Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Sepupu kan?


__ADS_3

Sinar mentari membangunkan seorang pemuda yang tertidur dengan posisinya yang tak etis. Dan sudah dipastikan pinggangnya pasti encok tidur dengan posisi duduk diatas kursi, dengan menyangga kepalanya diatas lengan yang bertumpu diatas kasur.


Ia megerjapkan matanya kala sinar itu masuk melalui celah jendela yang persis lurus dengan arah tidurnya, hingga mengganggu indera penglihatannya.


Ia duduk dan bergeliyat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dengan uapan yang membuatnya semkain terlihat tampan. Hingga atensinya beralih pada gadis yang masih memejamkan matanya diatas kasur dihadapannya membuat Ia menyunggingkan senyumnya.


Ia berdiri dan berlenggang kearah jendela. Membuka gorden yang masih tertutup rapat, dengan sekali tarikan gorden pun terbuka dan berhasil membangunkan gadis yang terbaring diatas kasur tadi.


Sena mengangkat tangannya untuk menghalangi sinar mentari yang sangat mengganggu matanya. "Ma! Kenapa dibuka sih. Aku masih ngantuk!" Gerutunya.


Matanya terbuka sempurna kala siluet bayangan menghalangi sinar yang menyilaukan matanya tadi. Membuat Ia menoleh dan terpaku melihat lelaki jangkung yang berjalan kearahnya dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana. Rambutnya yang terlihat berantakan, namun terlihat cool dimatanya.


Abi menghampiri sang gadis dan duduk dikursi bekasnya dan menatap kearah Sena yang tak berkedip melihat kearah dirinya, hingga mata indah itu tak berhenti mengikuti pergerakannya. Hal itu tentu membuat Abi tersenyum.


Ia condongkan wajahnya mendekat kearah sang gadis. "Jangan terlalu lekat melihat. Nanti lu terpikat!" Tuturnya dan sukses membuat Sena tersadar dan gelagapan. Hingga berdehem keras.


"Ehemm paan sih lu!" Ucapanya memalingkan wajah. 'Gue kenapa sih? Kenapa gue begitu terpesona lihat dia' Batinnya seraya menggigit bibir bawahnya.


Abi memiringkan wajahnya melihat ekspresi gadis didepannya hingga kembali membuat lengkung senyum dibibirnya. 'Kenapa dia begitu menggemaskan?' Batinnya.


Abi kembali keposisi duduknya dan berdehem membuat Sena kembali menoleh kearahnya. "Ehemm gimana keadaan lu? Apa udah meningan?" Tanyanya.


Sena mengangguk. "He'em. Udah gak papa kok!" Jawabnya.


"Bisa sekolah?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh Sena.


"Mandi gih! Kita berangkat bareng!" Titahnya hedak berdiri, namun tangannya dicekal Sena hingga Abi berbalik menatapnya dan kembali membuat mata keduanya bertemu.


Entah kenapa mata lelaki didepannya begitu membuatnya nyaman, hingga sulit membuatnya berpaling untuk tidak menatapnya.


Sena buru-buru melepas pegangannya dan mengalihkan perhatiannya. "Emmm tadi malam lu tidur disini?" Tanyanya hati-hati dan dijawab anggukan Abi.


"Emm dikasur ini?" Tanyanya lagi dengan nada yang sama dan penuh keraguan.


Abi mengangkat satu sudut bibirnya dan mendekat kembali mencondongkan wajahnya hingga tepat didepan wajah cantik sepupunya.

__ADS_1


"Menurut lu?" Tanyanya.


Bukannya menjawab Sena kembali dibuat terpaku dengan wajah yang semakin mengikis jarak dengannya. Ternyata semakin dekat, wajah sepupunya ini semakin tampan. Begitupun Abi, niat hati ingin menggoda gadis didepannya. Malah dia sendiri ikut terhipnotis melihat kesempurnaan wajah cantik didepannya.


Abi semakin dekat, bahkan Ia sudah memiringkan wajahnya ingin menjangkau bibir ranum yang seolah menantangnya itu. Hingga jarak keduanya tinggal beberapa senti lagi, suara ketukan dipintu sukses membuyarkan lamunan mereka.


Tok! Tok!


Abi segera menjauhkan wajahnya dan berpaling seraya mengumpat didalam hatinya dan mengusap tengkuknya. Begitupun Sena Ia tertunduk dengan mata terpejam menyembunyikan pipinya yang kemungkinan memerah terasa terbakar.


Abi segera berlenggang untuk membuka pintu dengan pipi yang kebang kempis menarik dan membuang nafasnya kasar.


Ceklek


Pintu dibukanya hingga nampak wanita yang masih terlihat begitu cantik diusianya, dengan kerutan dahi berlipat-lipat menghiasi wajahnya.


"Aku udah bangunin dia!" Tutur Abi hingga membuat Ia tersenyum.


