Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 97


__ADS_3

Sementara itu dikediaman rumah bang Agung, masih ada saja pelayat yang baru berdatangan. Bahkan keluarga Mamih dari kota besar baru datang melayat, termasuk tante Asmi dan putrinya.


"Maafin tante ya Gung baru bisa datang. Kemarin pas dapat kabar tante dan Aysa lagi ikut om di Bali. Lagi ada tugas disana!" Ucap tante Asmi.


"Gak papa tante. Aku senang tante datang kesini." Timpal bang Agung berusaha tersenyum.


Tante Asmi menepuk pundaknya. "Kamu yang sabar ya Gung. Tante yakin akan ada banyak hikmah dari semua cobaan yang kita hadapi. Kamu harus kuat demi bayi kamu!" Tuturnya memberi semangat.


Bang Agung berhambur kepelukannya. "Makasih tante. Semoga aku bisa melewati ini." Timpalnya dengan kembali terisak di bahu adik dari Mamihnya ini.


Tante ikut menepuk pundak keponakannya itu.


Satu persatu keluarga memberinya ucapan bela sungkawa dan ucapan semangat untuk salah satu keluarganya ini.


"Bang. Mamih sama Papih ke rumah sakit sekarang ya!" Ucap Mamih pada putra sulungnya itu.


"Aku ikut!" Timpalnya.


"Gak usah kamu dirumah aja. Banyak yang datang juga. Biar Mamih aja sama Papih. Gak akan lama kok." Timpal Mamih.


Bang Agung yang melihat keluarga yang datang lagi akhirnya pasrah. "Ya udah hati-hati dijalan!" Titahnya dan dijawaban anggukan sang Mamih.


Hari ini juga hari dimana baby bang Agung akan keluar dari rumah sakit. Papih dan Mamih akan menjemputnya. Keadaanya yang sudah membaik dan dinyatakan normal, akhirnya mendapat izin dari dokter untuk bisa dibawa pulang.


Setelah Mamih dan Papih berangkat, datang lagi dua wanita berbeda generasi kerumah itu. "Asslamualaikum!" Ucap keduanya serempak.


"Walaikumsalam!" Timpal bang Agung dengan dua pamannya. Karena memang tinggal mereka bertiga diruang tamu.


"Siska?!" Sapa bang Agung dan menghampiri keduanya. " Ini?" Tanyanya yang memang tak tau dengan wanita paruh baya disisi gadis yang Ia klam adiknya itu.


"Ini Ibu aku bang. Bu Titin!" Timpal Siska.


Bang Agung menyalimi takzim tangan bu Titin. "Maaf bu saya tidak tau. Silahkan duduk!" Bang Ar mempersilahkan kedua wanita itu duduk.


Kedua pamannya pun keluar, membiarkan bang Agung menyambut tamunya. Bang Agung ikut duduk disamping keduanya.


"Nih bang aku bawain oleh-oleh buat abang. Biar ngurangin sedihnya." Siska menyimpan barang bawaannya diatas meja membuat bang Agung menyimpulkan senyumnya.


"Kami berdua ikut berduka atas meninggalnya istri Nak Agung. Semoga diterima amal ibadahnya dan diitempatkan ditempat yang mulia disisi-Nya." Ucap bu Titin dan di Aminkan oleh bang Agung.

__ADS_1


"Makasih ya bu. Sudah mau datang kesini!" Timpal bang Agung.


"Maaf ya bang kita baru bisa kesini. Pas dapat kabar aku juga lagi di klinik!" Tutur Siska.


"Klinik? Emang siapa yang sakit?" Tanyanya.


"Setelah den Ardi sama neng Ay pulang, tiba-tiba saja Siska sakit. Dia sampai jatuh pingsan, badannya panas tinggi. Akhirnya harus dirawat diklinik selama tiga hari. Sekarang baru pulih." Tutur bu Titin.


"Ya ampun kasihan adek imut abang." Timpal bang Agung mengusap pucuk kepala Siska yang kebetulan duduknya berdekatan. Hal aneh kembali hadir dihati Siska.


"Tapi sekarang gak papa kan?" Tanyanya.


"Nggak bang! Gak papa." Siska sampai sedikit menghindar untuk menutupi degup jantungnya. Bahkan pipinya terasa terbakar. Namun tak disadari dua orang disisinya.


"Oh iya bang. Kak Ay kemana?" Tanya Siska mengalihkan perhatian.


"Ay kan lagi diacara nikahan Agel sama Juna. Mungkin sampai malam mereka gak bisa pulang." Jawabnya.


"Oh iya. Aku juga diundang kak Agel. Tapi gak tau rumahnya." Timpal Siska sendu.


"Kamu mau kesana?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh Siska. "Kamu hubungi aja Ay, siapa tau Ar mau jemput!" Titahnya.


"Bu Asti dimana?" Tanya bu Titin.


"Mamih sama Papih lagi jemput putra aku bu. Hari ini dokter mengizinkannya untuk pulang." Tuturnya.


"Alhamdulillah!" Timpal keduanya.


"Syukurlah akhirnya dede bayi nya bisa pulang. Aku juga ikut khawatir bang saat tau keadaannya dari kak Ay. Semoga dedenya sehat seterusnya ya!" Tutur Siska.


"Aminnn... Makasih ya Sis, bu atas doa kalian!" Timpal bang Agung dan diiyakan keduanya.


Ketika ketiganya tengah asyik mengobrol, tante Asmi dan putrinya dari dapur menghampiri mereka.


"Eh ada tamu!" Tante Asmi menyalimi keduanya. Merasa tak kenal Ia pun bertanya.


"Ini siapa ya?"


"Perkenalkan saya Titin dan ini putri saya Siska. Kami kerabatnya den Ardi dari desa." Timpal bu Titin.

__ADS_1


"Ya ampun! Maaf bu saya gak tau. Perkenalkan saya Asmi, adiknya kak Asti. dan ini putri saya Aysa." Timpal tante Asmi juga memperkenalkan diri.


Mereka terus berbincang, bu Titin menceritakan tentang bang Ar dan Ayra. Menceritakan bagaimana mereka menjadi kerabat bahkan keluarga.


Bang Agung berlenggang keluar rumah meninggalkan ibu-ibu yang asyik mengobrol disana. Siska mengikutinya sampai keduanya duduk dikursi teras depan.


"Ada apa? Kenapa ngikutin?" