
Waktu terus bergulir, seminggu sudah berlalu. Bang Ar dan Aryra semakin dekat. Biarpun hanya lewat chat dan panggilan WA, namun mereka senantiasa bertukar kabar, bahkan bertukar cerita diwaktu senggang keduanya.
Hari ini terakhir mereka kerja untuk menyambut libur tahun baru. Semua dapat cuti selama empat hari. Dalam empat hari ini mereka akan menghabiskan waktu liburan bersama. Bukan mereka berdua saja namun dengan keenam temannya juga.
Usai jam kerja berakhir, seperti biasa mereka akan berkumpul ditempat biasa. Dikafe langganan mereka.
Kali ini Ayra meminta bang Ar untuk menjemputnya dan disetujui bang Ar.
"Hati-hati dijalannya! Jangan malam-malam ya!" Pesan sang Papih kala keduanya tengah berpamitan.
"Iya Pih!" Jawab Ayra.
"Yaudah kami berangkat om, tante!" Pamit bang Ar menyalimi takzim tangan Papih dan Mamih, diikuti Ayra.
"Assalamualaiku!" Salam Bang Ar dan Ayra bebarengan.
"Waalaikumsalam!" Jawab keduanya.
Mereka bersiap menaiki motornya. Kali ini bang Ar berinisiatif memakaikan helm ke kepalanya Ayra. Membuat Ayra terhipnotis dengan perlakuan sang pujaan.
"Dah. Yuk naik!" Ajaknya dengan terus mengembangkan senyumnya.
Ayra hanya mengangguk, dan naik keatas motor setelah bang Ar naik terlebih dahulu.
Bang Ar melajukan motornya menuju jalanan ramai lalu lalang kendaraan lainnya. Bang Ar sesekali melirik pada tangan yang melingkar diperutnya. Bahkan dengan sedikit ragu bang Ar mengusap tangan yang menghangatkan tubuhnya itu. Senyumnya tak pernah luntur meski terhalang helm.
'Apa ini saatnya?' Batinnya.
.
.
Tak membutuhkan waktu lama motor sampai ditempat tujuan. Keduanya turun meninggalkan parkiran dan berlenggang masuk.
"Kok sepi bang pada kemana?" Tanya Ayra heran. Pasalnya tak ada pengunjung sama sekali apalagi anak-anak Gerup Reseh.
"Mungkin masih pada dijalan." Jawab bang Ar santai.
Ayra hanya menyedikkan bahunya acuh tak curiga sama sekali.
"Kamu tunggu bentar. Abang ketoilet dulu." Pamitnya.
Ayra duduk sendiri. Ia mengedarkan matanya keseluruh ruangan. Sepi. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
"Kok aneh ya? Kemana perginya orang-orang? Itu bartender juga waiters pada kemana?" Tanyanya semakin heran.
Terdengar bunyi benda yang jatuh. Ayra terkesiap kaget.
"Bang?!" Panggilnya mulai merasa takut.
Tak ada jawaban dari siapapun. Ia pun berjalan hendak mendekati arah toilet.
"Bang! Cepetan. Lama banget sii!" Teriaknya.
Tiba-tiba semua lampu padam. Ayra pun menjerit ketakutan.
"Aaaaa.... Abang!" Jeritnya.
Belum selesai dengan keterkejutannya. Seseorang menggandeng lengannya dan menggiringnya berjalan ditengah kegelapan.
"Siapa lu? Lepasin gue? Bang Ar!!" Ia bener-bener menjerit ketakutan. Air matanya luruh saking takutnya.
Tiba-tiba terlihat cahaya yang berjalan dari kejauhan.
"Happy birthday to you..Happy birthday to you...Happy birthday happy birthday...Happy birthday Ayra."
Lampu temaram menyala, seseorang yang Ia sangat kenali mendekat membawa kue dengan hiasan lilin. Disertai nyanyiannya.
"Surprize!!!!" Teriak semua orang dengan membawa terompet dan kawan-kawannya.
Ayra shok, Ia tak percaya kalo para sahabatnya mengingat ulangtahunnya. Sedangkan Ia sendiri lupa. Ia menatap semua sahabatnya.
