Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Perasaan aneh


__ADS_3

Bel istirahat bebunyi, semua murid dari kelas sebelas IPA dua pun berhamburan untuk mengisi perut mereka di kantin. Namun tidak dengan keempat sahabat yang lama terpisahkan itu. Kini mereka masih berada dikelas, membahas perpisahan dan pertemuan mendadak mereka.


"Sebenarnya selama ini lu kemana aja bi?" Tanya Jingga.


"Disebuah tempat yang tak dapat digapai sinyal." Timpal Abi.


"Pantesan, lu gak pernah hubungi kita! Tante Sa juga hilang kontak gitu aja." Timpal Sena. "Tapi mereka baik kan bi?" Tanyanya. Dan hanya dijawab anggukan Abi.


"Ck! Lu gak pernah berubah bi. Tetap aja kek gitu. Jangan terlalu cuek napa?" Tanya Rizky yang merasa sahabat kecilnya ini tak pernah berubah dan hanya dijawab gedikan bahu olehnya.


Seperti itulah Abi. Tak ada yang membuat respek dari sikapnya. Namun bagi mereka, itulah kelebihan sahabat satunya itu. Biarpun Ia kek kulkas, tapi perhatian dan kepeduliannnya pada semua temannya patut diacungi jempol.


"Ya udah, nemuin aka dulu yuk! Pasti mereka juga shok lihat lu." Ajak Sena.


"Gak, males! Kalian aja keluar sana. Gue mau dikelas." Timpalnya membuat Sena berdecak kesal dengan wajah cemberut.


Abi menghembuskan nafasnya kala melihat wajah cemberut yang semakin imut itu. Akhirnya Ia pasrah dan menuruti keinginan gadis didepannya dan sukses membuat Sena mengembangkan senyuman termanisnya.


Sena berdiri dan didikuti Abi pula. "Nah gitu dong!" Ia sampai mencubit pipi cowok dingin didepannya dan sedikit membuat Abi tersenyum tipis.


"Eh! Kalian gak mau ikut?" Tanya Sena.


"Gak ah! Gue laper mau ke kantin." Timpal Jingga.


"Gue juga mau nemenin Jingga. Lu berdua aja sana!" Timpal Rizky.


"Ya udah!" Sena menarik tangan Abi menautkan tangan keduanya. Lagi-lagi senyum tipis disunggingkan Abi tanpa mereka sadari.


Keduanya keluar dan menuju kelas sang kakak di lantai tiga. Dan saat sampai diujung belokan, Sena menghentikan langkahnya. Begitupun Abi yang mengikutinya, Ia ikut terdiam berdiri melihat Sena yang tengah memperhatikan sepasang insan didepan kelas sana.


"Napa?" Tanya Abi.


"Sakit!" Timpal Sena memegang dadanya, tiba-tiba air dari ujung matanya keluar begitu saja melihat pemandangan disana. Melihat seseorang yang Ia suka tengah bermesraan dengan seorang gadis.


Abi menghembuskan nafasnya panjang dengan memutar bola matanya malas. "Jadi lu gak berubah? Tetap suka sama dia?" Tanyanya dan dijawab anggukan olehnya.


"Kenapa sih kak Deril gak pernah nganggep gue seorang cewek. Kenapa dia hanya anggap gue adek kecil yang meminta manjaan darinya?" Tanyanya sedikit terisak.

__ADS_1


Abi menarik dirinya dan membiarkan Ia menangis didadanya. Dengan mengusap kepalanya, Ia membiarkan sang gadis menumpahkan sakitnya.


Setelah Sena sedikit tenang, Ia kembali menegakkan badannya. "Udah gak usah nangis lagi. Lu makin jelek kalo nangis!" Ledek Abi dan sukses mendapat timpukan darinya.


Abi memegang kedua bahu sang gadis dan menatapnya dalam Ia hapus jejak kebasahan di pipi mulusnya. "Dengerin gue! Jangan pernah berharap sesuatu yang sudah terlihat mustahil! Karena itu akan buat lu mati secara perlahan." Tuturnya dan membuat Sena semakin menunduk.


"Ck. Udah ayo!" Abi menarik tangannya untuk mengikutinya, hingga keduanya samapai didepan kelas itu dan mendapat sapaan cowoj yang tadi keduanya perhatikan.


"Haii Sen-sen?! Eh ini siapa ya?" Tanya Deril.


"Dia Abi kak!" Balas Sena sebiasa mungkin.


"Ya ampun. Ini beneran Abi? Wah lu makin cakep aja. Apa kabar?" Tanya Deril mengulurkan tangannya.


"Baik!" Jawab Abi dengan menyambut jabatan tangannya.


