
Hari semakin sore, senja mulai menampakan warnanya. Pemakaman pun harus segera dilaksanakan. Dengan berat hati semua mencoba mengikhlaskan sosok yang mereka sayangi itu.
Semua pelayat yang mengiringi jenazah sudah meninggalkan pemakaman, tinggallah bang Agung, Ibu kak Icha, Papih dan Mamih yang masih disana. Bang Agung dan Ibu masih terasa berat untuk meninggalkan pemakaman.
"Ayo Gung! Kamu harus kuat, malam ini tahlilan pertama. Kita harus segera pulang!" Ajak Papih menepuk pundak sang putra.
"Bu! Kita pulang ya. Kita harus menyiapkan untuk acara tahlilan!" Ajak Mamih merangkul bahu besannya dan dijawab anggukan olehnya.
"Sayang! Kita pulang dulu ya. Kamu yang tenang, nanti kita kesini lagi!" Tutur bang Agung dengan air yang lolos dari matanya. Bahkan kedua wanita di sebrangnya kembali terisak lirih.
Akhirnya keempatnya kembali ke kediaman bang Agung karena hari semakin gelap, bahkan adzan sudah berkumandang menemani langkah mereka pulang.
**
Acara tahlilan diadakan ba'da Isya. Bang Ar dan Ayra pulang terlebih dahulu untuk mandi dan berganti pakaian. Rencananya mereka akan menginap dirumah sang abang. Bahkan sebelum kembali mereka menyempatkan mampir kerumah sang Mamih untuk membawakan orangtuanya pakaian ganti.
Kini acara tahlil pertama dimulai. Banyak yang ikut hadir memberi doa pada almarhumah. Acara diadakan begitu khidmat dari membacakan surat Yasin dan dilanjutkan dengan doa-doa tahlil.
Acara selesai pukul sembilan malam. Semua jamaah tampak sudah meninggalkan kediaman, hanya tinggal Ibu kak Icha, Mamih Papih, dan Ayra juga Bang Ar. Ayah dan Ibu sudah berpamitan untuk pulang.
Setelah melakukan makan malam bersama mereka memutuskan untuk beristirahat. Mamih yang akan tidur dengan besannya. Bang Agung dengan Papih. Dan pasangan Ayra dan bang Ar berdua. Karena kebetulan kamar ada tiga dirumah itu.
"Hari ini begitu berat untuk kita. Kita harus kuat ya bu! Cucu kita sedang menunggu." Ucap Mamih.
"Iya bu. Saya sudah mencoba buat ikhlas. Ini sudah menjadi takdir untuk kita!" Timpal Ibu kak Icha.
"Ya udah, kita istirahat ya bu! Besok kita harus nengok cucu kita!" Tutur Mamih dan dijawab anggukan olehnya. Keduanyapun mulai berbaring, walaupun susah namun mereka berusaha memejamkan mata.
Sementara itu dikamar bang Agung. Ia masih terlihat terus memandang foto pernikahannya bersama sang istri dengan senyum mengembang dari keduanya.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, ini semua sudah menjadi kehendak-Nya. Kita tak tau apa yang akan terjadi esok. Sakit? Pasti. Kehilangan? Apalagi. Namun itu tak boleh terlalu larut. Ada hal penting juga yang harus kamu perhatikan." Tutur Papih menepuk pundaknya. "Anak kamu!"
Bang Agung menoleh, air matanya kembali luruh. Ini hari dimana Ia sangat cengeng di seumur hidupnya. Bang Agung yang selalu terlihat ceria dan absurd, bahkan tak pernah terlihat sedih apalagi menangis. Hari ini benar-benar menunjukkan sisi rapuhnya.
Ia simpan fotonya bersama sang istri ke atas nakas. Ia berhambur kepelukan sang Papih menumpahkan segala rasa didadanya. "Bolehkah malam ini aku jadi bocah kecilnya Papih?" Tanyanya.
"Tentu. Kamu selalu jadi bocah kecilnya Papih." Timpalnya.
Karena merasa lelah dan waktu sudah menunjukkan tengah malam bang Agung pun tertidur didekapan sang Papih. Dari kecil bang Agung memang paling dekat dengan sang Papih. Tempatnya segala mencurahkan keluh kesah dan bahagianya. Bahkan bagi bang Agung Papihnya itu bukan sekedar orang tua namun juga seorang sahabat baginya.
