
Ketika bang Agung dan Siska tengah asyik berbincang, mobil yang ditumpangi Papih dan Mamih datang. Keduanya berdiri menyambut Mamih yang turun dari mobil.
"Siska? Kamu disini?" Tanya Mamih kala mendekat.
"Iya Mih. Aku kesini sama Ibu." Timpal Siska menyalimi tangan Mamih takzim. Karena waktu berkumpul dulu semua memanggil Mamih Asti Mamih, akhirnya Siska pun ikut memanggilnya Mamih juga.
"Halo dede bayi. Sama onty yuk!" Sapanya mengambil alih baby bang Agung dari gendongan Mamih.
Mamih tersenyum melihat betapa lihainya Siska memangku bayi tanpa kaku sama sekali.
"Kamu udah gak takut ya gendong bayi?" Tanyanya.
"Gak lah Mih. Kenapa harus takut?" Tanya Siska.
"Kan biasanya, kalo anak gadis itu suka takut kalo mau gendong." Timpal Mamih.
"Aku tu suka anak kecil, semua anak tetangga aku gendong. Malah suka jadi penitipan anak kalo hari minggu." Kekeh Siska membuat Mamih dan bang Agung tertawa kecil.
"Siska?!" Sapa Papih.
"Iya Pih!" Siska menyalami takzim juga tangan Papih.
"Masuk yuk! Kasihan dedenya!" Ajak Papih dan diiyakan mereka.
Mereka pun masuk dan disambut ramai oleh tante Asmi dan bu Titin. Bahkan yang lain menatap heran pada Siska yang bisa menggendong bayi.
"Akhirnya cucu Ibu pulang!" Seru Ibu Ratih, Ibunya kak Icha dan menghampirinya.
"Ibu mau gendong?" Tanya Siska.
"Gak ah! Nanti aja. Ibu masih takut." Timpalnya membuat mereka tertawa.
"Masa sih bu kalah sama anak kecil. Tuh anak gadis aja bisa?" Tanya Mamih.
"Beneran bu, saya takut. Kan terakhir saya gendong waktu Icha kecil. Udah lama banget." Timpal bu Ratih sendu.
Mamih yang mengerti merangkul pundaknya. "Udah bu, sekarang kita fokus ke cucu kita ya!" Ajaknya menyemangati membuat bu Ratih tersenyum.
"Ya udah, Sis kamu tidurin gih. Kasihan juga dari tadi digendongan mulu!" Titah Papih.
"Iya Pih. Oh iya dimana kamarnya?" Tanya Siska.
"Yuk! Ikut abang!" Ajak bang Agung.
Siska pun mengikuti langkah bang Agung kekamarnya. Ia rebahkan tubuh mungil yang terbalut bedongan selimut itu dalam box bayi. Ia selimuti tubuhnya dan mencium keningnya. "Tidur dulu ya ganteng! Ntar onty gendong lagi oke!" Ucapnya.
Bang Agung tersenyum mendengar celotehan gadis yang sudah memberinya semangat hidup itu. "Usia kamu berapa sih?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tujuh belas. Kenapa emang?"
"Masih kecil ya, tapi kok kaya emak-emak gitu." Ejek bang Agung.
Siska memukul bahu bang Agung keras. "Enak aja. Masih suci gini juga, dikatain emak-emak." Ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya. Dan sukses membuat bang Agung tertawa.
Mamih yang ingin menyusul keduanya berhenti diambang pintu yang terbuka sedikit, kala mendengar percakapan keduanya. Bahkan untuk pertama kalinya Mamih kembali mendengar tawa putra sulungnya. Ia tersenyum. Siska?
Seseorang menepuk bahunya pelan namun mampu membuat Mamih terlonjak kaget. "Astagfirulloh! Kamu tu ngagetin aja!" Omel Mamih.
"Paan sih Mih? Aku mau masuk. Kenapa Mamih ngehalangi jalan coba?" Tanya Ayra.
"Bukan gitu Mamih juga mau masuk!" Timpal Mamih.
"Terus ngapain diem didepan pintu?" Tanya Ayra lagi.
"Ck. Udahlah yuk masuk!" Tanpa menjawab Ia mengajak putrinya masuk. Ayra hanya mengedikkan bahunya dan gelengan kepala.
"Aduh! Sayangnya Mama udah pulang ya?" Tanya Ayra heboh.
Suuuuuttt!!!
Kedua orang didalam memberi isyarat pada Ayra yang heboh memanggil keponakannya. Ia sudah mengklam dirinya menjadi Mama untuk keponakannya itu.
"Kakak berisik banget sih. Tuh dede bayinya baru tidur!" Omel Siska.
"Lu udah pulang. Gue kira mau sampai malam?" Tanya bang Agung.