"Sayang! Aku ke kantin duluan ya, ntar kamu nyusul!" Si gadis yang sudah dipastikan pacarnya meminta izin untuk pergi terlebih dahulu.


"Oke! Ntar aku susul." Balas Deril dengan manisnya memperlakukan si gadis membuat Sena melengos.


Setelah kepergian sang gadis, dengan cepat Abi menarik tangan Sena menuju kelas dan diikuti Deril juga dari belakang.


"Haii aka?!" Sapa Sena membuat keduanya mengalihkan atensinya pada ketiga manusia yang baru saja masuk, bukan orang namun pada tautan tangan itu.


"Ehh! Ehh apa-apan nih!" Dengan cepat Shaka melerai tautan tangan itu.


"Isshh aka paan sih! Sakit!" Sena meringis memegang tangannya.


"Kamu tuh kecentilan banget ya de. Aka laporin ke Papa, mau?!" Ancamnya dan dijawab cebikan bibir dari sang adik.


"Dan lu? Lu siapa? Berani-beraninya lu sentuh adek gue!" Shaka yang lupa akan wajah sepupunya tak menyadari itu. Hingga membuat Deril tersenyum.


Deril merangkul pundak Abi. "Lu lupa dia siapa?" Tanyanya membuat Shaka menaikan satu alisnya.


Abi memutar bola matanya malas seraya memasukan tangannya kedalam saku.


"Lu?" Shaka memindai penampilan cowok dingin dihadapannya.

__ADS_1


"Abi!!!" Jawab Sena, Deril, dan Aska bersamaan. Mereka yang tau sifat pelupa Shaka langsung mengiblngatkannya. Ternyata sifat sang Mama ada yang terselip pada putranya.


"Iya gue inget." Selak Shaka.


"Inget juga, karena kita ingetin!" Sindir Sena dan hanya dijawab cebikan bibir oleh sang kakak.


"Lu beneran Abi?" Tanyanya seraya menangkup kedua pipinya dan melihatnya bolak balik. "Lu kemana aja? Pergi gak bilang-bilang? Lu tau kita semua khawatir sama lu, sama Onty Sa, sama Uncle Di juga." Cecarnya namun hanya diblas senyuman tipis olehnya.


"Dan yang lebih parah lagi, gue tiap hari kudu nenangin nih bocil, karena kehilangan lu." Tuturnya menunjuk Sena.


"Isshh paan sih kak. Gak ah! Lebay." Selak Sena.


"Kamu yang lebay. Ditinggal sepupu aja kek ditinggal pacar!" Timpal Shaka membuat Sena mencebikan bibirnya.


Abi kembali menyunggingkan senyumnya. 'Sebegitu berhargakah gue buat kalian?' Batinnya.


Ternyata ekspresinya itu tak lepas dari pengawasan Aska. Ia hanya mendengar tanpa menyahuti. Entah kenapa hatinya tiba-tiba resah. 'Ck. Gue kenapa sih?' Batinnya. Hingga suara seseorang menyadarkannya.


"Aka kenapa sih? Ngelamun terus? Tuh Abi!" Sena memegang bahunya hingga membuat Ia terlonjak. Aska mendongak dan mendapati tangan yang ingin menjabatnya.


"Apa kabar kak?" Tanya Abi.


Aska mencoba tersenyum seperti biasa dan menyambut uluran tangannya. "Baik!"


Mereka mengobrol dan berencana akan mengadakan makan-makan disebuah kafe untuk menyambut kedatang saudara sekaligus sahabat mereka. Walaupun Abi sempat menolak, namun kuasa sang sepupu, Shaka, tak dapat Ia tolak.


"Nah sekarang aka gak perlu khawatir, ada Abi yang jagain aku. Bisa jadi kang ojek juga, ya kan bi?" Tutur Sena dan dijawab senyuman tipis dari Abi.


"Nggak! Kamu tetep aka antar jemput!" Selak Aska.


"Tapi kan?" Belum juga ucapannya selesai kembali diselak sang kakak.


"Gak ada tapi-tapian. Kamu harus bareng aka!" Tegasnya membuat yang lain saling lirik, tau kalo Aska paling posesif pada adek nya itu.


"Aka duluan ke kantin!" Ia berlenggang keluar kelas meinggalkan mereka yang sedikit keheranan. 'Sebenarnya gue kenapa? Apa gur cemburu?' Batinnya.


*****************

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa readers😊 Kita santuy dulu bareng anak abegeh🤭 Yang mau ngasih kopi buat mak othor ntar malam gadang nemenin abang duda ngebobol, ditunggu yaa😂😂


__ADS_2