
Tok! Tok! Tok!
"Aka bangun! Udah siang. Ntar kamu telat."
Gedoran disertai pekikan sang timom membangunkan Aska dari tidurnya. Mendadak jam wekernya tak berfungsi pagi ini. Karena belajar semalaman membuat remaja tampan ini tidur entah di jam berapa.
Ia bergeliyat dan mengucek matanya seraya mengambil jam itu diatas nakas. "Astagfiruoh!"
Ia bergegas bangkit dan membukakan pintu, seraya membalas sapaan timomnya. "Iya mom! Aku kesiangan. Jamnya gak fungsi."
Terdengar helaan napas dari wanita cantik yang masih terlihat imut diusianya itu. Sang timom masuk dan menggiring putranya untuk duduk bersamanya ditepi ranjang.
Ia pandangi wajah bantal dengan lebam yang masih menghiasi sudut bibirnya. Lalu mengusap kulit kebiruan itu lembut.
"Apa ini sakit?" Tanyanya begitu khawatir.
Aska tersenyum, Ia lupa menyembunyikan warna biru diujung bibirnya itu. Ia raih tangan sabg timom dan menggenggamnya. "Nggak mom! Gak apa-apa. Biasalah anak muda." Balasnya denga terus menyunggingkan senyumnya.
Timom peluk tubuh putranya itu. Air matanya lolos begitu saja. "Lupakan rasa itu, Nak!" Ucapnya dengan mengusap punggungnya.
"Masih banyak perempuan yang bisa kamu cintai, tapi jangan Sensen. Ingat kak! Dia adik kamu. Sama seperti dede." Lanjutnya.
__ADS_1
Malam tadi mama Ay menceritakan semuanya pada sang timom. Ia yang khawatir ingin menanyakan hal itu sejak malam tadi, namun Ia tau pastilah sang putra butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Jadi Ia memutuskan untuk bicara padanya pagi ini.
Aska melerai pelukannya, Ia tau sang timom begitu menyayanginya dan juga begitu mengkhawatirkannya. Ia usap jejak kebasahan dipipi cantik itu dengan kedua ibu jarinya.
"Pasti Mama yang bilang kan?" Tanyanya disertai kekehan.
"Nggak kok mom! Aku udah memikirkan itu semalam. Itu hanya keposesifan aku sama dede. Rasa sayangku sama dede memanglah besar. Aku takut jika dia terluka, ada rasa tak ingin ada yang melindungi dia selain aku." Tutur Aska.
"Tapi aku tau itu salah. Aku sadar ada saatnya aku tak harus selalu memperhatikan dia. Aku harus melepas tanggung jawabku untuk melindungi dia. Dan mungkin ini saatnya untuk itu."
"Dan aku sadar. Aku adalah kakak untuk adik-adikku." Ucapnya tanpa melepaskan senyumnya.
Sang timom kembali berderai air mata mendengar itu, putranya itu begitu bijak. Ia dekap kembali tubuh tegap itu dan mengusap punggungnya untuk menyemangati.
Aska kembali melerai pelukannya. "Ayo mom! Aku gak apa-apa. Aku baik-baik aja! Serius!" Bujuk Aska yang masih melihat kesedihan dari wajah sang timom.
"Janji ya! Harus move on!" Ucap sang timom dengan wajah yang masih sendu.
"Ya ampun mom! Lihatlah, aku baik-baik aja!" Ucap Aska kembali meyakinkan sang timom dan hanya dibalas wajah memelas olehnya.
"Ya udah mom! Aku harus mandi, udah siang ini." Ucap Aska melihat jam diatas nakasnya.
__ADS_1
Akhirnya timom keluar dari kamar putranya. Begitupun Aska, Ia berlalu ke kamar mandi mengejar waktu yang semakin mepet karena drama sang timom. Hingga Ia harus bisa bergerak cepat agar Ia tak terlambat.
**
Setelah pulang sekolah, Aska berniat untuk berkunjung kerumah Papa Ar. Rencananya Ia akan meminta maaf pada kedua sepupunya dan juga papa mama nya.
Saat menaiki anak tangga Ia sudah mendengar sejoli itu tengah tertawa dengan lepas. Ia mendekat mencari sumber suara, hingga Ia sampai dibalkon yang menghadap halaman belakang. Ia mendekat dan melihat sejoli itu yang tengah sibuk dengan buku ditangan mereka. Ia menyenderkan tubuhnya dengan lipatan tangan didepan dada.
"Ehemm!!!"
Deheman Aska sukses membuat mereka menoleh.
"Aka!" Sapa Sena. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang kakak.
"Aka!" Dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca, Sena hendak memeluk tubuh tegap itu.
"Stop!!!"
**************
**Jangan lupa jejaknya yaaš¤ crazy up ini... masih lanjut yaaš¤
__ADS_1
Eh, eh ada yang belum nengok si aka? Yuk tengok!š¤**