Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 60


__ADS_3

Setelah berbagai acara selesai terlaksana. Kini sepasang pengantin itu masuk ke kamarnya untuk istirahat. Belum malam pertama, karena waktu masih terlalu sore untuk dikatakan malam.


Ayra kembali gugup kala memasuki kamarnya yang masih dengan kondisi sama seperti kemarin.


Ia mendudukkan dirinya dimeja rias, menghadap cermin yang memantulkan sosok suaminya, yang tengah menyenderkan tubuhnya di balik pintu dengan tangan dilipat didada dan senyum yang terus terukir, tengah memperhatikan dirinya.


Ayra mencoba pura-pura tak melihatnya. Ia menyibukkan dirinya dengan membuka riasan dikepalanya. Entah kenapa siger dikepalanya susah sekali untuk dicabut. Dan hal itu tak lepas dari pengawasan bang Ar.


Bang Ar berjalan mendekatinya. Ia membantu membuka siger nya dan juga bunga melati yang membalut rambutnya dari belakang.


Ayra terdiam, Ia membiarkan bang Ar yang melakukannya. Perasaannya kembali gugup, bahkan sentuhan tangan bang Ar yang mengenai tengkuknya membuat jantungnya berpacu lebih cepat dan meremang seketika.


Setelah semua terlepas dari kepalanya, bang Ar membenahi rambutnya, mengelusnya sayang.


Bang Ar memeluk perut istrinya itu dari belakang, meletakkan dagunya dipundak sang istri. Bahkan meciumi rambut istrinya, menikmati aroma mint dari shamponya.


"Makasih sayang! Makasih kamu udah bersedia hidup sama abang. Makasih untuk cinta yang begitu besar yang kamu berikan sama abang. Makasih untuk tak pernah berpaling dari abang. Makasih! Makasih sayang!" Bang Ar mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya diceruk istrinya itu. Menyembunyikan bulir air dari matanya yang tak bisa Ia bendung.


Rasa haru dan bahagia menyelimuti hatinya, dicintai begitu besar oleh gadis yang sekarang menyandang sebagai istrinya adalah sebuah anugerah terindah dihidupnya.


Ayra meraih pipi suaminya dan membalikkan badannya hingga pelukan itu terlepas. Membuat bang Ar berjongkok menekukkan kakinya sebelah menghadap istrinya. Ayra termangu melihat mata merah dan jejak kebasahan dipipi suaminya. Ini pertama kali Ia melihat suaminya menangis mesti itu tangis bahagia.


Dihapusnya jejak kebasahn dipipinya itu dan mengusap lembut rahang suaminya.


"Aku juga makasih sama abang! Udah datang dihidup aku. Udah milih aku jadi pendamping hidup abang. Udah mau membalas cintaku yang sederhana ini!" Tuturnya tersenyum.


Bang Ar sampai terpejam merasakan sentuhan itu, diraihnya tangan yang bertengger dirahangnya dan mengecupnya bolak balik.


"I love you My wife!"


"Love you too my hubby!"


Bang Ar memegang kedua bahu Ayra membawanya berdiri.


Diciumnya kening sang istri lama membuat Ayra terpejam merasakan kehangatan dari sang suami.


Ciuman itu turun sampai mata, turun ke kedua pipi, sampai bertemu dengan bibir yang selalu membuatnya ingin dan ingin lagi merasakan manisnya. Mencari rasa yang selalu mentutnya untuk melakukan lebih.

__ADS_1


"Bang mandi dulu, keburu malam!" Titahnya saat ciuman itu terlepas.


"Gak usah. Mandinya sekalian aja besok!" Timpal bang Ar menyatukan keningnya dengan nafas yang memburu.


"Tapi ini lengket bang!" Ayra menggerak-gerakkan tangannya


"Gak papa tambah lengket tambah enak." Timpal bang Ar sudah mulai ngaco.


"Ihh abang-" Belum selesai protesannya, bibirnya sudah lebih dulu disambar kembali suaminya.


Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut. Membuat keduanya melayang. Tanpa sadar pakaian keduanya sudah tertanggal, menyisakan kain penutup bagian sensitipnya.


Bang Ar menggendong tubuh langsing istrinya tanpa melepas pagutannya. Digendongnya tubuh yang memiliki berat badan idel itu seperti koala.


