Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Tugas kelompok


__ADS_3

Jingga tertawa mendengar penuturan pemuda yang sudah menjadi kekasih gadungannya itu. Tentu penuturannya terasa aneh di indera pendengarannya. Seorang Shaka berbicara serius, tentu itu mustahil menurutnya.


"Udah ah gak lucu. Gue harus masuk!" Ucapnya.


"Apa menurut lu gue bercanda?" Tanya Shaka dengan nada dan tatapan sama tanpa ingin melepas pinggang gadisnya.


Jingga terkekeh. "Iya lah. Aneh!" Ucapnya seraya melepaskan diri dan berlalu masuk ke kelasnya.


Shaka masih terdiam ditempatnya. Ia memasukan kedua tangannya pada saku celananya dan menarik satu sudut bibirnya. Ia sekilas melihat sang gadis didalam sana sebelum akhirnya berlenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan satu tangannya dibawa menyentuh dadanya untuk menikmati degup jantungnya yang tak beraturan.


Jingga tersenyum mengingat ucapan pemuda yang sudah setia menemani keterpurukannya beberapa hari ini. Kata mustahil tentu yang Ia tanggap dari perkataan itu. Ia tak ingin terlalu baper lagi, seperti sebelumnya.


**


Krinnggg!!!


Suara bel pulang berbunyi begitu nyaring, semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Begitupun dengan keempat sahabat yang juga tengah berjalan beriringan dikoridor sekolah.


"Eh kita mau dimana nih kerja kelompoknya?" Tanya Sena heboh pada ketiga temannya.


"Gimana kalo ditempat biasa?" Saran Rizky.


"Itu sih keenakan di lu, yang ada bukan belajar lu mah makan mulu." Ledek Sena membuat tiga orang disana tergelak.


"Yey! Lu mah. Makan tuh penting. Berfikir juga butuh makanan untuk menambah daya tangkap otak." Balas Rizky.


"Widihh bijaknya. Kata siapa tuh?" Ledek Jingga.


"Iya lah. Kata Mamih gue." Balasnya lagi.


"Eh, menurut lu gimana bi?" Tanya Sena.


Abi mengedikan bahunya dengan wajah seperti biasa. "Terserah!"


"Ck! Lu mah gak seru. Kasih saran yang bener lah!" Protes Rizky.


"Bukan gitu, Abi kan baru lagi disini. Dia mana tau. Ya gak bi?" Bela Sena


Abi menjawab dengan anggukan dan senyum tipis. Tanpa diduga Ia mengusek pucuk kepala Sena gemas. Hal itu tentu membuat Sena terpaku. Hatinya kembali bergetar mendapat perlakuan itu. Pipinya tiba-tiba memanas, hingga Ia menunduk untuk menyembunyikan rona merah dipipinya.


Kedua temannya melongo melihat itu, mereka tak menyangka seorang Abi bisa bersikap manis seperti itu. Hingga suara seseorang menyadarakan mereka.


"Hai gaisss!!!"

__ADS_1


Sapa seseorang dari dua pemuda yang datang menghampiri mereka.


"Aka!" Sapa Sena.


"Ngapain masih disini? Cepet pulang!" Titah sang kakak.


"Idihh Aka sendiri ngapain masih disini? Cepet pulang!" Sena meniru kembali ucapan sang kakak hingga Ia berdecak kesal.


"Ck! Kamu tu ya!" Shaka hendak kembali melayangkan kata-katanya pada sang adik, namun segera diselak Aska.


"Udah! Udah! Kalian tuh." Ucap Aska menengahi. Kedua bersaudara itu hanya saling menatap sengit.


"Yuk de, Aka antar kamu pulang dulu!" Ajak Aska menggandeng tangan sang adik.


"Kita ada tugas kelompok." Balas Abi seraya menggandeng sebelah lagi tangan Sena.


Hawa kembali menegang kala tatapan dari kedua pemuda itu saling beradu. Sena yang melihat keduanya mencoba melepaskan tangan dari keduanya pelan-pelan namun itu terasa sulit.


Ia pun menghembuskan nafasnya panjang. Ia juga tak mengerti apa yang terjadi pada kedua sepupunya itu. Hingga Jingga yang mengerti hal itu segera menjadi penengah.


"Sen! Ayo cepeatan keburu sore!" Ajaknya seraya mendorong tubuhnya, hingga kedua tangan Sena terlepas dari kedua sepupunya itu.


"Kita berangkat duluan! Bye!" Pamit Jingga menyeret Sena dan berlenggang meninggalkan para pemuda disana.


"Ehh!! Tungguin gue!" Teriak Rizky berlari menyusul mereka.


