
Permainan pun berlanjut diselingi pula dengan candaan dan gelak tawa. Semua telah mendapatkan gilirannya masing-masing.
Botol terus diputar, kali ini mengenai bang Ar. "Sapa yang mau tanya?"
"Gue!" Agel yang menjawab.
"Bang! inikan malam minggu yaa?" tanyanya. Dan dijawab anggukan oleh bang Ar.
"Lu yang minum Gel, tuh bang Ar nya udah jawab." Timpal Rila.
"Paan gue belom selesai nanya woy?!" Jawab Agel dan langsung dapat sorakan dari semua orang.
Rila hanya senyum kikuk, sementara yang lainnya terbahak menertawakannya.
"Kenapa abang gak ngapel ke rumah pacarnya, dan lebih milih nongkrong sama kita?" lanjutnya lagi.
Hening.
Semua orang saling tatap.
"Mau jawab apa minum bang?" tanya Feby.
Bang Ar tersenyum dan menjawab. "Karena abang gak punya pacar."
Semua orang melongo menatap tak percaya ke arah bang Ar. Ayra sudah dipastikan paling shok disini.
"Hah. Maksudnya?" Kali ini Juna yang bertanya.
"Kita udah putus." Jawab bang Ar santai. Ayra yang mendengar itu langsung bersorak kegirangan dalam hatinya. Ingin rasanya dia salto, jungkir balik gugulingan. Namun Ia sekuat tenaga menahannya.
Ia berusaha untuk menahan senyumnya dengan menggigit bibir bawahnya. Ternyata do'a nya selama ini cepat sekali terkabul.
Semua orang mengangguk mendengar jawaban dari bang Ar. Ketiga cewek melirik penuh arti ke arah Ayra. Ayra yang dilirik hanya mentap balik ketiganya dan pura-pura tak mengerti.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Gak jodohkan?" Tanya Rila. Menglihkan atensi mereka.
__ADS_1
"Mungkin belom jodoh sayang. Kamu tu ya kalo ngomong!" Devan menimpali ucapan kekasihnya itu, takut-takut bang Ar merasa tak enak dengan ucapan sang pacar.
Bang Ar hanya tersenyum mendengar celotehan mereka.
"Eh Jun, tuh cewek lu kalah. Nih minum cepetan!" Ledek Rio menyodorkan minuman asem itu.
"Iya-iya. Gue minum." Jawab Juna pasrah meneguk minumannya.
"Uhhh...so sweet. Makin sayang deh. Sini-sini liat aku biar manis!" Agel menanggkup kedua pipi kekasihnya sembari tersenyum manis.
Juna mngecup sekilas bibir sang kekasih. Membuat semua orang melotot tak percaya melihat adegan didepan mereka. "Dah manis." ucapnya santai.
"Mata suci gue ternodai woy!!" celetuk Feby.
Sorak sorai bahkan umpatan-umpatan dari mereka pun, tak terkendali. Menambah riuh suasana disana.
Tiba-tiba datang dua orang pria dan satu perempuan.
"Hai...gaisss!! Pada ngumpul nih?" Sapa Rendi bersama Ivan dan satu perempuan, bernama Kayla.
"Boleh gabung gak?" Tanya Rendi yang membuat perempuan disebelahnya mengeplek tangannya.
"Paan sii Ren? Kok malah mau gabung sama mereka?" Protes Kayla dengan wajah juteknya.
"Kenapa? Kan biar seru, tambah rame pula." Jawab Rendi. "Lagian disini ada Ayra." lanjutnya dengan terus melihat ke arah Ayra dengan tatapan penuh damba. "Hai...Ay!" Sapanya lagi melambaikan tangan.
Ayra hanya membalas dengan senyum yang bener-bner dipaksakan.
Bang Ar yang melihat itu menatap tajam ke arah Rendi. Ada gemuruh aneh didadanya. Ada apakah gerangan?
"Ck. Udah ayo kita dimeja lain aja. Lagian disini tu udah penuh. Kita mau duduk dimana coba?" Keyla menarik tangan Rendi untuk mencari tempat duduk.
Rendi menepis tarikan lengan Keyla. " Ck. lu apa-apaan sii. Gue mau bareng Ayra disini. Lu sama Ivan aja cari meja sana." ucapnya kesal.
Ivan yang melihat perdebatan kedua sahabatnya merasa tak enak hati pada orang-orang yang ada disana.
__ADS_1
"Ren! Udah ayo. bener kata Keyla disini udah penuh!" Ajak Ivan merangkul pudak sahabatnya itu.
"Tapi Van.. Gue kan-" belum selesai bicara, Ivan langsung menarik pundaknya dan membekap mulutnya.
"Gaiisss..Kita duluan!" Pamit Ivan dan menarik sahabatnya menjauh.
"Ck. Bener-bener pantang menyerah tuh buaya satu." komentar Feby dengan geleng-geleng kepala.
"Padahal mah udah sering banget ditolak ya. Masih aja." timpal Rila.
"Seorang cowok itu pantang mundur sebelum tumbang. Selagi Ayra belom ada yang gandeng, udah dapat dipastikan dia bakal ngejar terus." Juna ikut berkomentar.
"Lu harus ati-ati Ay. Jangan ampe masuk perangkapnya." kini Devan memperingati.
"Hemmm.." Ayra hanya berdehem dan tersenyum tipis menanggapi semua komentar teman-temannya itu.
Bang Ar terus memperhatikan wajah Ayra. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Eh..gaiisss dah malam nih, pulang yuk!" Ucap Ayra melirik jam ditangan kirinya.
"Hayu.. takut gue! digantung bapak lu" timpal Feby.
"Gue kira takut setan." timpal Rio.
"Paan sii. Gak usah nakut-nakutin." Feby menatap tajam kearah Rio.
Rio hanya menyedikkan bahunya acuh.
"Ya udah, kali ini aku yang bayar!" Ucap bang Ar mengalihkan perhatian mereka.
"Gak usah bang, kita bayar masing-masing aja!" Balas Juna dan anggukan dari yang lainnya.
"Udah gak papa. Mumpung lagi ada rezeki nih." timpal bang Ar dengan senyumnya.
Semua hanya pasrah dan membiarkan bang Ar membayar tagihan mereka semua.
__ADS_1
************