Ayra beralih menoleh kesampingnya ternyata yang menggandeng tangannya adalah Feby. Sipelaku hanya nyengir kuda dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V.
Alih-alih tersenyum bahagia, Ayra justru menangis histeris. Membuat para sahabatnya panik, begitupun bang Ar.
Bang Ar menyimpan kue yang dipegangnya ke meja dan menghampiri Ayra. Ayra yang menangis mendudukkan dirinya dilantai.
Bang Ar berjongkok dihadapan Ayra. "Hey...jangan nangis, Maafin abang ya!" Bang ar mencoba menangkup wajahnya namun ditepis kasar oleh Ayra.
Bang Ar tertegun. Apakah gadisnya ini benar-benar marah?
Ayra hanya menunduk dan masih terdengar isak tangisnya. Bang Ar meraih tubuh langsing itu membawa kedalam dekapannya.
Diusapnya kepala Ayra dengan lembut dengan menggumamkan kata-kata maaf.
"Maafin abang Ay..maafin abang!" :
__ADS_1
Bang Ar terus mengelus kepalanya dan sesekali mengecup pucuknya. Ia merasa bersalah telah membuat gadis cantik ini menangis. Niatnya ingin membuat surprise malah jadi seperti ini.
Bang Ar tidak sadar tengah jadi tontonan dari mereka semua yang ada disana. Semua orang mengulum senyum melihat tingkah keduanya.
"Maafin abang Ay! Abang gak maksud buat kamu takut ampe nangis. Maafin abang ya, abang sayang sama kamu!" Ungkap bang Ar dengan terus mengusap rambut panjang bergelombang itu.
"Beneran bang?" Ayra mendongakan wajahnya dengan senyum yang begitu manis.
Bang Ar terkejut menatap Ayra. Apakah dirinya juga kena frank?
Semua orang senyap, sekuat tenaga menahan tawanya. Ternyata Ayra terlalu cerdik untuk dilabuhi.
"Kamu?" Bang Ar masih tak percaya dirinya bener-bener kena frank.
"Hemm.. Beneran sayang bang?" Tanyanya dengan senyum menggoda.
Bang Ar menatap ke sekelikingnya, melihat teman-temannya yang siap meledak.
Bang Ar melepaskan pelukannya dan berlenggang pergi menaiki anak tangga menuju rooptoof.
Semua orang melongo dengan apa yang terjadi. Ayra bergegas menyusul bang Ar keatas.
Setelah sampai diatas, Ayra melihat bang Ar dipinggir pagar dengan menatap kearah jalan. Ayra menghampirinya dan mencoba meraih pundak bang Ar.
Namun tanpa Ia duga bang Ar membalikkan badannya meraih tengkuk Ayra dan menempelkan bibirnya diatas bibir Ayra. Dikecupnya benda kenyal itu lama.
Deg.
Ayra terpaku. Ini adalah ciuman pertamanya. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir hebat.
Hingga bang Ar menjauhkan wajahnya. "Bolehkah abang mencintaimu?" tanyanya dengan tatapan sayunya. Hembusan nafasnya menerpa wajah Ayra, begitu hangat.
Ayra semakin terpaku. Ia tak menyangka sang pujaan yang selama ini Ia cintai, benar-benar membalas cintanya. Tanpa kata Ayra hanya menganggukkan kepalanya. Ada bulir air dari ujung matanya. Bukan air mata kesedihan namun bahagia. Ya Ayra sangat sangat bahagia.
Pandangan keduanya saling mengunci, hingga mata kedunya tertutup. Bibir keduanya kembali bertemu. Bukan sekedar menempel, kali ini sebuah luma tan bahkan gigitan-gigitan kecil diberikan bang Ar, hingga bibir Ayra sedikit terbuka membiarkan lidah mereka bertemu, semakin dalam. Seolah tengah menyalurkan perasaan keduanya.
Ini yang pen ngefrank malah kena frank😂
Ini yang mao difrank, malah dapet first kiss😂
__ADS_1