
Mereka keluar dari cafe menuju parkiran. Bersiap-siap menaiki motor masing-masing.
"Lahh..kok kempes? Gimana ini?" Feby panik melihat ban motor depannya kempes.
"Hah..gimana dong? Mana dah malam.bengkel pasti dah tutup." Oceh Ayra ikut panik.
Mereka yang sudah siap kembali menghampiri kedua gadis yang tengah berkacak pinggang.
"Kenapa?" Tanya bang Ar.
"Motornya kempes bang." Timpal Ayra cemberut.
"Ya udah motornya ditinggal aja. Biar kamu bareng sama abang. Trus Feby biar dianter sama Rio." Ucap bang Ar memberi saran.
"Trus motor gue gimana bang?" Tanya Feby, Ia gak mungkin ninggalin si Oppy motor kesayangannya disana.
"Gak papa dititip aja ma satpam disini, aman kok! Tar besok lu jemput lagi." Timpal Agel.
"Tapi kan?" Feby tak meneruskan ucapannya, Ia melihat ke arah Rio.
"Dah cepetan naik!" Ajak Rio.
Feby pasrah dan naik ke atas motor Rio setelah menitipkan motornya ke satpam jaga disana.
Ayra pun naik keatas motor bang Ar, Ia tidak berani untuk memeluk perut bang Ar dan hanya memegang jaketnya.
Namun bang Ar dengan cepat menarik tangan Ayra kedepan perutnya.
"Peluk aja gak papa, takut jatuh!" titahnya.
Jantung Ayra kembali berdisko. Dengan keadaan dadanya yang menempel kepunggung bang Ar, membuatnya tak mampu berkata apapun dan dengan tak tau malunya, Ia malah menyandarkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya.
Bang Ar yang mendapati itu, kembali merasakan hal aneh didadanya. Padahal ini bukan kali pertama ia membonceng seorang gadis. Tapi entah kenapa rasanya begitu berbeda.
Dua gundukan yang menempel dipunggungnya menambah gelenyar aneh dihatinya. Gugup itu sudah pasti. Namun tak ayal Ia pun tersenyum merasakan pelukan yang begitu erat.
Motor pun melesat meninggalkan tempat tersebut. Hanya motor bang Ar dan Rio aja yang beriringan, karena yang lain memang tak searah.
__ADS_1
Hening.
Tak ada satu katapun yang keluar dari keduanya. Ayra tengah merasakan setiap detak jantungnya sendiri. Bahagia itu sudah pasti. Bukan karena Ia tengah bersama sang pujaan saja, namun karena pernyataan bang Ar yang menyebutkan dirinya sudah putus dengan kekasihnya, membuat Ia kembali bersemangat untuk mengejar cintanya.
Ia sudah memantapkan dalam hatinya akan memperjuangkan cintanya, bagaimanapun caranya. Ia takan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sudah cukup Ia menunggu, sekarang waktunya untuk memperjuangkan.
Motor pun samapai didepan rumah. Kali ini Ayra memberanikan diri untuk mengajaknya mampir.
"Bang, mampir dulu yuk!" ajaknya setelah turun.
Bang Ar membuka helm nya, "Emmm.." Ia melirik jamnya sejenak, "Emang gakpapa, ini udah malam?" tanyanya.
Namun belum juga Ayra menjawab, panggilan dari depan pintu mengalihkan keduanya.
"Ay... sama siapa? Kenapa gak diajak masuk?" Tanya sang Mamih mengahmpiri keduanya.
Bang Ar turun dari motor menghampiri Mamih Asti. Mamihnya Ayra.
"Assalamualaikum tante, apa kabar?" Bang Ar menyalami dan mencium takzim tangan Mamih Asti.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik. Eh Ardi ya?" balas Mamih dan di iyakan oleh bang Ar.
Mamih Asti memang sudah mengenal baik Ardi, karena dulu sering main bersama Agung putra sulungnya saat masih dikota besar.
Mamih Asti sangat senang dengan pertemanan Agung dan Ardi. Biarpun mereka anak motor, tapi mereka tak pernah melakukan hal yang neko-neko.
"Alhamdulillah aku baik tante." balasnya dengan senyum ramah.
"Ya udah masuk dulu yuk, minum dulu. Kita ngobrol-ngobrol dulu!" Ajak Mamih Asti girang.
Pasalnya Ia sudah kepo, kenapa putri bungsunya bisa bareng Ardi? Dan ada hubungan apa antara keduanya?
Ardi melirik jam ditangannya. "Udah malam tante. Ntar kapan-kapan deh aku main kesini." Balasnya.
"Ya udah. Ntar main kesini ya, jangan sungkan-sungkan. Hati-hati dijalan nya ya!" Pesan Mamih Asti.
"Iya tante." Balasnya.
__ADS_1
Bang Ar melirik ke arah Ayra yang tengah senyum-senyum tak jelas. Mamih Asti yang mengerti situasi pun pamit lebih dulu.
"Ya udah tante masuk duluan ya!" pamit sang Mamih dan dijawab anggukan bang Ar.
Setelah Mamih masuk. Ayra membuka suaranya.
"Emm..Makasih ya bang udah anterin aku lagi!" ucapnya dengan terus senyum bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan perasaannya.
Bang Ar yang melihatnya merasa gemas. Ingin rasanya Ia mengecup bibir yang menarik perhatiannya itu. Eh!
"Ehemmm.. Besok abang mau ngecek perkebunan Ayah, kamu mau temenin gak?" Ajaknya.
"Hah?" Ayra sampe menganga tak percaya.
"Kalo kamu ada waktu sii. Sekalian jalan-jalan cari angin. Gimana?" Ajaknya lagi.
"Mau...mau banget malah." Jawabnya menggebu.
"Eh.maksudnya iya mau. Emm..iya besok nyantai kok!" Jawabnya gelagapan.
Ayra menunduk menyembunyikan merah ronaa dipipinya juga kegugupannya.
Bang Ar yang melihat itu tersentum lebar. Ia begitu gemas dan akhirnya mendaratkan tangannya dipucuk kepala Ayra. Membuat si Empunya ketar ketir tak karuan.
"Ya udah. Besok abang jemput ya!" Ucapnya dan hanya dijawab anggukan oleh Ayra.
"Masuk gih!" Titahnya. Ayra hanya kembali menganggukan kepalanya.
"Abang!" panggilnya.
Bang Ar yang sudah siap, kembali menoleh.
" Hati-hati ya!" pesannya dengan menyunggingkan senyum termanisnya.
Bang Ar tersenyum dibalik helmnya dan mengangguk "Iya!"
Ayra melambikan tangannya seraya terus memperhatikan kepergian motor bang Ar.
__ADS_1
************