
Siska keluar dengan terus menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Ia sampai melupakan tugasnya untuk membuat susu baby Aska.
"Sis! Mana susunya?" Tanya Ayra mengagetkan Siska.
"Ituh. Aku. Aku gak bisa. Iya! Aku gak bisa buatnya. Aku ke kamar mandi dulu kak!" Timpalnya kaku dan berlenggang ke kamar mandi dekat dapur.
Ia masuk ke kamar mandi, berdiri didepan cermin washtaple. Mencuci mukanya berulang kali. "Omegaattt!!! Otak gue." Bayangan-bayangan tadi terus saja menari diotaknya membuatnya frustasi.
Keempat orang disana mengerenyitkan dahinya heran. Apalagi Ayra, dua kali Ia dibuat aneh oleh gadis itu. Sebenarnya ada apa? Ketika mereka masih terbengong, bang Agung datang membawa susunya dan sudah berpenampilan rapih.
"Sayang! Ini miminya!" Ucap bang Agung seraya duduk disisi Ayra, membuyarkan lamunan mereka.
Ayra yang penasaran langsung bertanya pada abangnya. "Siska kenapa bang?"
Bang Agung menjawab setenang mungkin. "Ga tau. Kenapa emang?"
"Sikapnya aneh dari tadi. Terus juga pipinya merah banget. Apa dia sakit ya?" Tanya Ayra khawatir.
Bang Agung sedikit berdehem untuk menetralkan kegugupannya tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Ia mengambil alih baby Aska dan memberi susu pada putranya itu.
"Tu anak kek nya lagi jatuh cinta deh." Timpal Devan.
"Emang iya gitu?" Tanya Rila tak percaya.
Devan mengusek pucuk kepala istrinya gemas. Meski sudah memiliki anak, tetap aja keolengannya nempel.
"Kamu aja kalo lagi aku rayu gitu, apalagi kalo lihat punyaku, kebakar tu pipi." Timpal Devan membuat mereka tergelak. Tapi tidak dengan bang Agung. Apa Siska juga?
Tiba-tiba seseorang datang mengucap salam membuat atensi mereka beralih.
"Asslamualaikum!"
"Waalikumsalam!"
"Bang Rendi?" Sapa Ayra heran, untuk apa fansnya itu bertamu kesana?
"Hai Ay! Hai semua!" Sapanya balik.
"Tumben. Ada apa?" Tanya bang Agung yang ikut heran melihat tamu yang sama sekali tak pernah dekat dengannya, tiba-tiba mengunjunginya.
"Boleh duduk?" Izinnya dengan senyum yang begitu manis dan diiyakan bang Agung.
Ia pun mendaratkan bokongnya disofa bersama mereka. Bang Ar menatap tajam kearahnya.
"Ngapain lu kesini?"
Rendi menarik satu sudut bibirnya. "Kenapa? Gue kesini mau jemput cewek gue." Timpalnya melirik kearah Ayra. Membuat mereka menaikan alisnya sebelah.
Seorang gadis datang mendekat kearah mereka. "Bang! Aku pergi dulu." Pamit Aysa dengan mukanya yang seperti biasa pada bang Agung.
"Kamu mau jalan sama dia?" Tanya bang Agung heran dan hanya dijawab anggukan olehnya.
__ADS_1
Ia pun berlenggang begitu saja. "Yaudah ya bang gue pergi dulu!" Pamit Rendi menyusul Aysa. Membuat mereka semakin melongo dengan panggilannya pada bang Agung.
Semenjak melayat waktu itu, Aysa tak kembali ke kota besar. Ia memilih mencari pekerjaan disini. Ia tinggal bersama bang Agung dan Mamih. Ia melamar ke beberapa perusahaan, dan diterima diperusahaan Rendi. Semenjak itu Rendi selalu mengejarnya, hingga akhirnya mereka dekat sampai sekarang.
"Sejak kapan mereka deket?" Tanya Ayra. Membuat kepalanya langsung ditarik bang Ar, disusupkannya diketiak.
"Napa emang? Cemburu?" Sindir bang Ar. Ayra berontak didekapan suaminya.
"Abang ihh lepasin!" Ayra terus berontak. Namun tak dihiraukan bang Ar.
"Nggak!"
"Abang lepasin, ini sakit." Bang Ar yang mendengar sang istri kesakitan langsung melepaskannya.
"Apa? Apanya yang sakit?" Tanya bang Ar panik dan dijawab cengiran kuda oleh sang istri.
"Tapi boong!" Timpalnya hendak bangun, namun bang Ar segera menariknya lagi kedalam dekapannya. Membuat mereka tergelak melihat pasangan itu.
"Bang lepasin! Sakit!" Pinta Ayra.
