunya membawanya bangun.


"Berani lu sentuh cewek gue!"


"Cewe lu?" Rendi bertanya dengan nada remeh. Menyulut amarah bang Ar dan ingin melayangkan kembali tangannya namun ditahan Rendi.


"Kalo lu gak dateng. Sekarang dia udah jadi cewek gue." Timpal Rendi.

__ADS_1


"Sekarang lu lepasin Ayra. Biarin dia bahagia sama gue!" Lanjutnya.


"Heuh!" Bang Ar tersenyum sinis. "Bahagia? Lu mau bahagiain Ayra. Bahagia seperti apa yang lu maksud?" Tanya bang Ar.


"Bahagia seperti lu ninggalin Anna gitu aja?" Lanjutnya.


Rendi semakin mengeraskan rahangnya. "Bukan salah gue ninggalin dia, dia sendiri yang milih ninggalin gue." Ucapnya.


"Itu karena lu pengecut!" Timpal bang Ar.


Keduanya terus mengeluarkan bola amarah dimatanya.


"Dulu gue ikhlas lepasin Anna buat lu, karena gue tau hatinya hanya buat lu. Gue ngalah karena lu sahabat gue, dan gue yakin lu bisa bahagiain dia. Tapi nyatanya?"


"Dan sekarang lu nyuruh gue lepasin Ayra buat lu. Gak akan! Gue gak kan ngulangin kesalahan gue kedua kalinya. Gue gak kan pernah lepasin Ayra sampe kapan pun pada siapapun, termasuk lu. Dan harus lu tau, hati Ayra hanya buat gue." Tutur bang Ar.


Rendi semakin geram mendengar penuturan bang Ar.


Bang Ar dan Rendi adalah sahabat dari sejak kecil, termasuk Anna juga. Persahabatan mereka terjalin sudah seperti saudara. Hingga mereka memasuki sekolah menengah atas, persahabatan mereka diuji dengan cinta.


Hingga memasuki bangku kuliah, keduanya masih pacaran. Sampai suatu hari keduanya bertengkar hebat dan Anna memilih mengakhiri hidupnya.


Bang Ar yang tau alasan Anna mengakhiri hidupnya dari diary nya, merasa kecewa dan marah pada Rendi.


Hubungan yang tak direstui orangtua Rendi, membuat Anna prustasi. Anna yang tengah hamil tak bisa bersatu dengan Rendi, hingga memilih mengakhiri hidupnya.


Dari sejak itu tak ada lagi persahabatan antara bang Ar dan Rendi.


"Kalo sampe lu masih ngusik Ayra, seumur hidup gue gakan pernah lepasin lu. ngerti!" Bang Ar mencengkram kuat kerah baju Rendi.


Hingga datang dua orang petugas dan memisahkn keduanya. Rendi memilih pergi dengan amarahnya.

__ADS_1


Bang Ar menghampiri Ayra yang tengah menangis didekapan Feby.


Bang Ar menarik tubuh langsing Ayra kedalam dekapannya. Dielusnya lembut rambut Ayra dan menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi.


Ayra membalas dekapan bang Ar, Ia sembunyikan tangisnya didada bidang bang Ar.


"Udah jangan nangis! Ada abang disini. Maafin abang ya sayang! Maafin abang!" Sesal bang Ar.


Bang Ar merasa bersalah, karena tak bisa menjaga gadisnya dengan baik dan membuatnya menangis.


Ayra mulai tenang dan tangisnya pun mulai reda.


Bang Ar melerai pelukannya. Menangkup wajah Ayra, menghapus sisa jejak kebasahannya. Ia pandangi wajah basah dengan mata dan hidung yang memerah.


Dikecupnya kening Ayra dalam, turun ke kedua matanya. Sampai ke kedua pipinya. Hingga bibirnya baru menempel dibibir Ayra, namun suara seseorang menyadarkannya.


"Woy udah woy! Gue gak lihat! Gue gak lihat!" Feby berteriak menutup matanya dan berjalan meninggalkan keduanya.


Bang Ar dan Ayra menoleh, keduanya tertawa kecil melihat kelakuan Feby.


"Maafin abang ya! Abang belom bisa jagain kamu dengan baik. Mulai sekarang abang gak akan biarin siapapun membuatmu menangis. Abang akan jaga kamu biarpun nyawa abang taruhannya!-"


Ayra menutup mulut bang Ar dengan bibirnya. Ia berjinjit menjangkau bibir bang Ar dan mengecupnya.


"Abang gak salah. Gak ada yang salah. Jangan bicara kek gitu lagi. Bawa-bawa nyawa segala lagi. Aku sayang sama abang. Aku gak mau kehilangan abang!" Timpal Ayra membuat bang Ar tersenyum.


Bang Ar menunduk menjangkau bibir Ayra. Me lu mat, menyesapnya dengan lembut tangannya terulur menahan kedua pipi Ayra. Ia melangkahkan kakinya membuat Ayra mundur dan mentok ditembok.


Satu tangan bang Ar menekan tengkuk Ayra memperdalam ciumannya, membuat Ayra mengalungkan lengannya dileher bang Ar. Satu tangannya meraih pinggang ramping gadisnya. Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut.


Lama mereka berpagut bertukar saliva, sampai kedunya kehabisan oksigen, barulah pagutan itu terlepas. Dengan menyatukan kening dan nafas memburu dari keduanya. Menandakan hasrat yang kian membuncak.

__ADS_1


"Abang gak yakin bisa tahan." Bisiknya.


***************


__ADS_2