Merebahkannya diatas kasur yang penuh dengan taburan kelopak bunga itu. Satu tangannya Ia tumpu untuk menahan berat bobot tubuhnya.


Bang Ar memandang intens tubuh gadis yang sudah resmi jadi istrinya itu dan hal itu tentu membuat Ayra tersipu.


"Jangan dilihatin terus dong bang malu!" Ayra menutup dadanya, dipandang seperti itu membuat jantungnya seakan copot.


"Jangan ditutupi! Kita terusin yaa!" Pintanya menarik tangan sang istri dan dijawab anggukan olehnya.


Membawa tangannya bermain disana, meninggalkan jejak kepimilikannya. Leher jenjangnya pun tak luput dari incarannya meninggalkan banyak karyanya disana.


Bang Ar membuka kain yang tersisa di tubuh keduanya. Hingga keduanya polos. Ayra sampai susah payah menelan salivanya melihat tubuh sispex suaminya, apalagi benda yang kemarin Ia pegang. Ternyata itu beneran besar. Sampai Ia berfikir 'Apa beneran bisa masuk?'


"Bolehkah?" Bisik bang Ar ditelinganya.


"Sakit gak bang? Itu gede banget." Jawabnya.


"Kita coba aja dulu, abang juga gak tau." Timpalnya.


Ayra yang penasaran dengan si pisang yang kemarin Ia pegang, akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Tapi pelan-pelan ya bang!" Pintanya.


"Iya. Abang bakal pelan. Kalo nanti sakit, gak usah kita lanjutin." Timpal bang Ar dan dijawab anggukan kepala oleh Ayra, namun wajahnya begitu cemas.

__ADS_1


"Kamunya rileks aja, gak usah tegang gitu! Cukup punya abang aja yang tegang" Goda bang Ar.


"Isshh abang mah. Namanya juga belum tau!" Timpal Ayra.


"Makanya kita coba." Jawabnya.


Ayra pun pasrah. Ia sampai memejamkan matanya dan menjambak rambut bang Ar kala sesuatu menghujam miliknya.


"Aww..aww sakit!!"


Bukan Ayra saja namun bang Ar ikut menjerit kala rambutnya dijambak kuat.


"Udah bang udah! Sakit jangan diterusin!" Pinta Ayra, Ia sampai menitikkan air matanya.


"Tanggung yang, bentar lagi. Gak papa jambak lagi aja, kalo perlu kamu gigit tangan abang juga boleh!" Timpal bang Ar.


"Tapi ini sakit bang. Katanya tadi kalo sakit udahan aja!" Protesnya.


Bang Ar yang sudah terlanjur tak kehabisan akal, Ia cu m bu kembali istrinya untuk memberi ketenangan.


Bang Ar mencoba menggerakkannya, hingga tenggelam sempurna. Keringat keduanya sudah bercucuran kala goa yang dilalui masih teramat sempit. Ayra sampai menarik apapun yang bisa tangannya raih kala merasakan sesak dibawah sana.


"Abang coba gerak ya!" Ucap bang Ar dan hanya dijawab anggukan oleh istrinya.


Bang Ar mulai bergerak dengan ritme pelan. Membuat Ayra menggigit bibir bawahnya untuk tak mengeluarkan suara yang meresahkan. Karena Ia tau kalo mereka sampai berisik, yang diluar akan tertarik untuk tau aktifitas mereka.


Rasa yang awalnya sakit pun hilang dan berubah menjadi rasa yang luar biasa. Tanpa mereka sadari suara-suara meresahkan yang keluar dari bibir keduanya melantun begitu saja, bahkan mereka lupa dengan sikon diluar sana yang masih teramat ramai.


Entah dimenit keberapa mereka menyelesaikan aktifitas luar biasa yang pertama mereka rasakan.


Bang Ar ambruk disisi istrinya. Ia peluk tubuh polos sang istri dan membelai rambut yang basah dengan keringat itu, menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Senyumnya terukir kala melihat bercak merah dibawah sana. Lalu Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.


"Makasih sayang, udah jadikan abang yang pertama!" Gumamnya.


*************


Entah cukup hareudang atau tidak😁

__ADS_1


ini bab udah aku up dari tadi malam tapi ditolak mulu. Terlalu semangat mungkin akunya😂 Udah aku revisi berulang-ulang, **udah bolak balik aku merangakai kata😅


Yaampun readers susah syekalii😭**


__ADS_2