
Disebuah kamar bernuansa abu hitam dengan lampu temaram, seorang pemuda baru saja merebah dirinya.
Setelah mengantarkam Ayra pulang bang Ar pun pulang ke rumahnya dan hanya disambut sang Ayah karena Ibunya sudah lebih dulu terlelap.
Dia merogoh Hp di saku celananya, yang selama dikafe tadi tidak Ia hiraukan.
Berharap akan ada pesan masuk dari seseorang, namun nyatanya nihil.
"Mungkin bagimu, aku bukanlah hal yang pantas untuk dipertahankan." lirihnya dengan memperhatikan sebuah kontak.
Terdengar helaan nafas panjang. Ia menutup matanya dengan sebelah tangan, sebelahnya lagi ditumpu untuk jadi bantal dikepalanya.
Saat akan memejamkan mata tiba-tiba terlintas bayangan seorang gadis yang tersenyum salah tingkah.
Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan senyum, mengingat gadis yang baru saja Ia antar pulang.
"Lucu sekali. Kenapa dia sangat menggemaskan?" membayangkan tingkahnya yang menurutnya aneh namun menggemaskan.
Flash back on
"Ay... udah nyampe!" ucap bang Ar, setelah kuda besinya berhenti di depan pagar rumah Ayra.
Namun karena tak ada pergerakan dari si penumpang, bang Ar menyentuh tangan yang melingkar diperutnya dan meliriknya kebelakang.
"Ay...Kamu tidur?" pertanyaan yang terlontar dari bang Ar sama sekali tidak menyadarkan Ayra.
"Ay...bangun udah nyampe!" sekali lagi bang Ar menyadarkannya disertai sentuhan dikepalanya.
Dan hal itu mampu membuat Ayra tersadar. Bang Ar yang mengira Ayra tertidur pun terkekeh saat melihat wajah Ayra.
Ya, ternyata bukan wajah bantal bangun tidur yang bang Ar lihat, namun sebuah senyuman yang terlihat konyol namun menggemaskan, dengan mata yang tak berkedip.
__ADS_1
"Sebenarnya dia kenapa? Apa dia mabuk perjalanan? Lucu sekali.." batin bang Ar, dengan sekuat tenaga menahan tawanya.
"Ehem.. Udah nyampe masuk gih!" Deheman bang Ar, mengembalikan sepenuhnya kesadaran Ayra.
Buru-buru Ayra turun dari motor, dan membenahi penampilannya dengan salah tingkah.
"kenapa gue jadi kek gini. memalukan!" rutuknya dalam hati.
Ayra benar-benar gak bisa mengontrol kewarasannya kala terlalu dekat dengan bang Ar. Benar-benar gila.
"Emm.. Yaudah bang aku masuk dulu!" sahut Ayra sambil ngacir menuju rumahnya. Sampai Ia lupa menawarkan sang pujaan mampir dan berterima kasih.
Bang Ay yang melihat itu hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala. Ia pun bergegas pergi untuk pulang, karena waktu semakin larut.
Flash back off
**
Pagi itu matahari nampak begitu cerah menyambut seseorang yang sedang berlari kecil di jalan depan rumahnya.
Setelah sedikit keluar keringat diapun kembali kerumahnya.
"Ibu, lagi bikin apa?" tanya bang Ar pada sang Ibu sambil membuka kulkas dan mengambil air dingin untuk Ia minum.
"Nasi goreng pete kesukaanmu. Sana gih mandi dulu, ntar kita sarapan bersama." timpal sang Ibu yang masih fokus dengan wajannya.
Setelah mengiyakan dan minum. Iapun pergi kekamarnya untuk membersihkan diri.
Selang 15 menit bang Ar dan kedua orangtuanya sudah berkumpul dimeja makan untuk memulai sarapan.
"Kamu akan kembali bekerja disana Ar?" tanya sang Ayah mengawali percakapan mereka, pada putra satu-satunya itu.
__ADS_1
"Iya, Yah. Aku kan masih punya tanggung jawab disana." jawabnya santai dengan terus mengunyah makanannya.
"Setelah tanggung jawabmu selesai, Ayah harap kamu berhenti kerja disana. Bantu Ayah mengawasi perkebunan kita, dan mengembangkan produk pertanian yang sedang kita kelola" ucap sang Ayah panjang lebar.
Keluarga bang Ar memang memiliki banyak perkebunan, perkebunan sayur dan teh. dan memproduksi berbagai macam produk pertanian juga.
Sebenarnya orangtuanya, bukan tak mengizinkan anaknya bekerja disana, apalagi dengan jabatannya sekarang.
Namun mengingat hanya dia putra satu-satunya dan yang mampu mengembangkan usaha kecilnya.
Ayah berharap usahanya akan lebih maju dan lebih besar ditangan sang anak dengan kemampuan yang dimilikinya.
"Iya, nanti aku pikirin lagi Yah." tukasnya.
"Terus Ar, kapan kamu kenalin calon istri kamu sama Ibu?" tanya sang Ibu. Dan selalu itu yang ditanyakannya dikala dia pulang.
Di usianya yang dirasa sudah cukup untuk berumah tangga, bang Ar belum pernah memperkenalkan wanita manapun pada orangtuanya. Atau hanya sekedar temanpun tak ada yang dibawanya pulang.
"Hmm..iya bu, nanti aku ajak kesini." sahutnya dengan perasaan yang entahlah.
Apakah kekasihnya mau diajak berkunjung bertemu orangtuanya?
"Kalo memang sudah mendapatkan yang pas, jangan ditunda-tunda lagi. Ibu dan Ayah sudah tua. Dan Ibu selalu kesepian dirumah sendiri." Ucap sang Ibu dengan wajah sendu.
Ibunya yang tidak memiliki saudara, bahkan hanya memiliki satu putra, terkadang selalu kesepian dirumahnya. Adapun kerabat jauh namun tidak tinggal dikota mereka.
"Iya bu. Doakan aja yang terbaik buat Ar ya." ucapnya lembut dengan menggenggam tangan sang Ibu.
Percakapanpun terus berlanjut diiringi senda gurau sampai sarapan selesai.
Siang harinya, bang Ar berencana untuk mengunjungi rumah Agung, teman lamanya.
__ADS_1
'Kok, aku berharap bertu dengannya lagi, ya?' Batinnya.
************