Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Demam


__ADS_3

"Nikah?"


Kedua remaja itu shok, hingga membuka mulutnya lebar-lebar dan jangan lupakan bola mata yang hampir saja melompat keluar.


"Apaan sih Ma, main nikah-nikah aja! Emang kita ngapain coba?" Protes Sena.


"Ya kalian ngapain? Pake buka-buka kancing segala coba?" Tanya Mama Ay membuat Sena menunduk melihaat ke arah dadanya, begitupun Abi yang ikut menoleh melihatnya.


"Astagfirulloh!" Sena buru-buru menutup dadanya dengan kedua tangannya dan beralih menoleh melihat pemuda disampingnya.


"Jangan lihat-lihat!" Peringatnya membuat Abi mengedikan bahunya acuh.


Sena beralih melihat sang Mama. Ia menghembuskan nafasnya panjang. Bagaimana mungkin Ia melupakan hal itu? 'Jadi sejak tadi Abi melihatnya? Omegatt!' Batinnya.


Bahkan tadi saat dia hendak mengerjai sepupunya itu, tak menyadari kalau kancing atasnya memang sudah terbuka.


"Apa? Ada yang mau kasih penjelasan?" Tanya Mama.


"Kalo Mama mau dengerin, ya aku jelasin! Tapi kalo gak mau denger, percuma juga!" Tutur Sena.


"Gak usah muter-muter jelasin aja!" Titah sang Mama.


Sena menghembusakn nafasnya lagi sebelum memulai penjelasan yang mungkin akan memkan waktu panjang. "Jadi gini." Ia pun menjelaskan kejadiannya pada sang Mama panjang kali lebar kali luas kali tinggi, sedetail detailnya, serinci rincinya. Hingga membuat pemuda disampingnya menggeleng-gelngkan kepala seraya memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba merasa pusing dengan penjelasan gadis disampingnya, yang menurutnya terlalu berbelit-belit.


"Jadi intinya, ini salah paham!" Selak Abi.


"Ih lu mah. Ngomong sama Mama itu harus ampe selesai, harus ampe akar-akarnya." Protes Sena dan hanya dijawab hembusan nafas panjang dari sepupunya itu.


"Jadi Abi ngapain kamu masuk-masuk kamar Sena?" Tanya Mama Ay.


"Ayo lu ngaku ngapain?" Ledek Sena membuat sang Mama menegurnya.


"Sena!" Seketika gadis cerewet itu terdiam.


Ketika sidang tengah berlangsung, tiba-tiba seseorang membuka pintu membuat atensi mereka teralihkan.


Ceklek!


Hingga nampaklah dua pemuda diambang pintu, dengan satu pemuda yang masih memakai seragam dan satunya lagi sudah berpakaian rapih.

__ADS_1


"Ada apa sih ribut-tibut?" Tanya Shaka dengan menyenderkan dirinya dipintu dengan memasukan tangannya ke dalam saku.


"Mama lagi sidang!" Timpal Mama Ay, membuat kedua pemuda itu mengerenyitkan dahinya heran.


"Sidang apaan?" Tanya Aska dan hendak masuk.


"Mama mencyduk mereka lagi-" Belum sempat Mama Ay meneruskan kata-katanya sudah diselak putrinya.


"Ma!" Peringat Sena. Ia yang tak mau kakak-kakaknya tau soal tadi menghentikannya.


Abi berlenggang menghampiri kedua pemuda itu. "Ambilin gue baju ganti!" Titahnya pada Shaka.


"Enak aja lu nyuruh gue, emang gue emak lu." Sewot Shaka yang tak terima dirinya diperintah-perintah membuat Abi memutar bola matanya malas.


"Kalo lu gak ribet. Dari tadi juga gue ambil sendiri." Tuturnya seraya melirik kearah Sena dan menatapnya tajam. Membuat Sena mengerjapkan matanya berkali-kali, mencerna kata-kata sepupunya itu.


"Lu ke kamar gue ya?" Tanya Shaka dan dijawab anggukan olehnya.


"Lu gak nyentuh barang gue kan?" Tanya Shaka lagi membuat Abi berdecak kesal.


"Nggak!" Jawabnya singkat.


Abi hendak keluar kamar untuk mengekori Shaka, namun Ia kembali menatap Sena dan sukses membuat Sena sedikit gelagapan, mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Abi pun mengikuti sepupunya ke kamarnya. Dan Aska masuk lebih dalam menghampiri dua wanita beda generasi yang masih melakuakn sidang dadakannya itu.