"Udah lah kak! Lagian Sensen sama Abi bukan sama siapa. Dia sama Jinjin, sama Iki juga kan?" Jelas Shaka. "Dah yuk! Anak-anak basket udah nunggu!" Ajaknya.


Aska yang berencana akan mengantar sang adik pulang terlebih dahulu sebelum gabung dengan tim basket, harus mengurungkan niatnya. Ia pun akhirnya pasrah ikut berlenggang bersama sepupunya itu menuju lapangan basket.


**


"Kak Aska makin hari makin posesif ya?" Rizky memulai obrolannya ketika mereka sudah mendudukan diri diatas kursi.


Kini keempat pemuda pemudi itu sudah stay dikafe legend tempat favorit tongkrongan mereka untuk mengerjakan tugasnya.


"Lu kek baru kenal si Aka aja." Balas Jingga.


"Sejak kapan?" Tanya Abi.


"Kapan ya?" Rizky terlihat berpikir sejenak. "Mungkin dari orok." Lanjutnya dan sukses dapat toyoran Jingga.


"So tau lu!" Ucapnya.

__ADS_1


Sena hanya terdiam, Ia kembali dibuat heran oleh tingkah kedua sepupunya. Mencoba memahami arti semua itu.


"Woy! Diem bae. Ditanya tuh, mau makan apa?" Ucapan Rizky sukses membuatnya terkesiap.


"Hah?! Iya. Emm apa ya? Seblak aja deh." Balasnya.


"Kenapa?" Tanya Jingga yang melihat sahabatnya itu seperti tengah melamun.


"Ahh! Nggak!" Sangkalnya.


"Nih! Minum!" Abi menyodorkan sebotol air mineral ternama kehadapannya setelah membuka tutupnya. Hingga Sena keheranan.


Abi yang mengerti keheranan gadis disampingnya menghembuskan nafasnya. "Biar lu fokus!" Ucapnya.


"Ada aqua?" Ledek Rizky tergelak dan sukses dapat timpukan sedotan dari Sena dengan cebikan bibirnya. Namun tak ayal Ia meminumnya hingga membuat Abi tersenyum tipis.


Tak berselang lama pesenan mereka pun terhidang. Mereka memilih makan terlebih dahulu sebelum bergulat kembali dengan buku dan pulpennya.


"Kek nya kalian juga deket banget ya? Ampe makanan kesukaan aja pada tau?" Tanya Rizky yang melihat sepasang manusia didepannya tengah bertukar isi mangkuknya.


"Ya iyalah. Kita semua kan deket, makanan kesukaan lu juga gue tau." Balas Sena. "Jangankan cuma makanan favorit, nomor ukuran cidinya aja gue tau." Celetuknya.


Penuturan Sena sukses membuat ketiganya tersedak berjamaah. Sena menutup mulutnya merasa keceplosan. Entah kenapa Ia mengingat kembali, kejadian ketika dirinya membantu sang Mama menjemur pakaian dan tanpa sengaja Ia mengangakat cidi yang baru Ia kenal. Tentu Ia tau dan bisa membedakan cidi milik sang Papa dan kakaknya. Melihat cidi baru sudah dipastikan itu milik penghuni baru dirumahnya.


Sena menggigit kuku jarinya merasa malu. Abi menoleh dan menatap heran pada gadis disampingnya. Sedangkan kedua teman didepannya seketika tergelak serempak melihat ekspresi Sena.


"Wah parah lu Sen, sampe hapalin ukuran cidi segala. Kalo gitu lu tau juga dong ukuran cidi gue apa?" Ledek Rizky, hingga tendangan kaki dari Sena pun tak dapat dihindarinya. Dan hal itu sukses membuatnya meringis kesakitan.


Sena menoleh dan mendapati sepupunya tengah mentapnya heran dengan alis yang menekuk sempurna. Ia berdehem keras seraya mengalihkan pandangannya kemanapun.


"Ehemm itu, itu gue gak sengaja lihat pas lagi jemur." Ucapnya cepat.


Rizky kembali tergelak. Sedangkan Jingga hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Berbeda dengan Abi, Ia menghembuskn nafasnya panjang seraya memijit pelipisnya pelan.


"Udah buruan makan lagi. Kita harus cepet nyelesai in tugasnya!" Titah Sena untuk mengalihkan perhatian mereka.


Akhirnya mereka pun kembali meneruskan makanannya. Namun Sena masih memikirkan pasal ukuran cidi sepupunya itu. Entah kenapa otaknya malah traveling sampai pada isinya. 'Astagfirulloh! Otal gue!"


******************


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘😘


__ADS_1



Pasangan yang masih belom peka🤭 Sha'Jin😍


__ADS_2