"Ini bocah kan minta jemput. Ya gue pulang dulu lah!" Timpal Ayra.
"Aaa kak Ay emang terdebess!" Ucap Siska memeluk Ayra. "Eh ni ponakan satu makin bulat ya. Padahal baru seminggu kita nggak ketemu?" Tanya Siska mengelus perut Ayra.
"Lu kira bola apa, bulat?" Timpal Ayra yang hanya djawab cengiran kuda oleh Siska.
"Udah. Ayo kita keluar, tar dede nya ke ganggu lagi." Timpal Mamih.
Akhirnya keempatnya keluar, membiarkan dede bayinya tertidur. Mereka kembali keruang tengah dimana orang-orang kumpul. Tepatnya hanya tinggal bu Ratih, bu Titin, tante Asmi, Aysa, Papih dan bang Ar disana. Yang lain sudah berpamitan pulang.
"Oh Iya bang. Kamu mau kasih nama siapa bayi kamu?" Tanya Papih.
"Namanya sesuai keinginan Mamihnya, Askara Giovano Aruman."
Semua tersenyum mendengar nama sang bayi yang akan menjadi cinta mereka, kesayangan mereka.
"Yuk Sis! Kita harus siap-siap dari sekarang!" Ajak Ayra.
"Kemana?" Tanya tante Asmi.
__ADS_1
"Ke pesta pernikahan sahabat aku tan." Jawab Ayra.
"Kamu ikut gih! Cari temen sana!" Titah tante Asmi pada putrinya.
"Paan sih Mih. Nggak!" Tolaknya dingin membuat Ayra memutar bola matanya malas.
"Yuk kak ikut. Pasti seru! Kita cari yang bening-bening." Ajak Siska cekikikan.
"Apa sih lu bocah. Masih kecil juga! Belajar yang bener!" Titah bang Agung membuat mereka melongo. Sedekat itukah mereka?
"Yey, biarin aja sih bang. Namanya juga lagi cari cengceman, ya gak kak?" Tanyanya pada Ayra yang dijawab tawa oleh Ayra dan cebikan bibir dari bang Agung.
"Ya udah yuk! Tar kakak kasih kenalan cowok ganteng banyak." Ajak Ayra merangkul pundak Siska. Tentu hal itu tak luput dari perhatian Aysa.
"Serius kak? Yess! Oke kita berangkat!" Keduanya hendak berlalu, namun Siska menghentikan langkahnya. "Eh tapi kak Aysa?" Tanyanya.
"Udah biarin aja! Dia mana mau bareng sama gue. Biar dia jomblo terus, karena gak mau gaul sama orang!" Timpal Ayra menatap tajam sepupunya.
Ayra dan Siska kembali melajukan langkahnya diiringi bang Ar dibelakangnya. Namun baru beberapa langkah, mereka kembali berhenti kala seaeorang berbicara.
"Aku ikut!" Ucap Aysa. Dan berjalan lebih dulu meninggalkan ketiganya.
Semua tersenyum melihat tingakh Aysa itu. Akhirnya ketiganya kembali melajukan langkahnya menuju mobil bang Ar.
Rencananya mereka akan pergi kerumah bang Ar terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan tancap makeup tentunya.
Ayra yang menjadi kakak buat adik-adik dadakannya ini tentu dibuat kewalahan, apalagi kala mereka adu pendapat membuatnya merasa pusing.
"Serah kalean. Gue udah selesai. Gue tunggu diruang tamu." Ucap Ayra. Ia memilih menunggu keduanya diruang tamu bersama sang suami.
Kamar Ayra bagai kapal pecah semua gaun dari lemari Ayra keluar semua, diacak-acak oleh kedua gadis yang hobah memilih ini itu, yang tak kunjung selesai.
Sampai tiga puluh menit kemudian keduanya baru selesai. Ayra sampai tertidur dibahu sang suami karena menunggu mereka.
"Kakak kami sudah selesai!" Teriak Siska membangunkannya.
"Sis. Bisa gak ngomong itu pelan. Kasihan ini istri abang." Omel bang Ar mendekap sang istri yang terkesiap.
"Iya bang Maaf!" Ucap Siska dengan cengir kudanya.
"Lagian kamu tuh ngagetin aja. Kalo ampe sawan gimana?" Protes bang Ar.
"Siapa? Itu kakak nggak sawan baik-baik aja." Balas Siska.
"Baby nya, kalo sawan gimana?" Penuturan sang abang sungguh membuat Siska menganga lebar. Ingin Ia menjitaknya, namun Ia tak cukup berani. Akhirnya Ia biarkan sang abang dan pasrah mengikutinya keluar rumah.
**************
__ADS_1
Ayo yang belum like, komen, vote juga! Ramaikan gaissss😉