Mama Ay menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata Ia sudah salah paham pada putri dan ponakannya itu. "Jadi, kamu nyuruh Abi masuk ke kamar Shaka?" Tanyanya dan dijawab anggukan Sena.


"Ya ampun Sena! Udah tau aka kamu tuh rewelnya naudzubillah. Untung Abi inget!" Tutur sang Mama membuat Sena mengerucutkan bibirnya.


"Kok Mama jadi nyalahin aku sii. Yang salah kan Abi, udah nyelong masuk gitu aja kesini." Protes Sena lagi.


"Abi tu kesini, pasti minta kamu ambilin baju aka buat dia."


"Tapi kan-" Sena tak meneruskan ucapannya, Ia tak mungkin membeberkan kalo mereka tengah saling menggoda 'Bisa berabe' Batinnya. Apalagi ada Aka nya juga disana.


"Ya deh iya, aku salah!" Pasrah Sena membuat sang Mama menghembuskan nafasnya panjang.


"Haaccciihh!!"

__ADS_1


"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Aska yang baru bersuara sedari tadi setelah sekian menit dirinya hanya menyimak.


Ia menyentuh kening sang adik yang ternyata panas. "Kamu demam de!" Tuturnya.


Mama yang mendengar putrinya demam, langsung ikut menempelkan punggung tangannya didahi sang putri. "Iya kamu demam! Ya udah Mama ambilin kompresan dulu. Kamu cepet ke kamar mandi ganti baju!" Titah Mama heboh dan segera berlenggang keluar kamar.


"Sana kamu ganti baju dulu! Aka tunggu disini!" Titah Aska dan dijawab anggukan Sena.


Selang beberapa menit Sena keluar dengan menggunakan piyama. Sang kakak mendudukan dirinya, ditepi ranjang. Aska mengambil headrayer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Kenapa ujan-ujanan sih?" Tanya Aska yang tengah mengeringkan rambut sang adik.


"Emmm.. nggak! Tadi tuh mau neduh cuma ujannya keburu nyerang." Timpal Sena membuat keduanya tertawa.


Ia tak mau sang kakak yang posesif itu tau Ia sengaja hujan-hujanan demi melihat senyum manis sepupunya. Bisa-bisa sang kakak ngamuk, kalo tau hal itu.


Mama Ay datang membawa nampan berisi kompresan dan makanan beserta obat untuk putrinya. "Nih, kamu makan dulu. Ntar minum obatnya!" Titah Mama Ay menyimpan nampan itu diatas nakas.


Aska menghentikan aksinya. "Udah Ma, ntar aka yang urusin!" Ucapnya dan dijawab anggukan sang Mama.


"Ya udah aka pastiin, dia minum obat ya! Mama mau siapin makanan buat kalian." Tutur Mama Ay, kemudian berlenggang keluar meninggalkan dua remaja itu didalam kamar.


Aska dengan telaten mengompres dahi adiknya yang sudah bersandar dikepala ranjang. Kemudian Ia beralih mengambil piring dari atas nampan. "Kamu makan ya! Aka suapin!" Ucapnya yang langsung menyendokan makanannya dan menyuapinya.


Dengan pasrah Sena menerima suapan sang kakak. Hingga Sena menghentikan suapan kakaknya, karena merasa sudah kenyang. Tak lupa juga sang kakak memberinya obat.


"Jangan kek gini lagi ya! Aka gak suka kalo kamu sakit." Pesannya.


"Iya! Aka ku yang baik dan perhatian." Jawab Sena menjewel kedua pipi sang kakak gemas membuat lengkungan senyum dibibirnya.


"Makasih ya Aka selalu jadiin aku prioritas utama Aka. Sayang Aka!" Sena memeluk leher sang kakak dan sukses membuat degup jantungnya berdetak tak beraturan, hingga senyuman terukir manis dari bibirnya.


Abi yang hendak kembali menemui sepupunya itu membuka pintu kamarnya pelan, Ia berhenti diambang pintu kala melihat interaksi kedua bersaudara didalam sana. Ia hanya melihatnya dari sana tanpa mau mendekat.


Entah kenapa ujung hatinya tiba-tiba ngilu. Inikah yang dinamakan terluka tapi tak berdarah? Ia pegang dadanya yang mendadak sesak dengan senyum miris dibibirnya. 'Sesakit inikah, melihat kau dengannya?' Batinnya.


*****************


Ramaikan juga yaa disini. Kasih jempolnya kek biasa! Yang ini mak othor juga perpanjang yaa episodenya😊

__ADS_1


__ADS_2