
Ditengah ketegangan dua manusia yang tengah perang batin, datanglah segerombolan cowok tampan yang ikut bergabung disana. Hingga membuyarkan kefokusan mereka dan memecah keheningan yang terjadi disana. Bahkan hawa yang tadinya dingin kian menghangat apalagi memanas kala salah satu dari mereka melayangkan gombalan pada gadis yang menjadi idola mereka itu.
"Hai adek Sensen! Yang cantik paripurna, senyummu yang cerah mengalahkan sinar mentari siang ini. Boleh ya kakak gabung disini?" Sapanya.
"Gak!" Jawab Abi dan Aska serempak. Membuat mereka kembali hening dan melihat kearah dua pemuda yang masih dengan tatapan yang sama.
"Kenapa?" Tanya Edo keheranan.
"Udah jangan pada banyak nanya! Sana buruan lu pada cabut!" Titah Shaka.
"Tapi-" Belum selesai Edo mengutarakan protesnya, namun tatapan dari kedua makhluk yang tengah bersitegang membuat nyalinya menciut.
"Oke! Oke! Kita cabut." Edo and the gengs akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan mereka.
Disaat itu pula, makanan yang mereka pesan sampai juga diatas meja. Jingga, Rizky dan Shaka memilih memakan makanan mereka, tanpa memperdulikan kedua pemuda yang masih beradu pandang itu. Berbeda pula dengan Sena. Ia tak bisa memakan makanannya kala melihat dua sepupunya dengan keadaan yang sama. Bahkan keduanya terus fokus, tanpa mendengar sapaan Sena.
"Bi? Aka?!" Sena berusaha memanggil Keduanya namun tak membuat mereka terusik.
"Ini makanannya!" Sena mendorong mangkuk kearah Abi dan Aska bergantian, namun keduanya masih tetap sama.
Hal itu membuat Sena kesel sendiri. Ia bangkit dengan menggebrak meja. Dan hal itu sukses membuat sang kakak yang tengah menikmati basonya tersedak.
"Uhukk!! Uhuk!!"
Shaka terus terbatuk, bahkan sampai mengeluarkan air matanya. Jingga yang berada disisinya reflek menepuk pundaknya, mengambil tissue dan menempelkan pada bibirnya. Tanpa ragu Shaka meraih tangan Jingga dan mengelapkan tissue yang dipegangnya. Hingga tatapan keduanya bertemu.
Sementara dua insan itu masih sibuk dengan tatapannya. Sena hendak pergi, namun tangammya dicekal Abi.
"Duduk!" Titahnya.
"Nggak! Gue mau ke kelas." Sena menghempaskan tangan Abi.
Abi hendak kembali meraih tangan gadis disampingnya. Namun tangannya dicekal Aska.
Tanpa kata Aska berdiri dan memggenggam tangan lembut itu dan membawanya pergi dari sana. Takut akan sorot mata sang kakak yang mendadak berubah, Sena pun pasrah mengikuti langkahnya.
Abi menyunggingkan seringai tipisnya, lalu wajahnya kembali datar dengan tatapannya tajam kedepan. Ia berlenggang dari sana tanpa kata apapun meninggalkan ketiga temannya.
"Sebenarnya mereka kenapa sih, gue makin bingung lihatnya?" Tanya Rizky dan kembali mengunyah makanan dimulutnya.
__ADS_1
"Ck! Gak peka amat lu. Udah jelas-jelas itu tuh cinta segitiga namanya." Jelas Shaka.
"Yey, gue kan belom paham yang gituan. Tau sendiri lah gue kan masih suci." Celetukan Rizky sukses mendapatkan toyoran dikepala dari teman disampingnya.
"Suci pala lu? Ngaku aja suci, tontonan lu bikin jijik!" Selak Shaka membuat Rizky tergelak.
Jingga hanya geleng-gelang kepala melihat keduanya. "Ya lu jelas tau lah kak, lu kan pakarnya!" Sindirnya.
"Pakar paan? Gue mah pacaran aja belom. Lu tuh yang udah suhu. Gue sih gak yakin bibir lu masih perawan?" Ledek Shaka dengan suara menggema, hingga semua atensi mengarah padanya.
Jingga menghembuskan napasnya panjang. Sungguh ingin rasanya menyumpal mulut rombeng itu dengan rawit. Biar gak cuma pedas, sekalian dower juga tu bibir. "Gue emang pacaran. Tapi gue tau batasan!" Ucapnya menatap tajam mata pemuda disampingnya.
Tanpa kata lagi Jingga berlenggang meninggalkan kedua pemuda yang mematung ditempatnya. Shaka terdiam melihat punggung sang gadis, hingga hilang ditelan belokan.
