
"Bang bangun! Udah mau maghrib." Ayra mengguncang bahu suaminya pelan.
"Hemmm" Bukannya bangun bang Ar malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Bangun yuk! Kita mandi dulu." Ajaknya lagi.
"Bentar lagi!" Bang Ar menimpali namun enggan membuka matanya.
Ayra menggigit bibir bawahnya kala sesuatu dibawah sana bergerak-gerak mengenai pahanya.
"Bang ih geli."
"Sekali lagi ya?" Pinta bang Ar seraya membuka matanya.
"Nanti lagi bang. Itu Mamih udah ketuk pintu nyuruh kita makan."
"Bentar aja, ya! ya!"
Bang Ar merengek, meminta mengulang aktifitas yang sudah membuatnya candu itu.
"Bentar apanya tadi aja lama." Protes Ayra.
"Gak sekarang beneran bentar aja!" Rayunya lagi.
"Tar lagi ya bang. Ini udah mau maghrib. Kata Mamih pamali. Mening kita mandi trus sholat berjamaah." Tutur Ayra.
"Ya udah, tapi mandinya berjamaah!" Pintanya lagi.
"Yuk. Tapi jangan kaget kalo baru mau masuk kita udah digodain!" Timpal Ayra.
Bang Ar yang baru sadar jika dirumah sang istri tak ada kamar mandi didalam kamarnya menghela nafasnya kasar. Ia sampai menekuk wajahnya dan berdecak kesal.
"Besok kita pindah ke rumah Ibu ya!" Pinta bang Ar.
"Kenapa?"
"Biar bisa mandi berjamaah."
Ayra tergelak melihat raut muka suaminya. Bang Ar terlihat begitu frustasi. Fantasinya akan malam pertama yang panjang dan mandi berjamaah, ternyata tak sesuai reality.
"Ya udah terserah abang aja. Kemanapun abang pergi aku akan ikut." Timpal Ayra membuat bang Ar tesenyum dan memberikan ciuman bertubi-tubi diwajah istrinya.
Pada akhirnya aktifitas menyenangkan itu tak dapat keduanya tolak. Namun sesuai kesepakatan mereka benar-benar melakukannya singkat padat dan jelas. Eh!
**
"Kamu udah mandinya?" Tanya bang Ar yang melihat istrinya masuk dengan memakai piyama panjang dan rambut yang digulung handuk kecil.
"Udah. Giliran abang gih!" Titah Ayra pada suaminya yang masih bertelanjang dada dan tengah duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
Bang Ar berjalan dan hendak membuka pintu.
"Bang!"
Bang Ar menoleh. "Kenapa?"
"Pake bajunya, diluar masih banyak orang." titahnya.
"Oh.iya!" Bang Ar berjalan kembali dan celingak celingkuk mencari sesuatu. "Koper abang dimana yang?"
"Mungkin masih diluar. Tar aku ambilin dulu." Ayra yang sudah duduk dimeja rias berlenggeng pergi keluar kamar.
Bang Ar kembali duduk ditepi ranjang menunggu sang istri mengambil kopernya.
Ayra datang membawa koper suaminya. "Tar aku ambil ya!" Ia duduk disamping suaminya, Ia membuka kopernya dan mencari kaos dan celana selutut suaminya.
"Nih!" Ayra menyodorkan pakaian yang Ia pilih.
"Dalmannya mana?" Tanyanya.
"Nih, abang aja yang ambil!" Ayra menyodorkan kopernya.
"Kenapa?"
"Takut khilaf aku!" Bang Ar tergelak mendengar penuturan istrinya.
"Gak papa lah khilaf juga, kan udah halal." Timpal bang Ar seraya memakai kaosnya.
"Tar abang angetin lagi."
"Tar mandi lagi. Dingin lagi."
"Abang angetin lagi."
"Gak selesai-selesai dong!"
"Pengennya sih jangan berenti."
"Ishhh maunya." Ayra memukul bahu suaminya. Keduanya pun tergelak.
Bang Ar berlenggang hendak membuka knop pintu.
"Bang?!"
Bang Ar menoleh, "Apa pengen diangetin lagi?" Godanya.
"Paan. Ini handuknya ketinggalan!"
Bang Ar kembali menghampiri istrinya yang tengah menyodorkan handuk. "Kirain pengen lagi." Bang Ar mendekatkan wajahnya ke arah sang istri untuk menggodanya.
__ADS_1
"Isshh udah sana! Buruan keburu malam tar gak kebagian kita maghrib nya." Ayra mendorong wajah suaminya dan membuat suminya itu tertawa sambil berlenggang keluar kamar.
**
Setelah ritual mandi dan shalat berjamaah. Kini keduanya tengah menikmati makan malam bersama. Kebetulan keluarga bang Ar dan beberapa keluarga dari Ayra sudah pulang, hingga tersisa tante dan sepupunya dari kota besar, bang Agung dan istri, juga Mamih dan Papihnya saja.
Semua tampak tenang menikmati makan malam mereka. Hingga tante Asmi memulai obrolannya.
"Oh iya nak Ardi. Kita belum kenalan. Kenalin nama tante, tante Asmi adiknya Mamih Asti" Ucapnya memperkenalkan diri.
"Dan ini anak tante namanya Aysah." Lanjutnya.
Bang Ar hanya mengangguk tersenyum.
"Ntar kalian ajak Aysah buat jalan-jalan disini ya! Dia baru pertama kali kesini." Titahnya membuat Ayra memutar bola matanya malas.
Sepupunya yang satu ini, sama sekali tak asyik diajak main. Meskipun wajah mereka mempunyai banyak kemiripan namun sikapnya yang dingin dan cuek berbanding terbalik dengan Ayra.
"Aku udah selesai." Dengan wajah datarnya Aysah berdiri dan berlenggang meninggalkan meja makan.
"Huh! Anak itu benar-benar. Maafin Aysah ya! Dia emang kek gitu." Timpalnya merasa tak enak hati dengan semua yang ada disana. Mereka yang sudah tau sifatnya itu sudah tak asing lagi.
Bang Ar tak mau ambil pusing. Dipikirannya Ia tengah mempersiapkan untuk malam pertama nya dengan sang istri. Lebih tepatnya malam pertama untuk nganu kedua.
Setelah selesai makan malam kedua pengantin baru itu kembali ke kamarnya. Ayra yang baru saja merebahkan dirinya terlentang, ditindih lagi suaminya. Kedua tangannya memeluk erat tubuh itu dan menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri.
"Isshh abang berat!" Protes Ayra mencoba menyingkirkan tubuh sang suami.
Bukan menyingkir bang Ar semakin mengeratkan pelukannnya. merasakan detak jantung yang berdegup cepat dari keduanya.
"Biarkan kek gini sebentar."
"Tapi aku sesek bang."
Bang Ar mengendurkan pelukannya dan menjatuhkan dirinya disisi sang istri, menyangga kepalanya menghadap gadis halalnya. Kakinya tetap menindih tubuh istrinya. Membalikkan tubuh itu menghadapnya. Menyelipkan anak rambut yang menjuntai diwajahnya. Mengusap pipi mulus itu lembut. "Kamu siap?"
**********
Cekrek.. cekrekš¤£
.
.
*Kencengin vote, like dan komennya ya! Mak othor lagi kurang semangat nih regara up malam pertama ditolak muluš
__ADS_1
Segini aja dulu ya besok lanjut lagiš