"Bagus deh. Jadi Mama gak perlu repot-repot neriakin dia." Timpal Mama Ay cekikikan. "Makasih ya bi! Sekarang kalian siap-siap! Kita sarapan bersama ya!" Titahnya dan dijawab anggukan Abi.


Hal itu membuat Sena menoleh dan berdecak kesal. "Ck! Bisa-bisanya dia? Huh! Apa bener gue yang minta ya? Dan gimana ceritanya coba gue sampai gagal fokus didepannya? Issshhh memalukan!" Gerutunya.


Ia pegang dada yang masih bergemuruh seraya memejamkan matanya. "Gue kenapa sih? Kenapa jantung gue jadi kek gini?" Ia menghembuskan nafasnya panjang, hingga tiba-tiba bayang wajah tampan itu kembali menari diotaknya. Ia pun buru-buru membuka matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak! Nggak! Ini gak bisa dibiarin!" Sangkalnya. "Inget Sen! Dia sepupu lu oke, ini gak boleh terjadi!" Ucapnya memperingati dirinya sendiri.


Ia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali untuk menetralkan degup jantungnya. "Huh! Kek nya gue butuh healing! Otak gue beneran udah gak sinkron. Huh! Telepon si Jinjin ah!" Ucapnya.


Ia raih Hp diatas nakas hendak menghubungi sahabatnya itu, namun Ia kembali mengingat pesan sang Mama untuk segera siap-siap dan sarapan bersama. Ia pun kembali menyimpan benda pipih itu keatas nakas dan berlenggang ke kamar mandi.


Sementara itu dikamar sebelah, Abi yang baru saja masuk kedalam kamarnya terdiam sejenak dengan menyenderkan punggungnya dipintu. Ia pegang dadanya yang sama bergemuruhnya dengan gadis yang sudah menghipnotis dirinya tadi. Dengan memejamkan matanya Ia menikmati degup jatung yang seolah megajaknya berperang itu.


"Semakin hari, rasa ini semakin sulit untuk dikendalikan. Apakah rasa ini benar?" Ucap hatinya.


Ia usap wajahnya kasar dan menyugar rambutnya kebelakang. "Gak ada rasa yang salah! Gak ada alasan untuk gue menghindar dan menolak rasa ini." Ucapnya tersenyum. "Hanya sepupu kan?"

__ADS_1


Ia pun berlenggang ke kamar mandi dangan senyumnya kala otaknya kembali dipenuhi wajah cantik itu. Ia harus segera membersihkan diri dan siap-siap sesuai perintah sang Mama mertua. Eh!


**


"Habiskan sarapan kalian ya! Jangan lupa susunya juga diminum!" Titah Mama Ay, ketika Ia selesai mengisi satu persatu piring dengan nasi goreng untuk suami dan putra putrinya. Tak lupa juga buat sepupu dinginnya itu.


"Ya ampun Ma, masih aja harus minum susu. Aka gak mau, udah besar juga!" Protes Shaka. Si sulung ini memang tak terlalu suka dengan susu, namun sang Mama selalu memaksanya.


"Sekarang kamu gak mau. Bentar lagi doyan!" Timpal Papa Ar membuat ketiganya langsung menoleh kearah sang Papa, begitupun bidadari hatinya yang sudah melayangkan tatapan menghunus kearah dirinya dengan sendok yang siap melayang diudara.


Membuat Papa Ar menelan salivanya kuat-kuat, lalu berdehem keras. "Ehemm maksud Papa, kalo gak mau udah jangan diminum." Tuturnya. "Udah cepet selesai in sarapan kalian keburu siang. Ntar telat lagi!" Titahnya megalihkan perhatian.


Hingga membuat sang Mama menghembuskan nafasnya panjang. Suaminya ini selalu saja cepat conect kalo menyangkut soal ngamer dan bikin part. Dan lupa pula akan sikon.


Mereka pun kembali melanjutkan sarapannya, hingga tak terasa sarapan pun tandas tak tersisa.


.


Setelah berpamitan ketiga siswa dengan seragam putih abu itu, sudah siap dihalaman depan.


"Kok Aka gak jemput?" Tanya Shaka pada adiknya itu.


"Tadi aka telepon, katanya gak bisa jemput soalnya mau ngantar dulu timom ke rumah sakit." Jawab Sena.


"Ya udah kamu berangkatnya sama Abi! Aka ada perlu!" Titah Shaka dan melesat meninggalkan halaman rumah.


"Naik!" Ajak Abi, membuat Sena pasrah dan naik keatas motor diboncegannya.


Abi menarik tangannya yang bertengger diujung kemeja, dan membawanya kedepan perutnya. Hingga membuat jantungnya kembali berdendang ria.


Deg


'Kalo gini caranya, lama-lama gur bisa jantungan!" Batinnya.


****************

__ADS_1


Jangan lupa jejak kalean reders! Satu jejak begitu berharga buat mak othor yang retjehan inišŸ™ˆ


__ADS_2