"Lu sih Sha. Kalo ngomomg tuh dijaga napa?" Protes Rizky. "Dia tuh cewek!" Lanjutnya.
"Punya lambe kok ya lemes banget!" Celetuknya.
Tanpa kata Shaka bangkit dan berlenggang pergi juga, meninggalkan Rizky sendiri dengan kebingungannya.
"Woy!! Ya elah! Gue ditinggalin sendiri lagi." Gerutunya. "Ini gue gimana ngabisin ini semua?" Tanyanya kebingungan, melihat semua makanan yang masih tersaji. Apalagi dengan tiga mangkuk yang masih utuh.
"Untung nama gue Rizky, Tuhan selalu kasih Rejeki lebih deh buat gue." Gumamnya seraya mengecek dompetnya yang alhamdulillah nya tebal. Hingga dapat dipastikan semua makanan dimeja dapat Ia bayar.
Dengan pasrah, Ia membayar semua makananya dan membagikan tiga mangkuk yang utuh pada teman-temannya.
**
Sementara itu Sena menghentikan tarikan lengan sang kakak disebuah taman. Hingga reflek Aska ikut berhenti. Ia menoleh dengan menautkan alisnya. "Kenapa?" Tanyanya.
"Aka balik lagi gih, ke kantin! Aka harus makan!" Titahnya membuat lengkung senyum itu terukir.
"Nggak papa. Aka akan nemenin kamu disini." Balasnya dengan tatapan yang membuat Sena tenang kembali.
"Gak usah kak! Cepetan aka balik, Aka harus makan! Aku gak mau ya, kena omel lagi sama timom." Protes Sena.
"Tapi kan kamu-" Belum selesai ucapannya, telunjuk halus nan putih bertengger didepan bibirnya dan sukses membuatnya bungkam.
Deg!
__ADS_1
Degup jantung Aska kembali berpacu cepat. Entah perasaan aneh apa yang Ia rasakan. Hingga pipinya tiba-tiba terasa terbakar dan memerah. Kulitnya yang seperti susu begitu kentara terlihat dimata siapa saja.
Sena yang melihat wajah sang kakak bak kepiting rebus, tentu shok. Ia usap kening dan pipinya bergantian. "Ya ampun! Wajah Aka." Pekiknya dengan panik.
"Tuh kan apa aku bilang, aka harus makan! Mag nya pasti kambuh lagi nih." Omelnya. "Udha yuk! Kita UKS." Ajakanya seraya akan menyeret lenganya.
Aska yang tak mau dilihat aneh sang adik, segera menolaknya. "Eehh! Nggak usah! Biar aka sendiri aja." Tolaknya gelagapan.
"Gak papa kak ayo!" Ajak Sena lagi dengan khawatir. Namun Aska tetap menolaknya.
"Gak papa beneran, Aka sendiri aja! Katanya kamu mau disini. Ya udah disini aja. Ntar aka balik lagi kesini. Ya!" Ucapnya, lalu berlenggang begitu saja.
"Tapi kan kak! Aka!" Teriakan Sena tak membuat sang kakak berbalik. Ia terus fokus berjalan kedepan dengan menarik dan membuang nafasnya berulang kali.
'Ini bener-bener gila. Sadar ka! Dia adek lu, dia adek lu' Batinnya terus berperang.
Sena menghembusakan nafasnya panjang seraya menatap punggung sang kakak yang kian menjauh. "Kalo ampe parah, gawat nih! Kena omel timom lagi gue. Huh~" Gerutunya seraya menghembuskan napasnya kasar.
Ia berjalan menyusuri jalan kecil menuju sebuah ayunan. Ia mendudukan diri diatas ayunan itu. Membiarkan angin sepoi-seoi menerpa wajah cantiknya dan rambut yang ikut berterbangan mengikuti alunan sang bayu yang berhembus tenang.
Ia memejamkan matanya seraya pikirannya kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu. Mengingat apa yang terjadi pada kedua sepupunya.
Tiba-tiba hatinya bergetar kala senyum yang jarang terlihat, membayangi pikirannya. Hingga Ia reflek membukakan matanya. Namun Ia dibuat terpaku, kala wajah seseorang yang baru menguasai pikirannya, sekarang tepat berada didepan wajahnya. 'Abi!!!' Batinnya.
****************
Hai hai! Bocah-bocah tampan come back euyy🤭
Yuk ramaikan! Biar mak othor semangat nulisnya🤗
Ini yang dingin-dingin nyegerin, yang menyegarkan hati😍
Ini yang secerah mentari, yang menghangatkan hati😍
__ADS_1
Ini yang semanis madu, yang melelehkan hati😍