Dikamar lain sepasang suami istri sudah berbaring. Bang Ar sudah memasuki dermaga mimpinya, namun Ayra belum juga memejamkan matanya. Ayra terus memandang langit-langit kamar. Bayangan bersama kakak iparnya terus berputar diotaknya. Bagaikan kaset, memori kenangan bersama sang kakak ipar serasa kakak sendiri itu terngiang, dari awal keduanya bertemu sampai akhir pertemuan keduanya.
Air matanya kembali jatuh mengingat betapa dekatnya Ia dengan sang kakak.
Bang Ar yang baru memejamkan mata dibuat menoleh mendengar suara lirih disisnya. Ia melihat sang istri yang masih terjaga dengan air mata membasahi pipinya.
"Sayang! Kamu belom tidur?" Bang Ar bertanya seraya bangun dan menyangga sebelah tangannya menghadap sang istri. Ia hapus jejak kebasahan dipipi dengan ibu jarinya.
Semenjak Ayra tinggal dirumah perkebunan, keduanya belum sempat bertemu lagi. Hanya lewat VC mereka saling bertukar kabar. Merencanakan berbagai hal kala bertemu nanti. Namun Tuhan berkata lain, keduanya dipertemukan untuk yang terakhir kalinya.
Bang Ar menariknya kedalam dekapannya, mengelus rambut dan kepalanya sayang. menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Bagai sudah seperti kewajiban mutlak yang dilakukan bang Ar kala menenangkan sang istri. Menyalurkan rasa sayang dihatinya.
"Hidup, jodoh, mati! Itu kehendak Tuhan. Tak ada yang dapat menghindari kehendak-Nya. Kita pun sama, tengah menunggu hari itu tiba. Sejauh apapun kita menghindar, tak akan bisa keluar dari skenario Tuhan." Tutur bang Ar.
Ayra semakin melesakkan wajahnya didada bidang sang suami. Kepala dan hatinya begitu berat menerima semua kenyataan hari ini. Hal yang tak pernah Ia duga sebelumnya.
Ayra kembali membayangkan nasib keponakan kecilnya air matanya kembali luruh. "Bang gimana dengan baby nya abang? Keponakan kita?" Tanyanya disela isak tangisnya.
"Kita akan rawat dia bersama. Dia akan jadi putra kita juga." Timpalnya.
__ADS_1
"Kamu harus ikhlas agar kak Icha tenang disana." Lanjutnya.
"Sekarang kita tidur ya, udah malam! Besok kita harus tengok kakak bayi." Titahnya dan dijawab anggukan sang istri. Akhirnya keduanya pun memejamkan mata, mencoba melupakan rasa sakit dari kata perpisahan.
**
Pagi menyapa kedua manusia yang masih bergulat dengam selimutnya. Keduanya sampai melupakan dua rakaat kewajibannya. Bahkan matahari sudah terlihat meninggi.
Ayra terbangun dengan membuka matanya yang sembab dan membangunkan suaminya juga. Keduanya bangun dan segera membersihkan diri. Untuk kedua kalinya mereka melakukan ritual mandi tanpa embel-embel iklan. Mandi pagi ini dan sore kemarin.
Setelah rapi keduanya keluar kamar untuk melakukan sarapan bersama. Ternyata yang lain sudah selesai sarapan dan tinggallah mereka berdua. Mamih dan ibu kak Icha tengah membuat kue untuk acara tahlilan nanti malam. Bahkan Ibu Anita sudah ikut bergabung disana.
Para lelaki tengah mengobrol diruang tengah dengan beberapa kerabat jauh yang baru sempat melayat.
Setelah sarapan, keduanya diberi tugas untuk menjenguk keponakannya di rumah sakit. Merekapun pergi menggunakan taxi, karena akan mengambil kuda besinya yang kemarin sengaja ditinggal. Sedangkan mobil bang Agung sudah diambil salah satu kerabat Papih.
Tak berselang lama keduanya pun sampai. Mereka meminta izin pada petugas piket untuk melihat baby ponakannya. Setelah mendapat izin keduanya masuk dan hanya boleh melihat dari kaca. Baby mungil yang begitu putih dan tampan membuat keduanya terharu.
Ayra mengelus perut buncitnya. "Jika dia udah lahir, pasti mereka kek kembar ya bang?" Tanya Ayra.
"Iya. Pasti seru."
"Eh bang. Sini!" Ayra meletakkan tangan bang Ar diperutnya. Membuat keduanya tersenyum dan kompak berkata.
"Dia gerak!"
***************
Goyang jempolnya, tinggalkan jejaknya!😉
__ADS_1
Makasih buat yang selalu dukung mak othor🙏 Sehat-sehat buat kaleaannn😘😘