"Nggak!"
"Ini beneran sakit bang!"
"Pasti boong lagi."
"Abangg sakit!" Ayra semakin mendesis membuat sang suami segera melepaskannya.
"Sayang? Kamu kenapa?" Tanya bang Ar mengusap pipinya sang istri.
"Perut aku sakit bang!" Desis Ayra membuat yang lain ikut panik.
"Jangan-jangan mau lahiran?" Tebak Rila.
"Sabar ya sayang! Kita kerumah sakit sekarang." Tanpa bertanya lagi. Bang Ar menggendong sang istri ala bridge style menuju keluar rumah. Disusul Devan dibelakangnya.
Ia buka pintu belakang dan mendudukkan sang istri disana.
"Biar gue yang nyetir bang!" Devan masuk kemudi dan bang Ar masuk ke belakang, disisi sang istri. Mobil pun berlalu meninggalkan kediaman bang Agung.
Sementara didalam rumah bang Agung yang ikut panik, berteriak memanggil sang Mamih, membuatnya keluar dari dapur dengan terburu-buru. Disusul Feby dan Siska yang ikut panik, dan menyisakan bu Titin disana.
"Ada apa sih bang? Teriak-teriak kek dihutan aja!" Omel sang Mamih.
"Ituh anak Mamih, mau lahirin!" Timpalnya.
"Apa?" Pekik ketiga wanita beda generasi itu.
"Terus Ayra nya mana? Aduh gimna ini Mamih?Telepon Papih!" Mamih sampai mondar mandir gak jelas membuat mereka geleng-geleng kepala.
"Udah Mamih tenang dulu! Kita susul sekarang. Belum bawa keperluan juga, sekalian kita ambil dulu kerumah Ar." Timpal bang Agung. "Sis! Tolong jaga Aska dulu ya!" Bang Agung menyerahkan baby Aska pada Siska dan disambut olehnya.
__ADS_1
"Kalo ada apa-apa langsung hubungi kita ya!" Pinta Siska dan dijawab anggukan bang Agung.
Bang Agung dan Mamih berlalu pergi untuk menyusul mereka ke rumah sakit. Keduanya juga akam menjemput dulu Ibu Anita dan perlengkapan bayinya.
**
Sementara itu didalam mobil bang Ar, Ayra terus meringis merasakan sakit diperutnya. Ia terus mencekal tangan suaminya kuat. bahkan sesekali menarik kerah baju suaminya.
"Abang sakit!"
"Iya sabar ya sayang! Bentar lagi kita sampe. Tenang ya, tarik nafas dalam-dalam buang perlahan oke!"
Ayra mencoba instruksi sang suami. Perlahan namun pasti, Ia pun mulai tenang. Rasa muleus diperutnya sedikit berkurang membuatnya lebih tenang.
"Gimana? Merasa baikan?" Tanya bang Ar dan hanya dijawab anggukan olehnya.
Bang Ar mengambil air didalam dasbord, membukanya dan memberikannya kehadapan sang istri. "Nih! Minum dulu!" Titahnya.
Ayra meminum air yang disodorkan suaminya. Namun baru saja air masuk ke kerongkongannya, mules itu terasa lagi.
"Sakit lagi bang!" Ayra kembali meremat tangan sang suami kuat.
Bang Ar mengelus perut sang istri lembut. "Sayangnya Papa, yang tenang ya! Kasihan Mamanya."
"Elus pinggannya bang!" Titah Ayra. Bang Ar menuruti semua instruksi istrinya. Sebelah tangannya terus menggenggam tangan sang istri, memberi kekuatan untuknya. Satu tangannya lagi terus mengelus perut, pinggang, hingga punggungnya.
**
Tak berselang lama, mobilpun sampai didepan rumah sakit. Petugas siaga membawa brankar menyambut pasiennya. Ayra dibaringkan diatas brankar, dengan sigap petugas membawanya keruang bersalin.
Bang Ar setia disampingnya menggenggam tangannya erat, terus memberi semangat pada sang istri. Hingga brankar pun sampai diruang bersalin.
"Bagaimana bu, udah ada mules-mules?" Tanya dokter yang tengah memakai sarung tangannya.
"Udah Dok, ini mules banget." Timpal Ayra.
"Oke! Kita cek dulu pembukaannya." Tutur sang dokter.
Dokter akan membuka selangkangannya namun segera dicegah bang Ar.
"Tunggu! Mau ngapain dok?"
"Gak papa pak, saya akan mengecek pembukaannya!" Timpal dokter itu tersenyum.
"Tapi dok!"
"Kenapa?"
"Saya gak rela nona manis saya disentuh orang!"
***************
__ADS_1
Jangan lupa ya tinggalkan jejak kaleaann😉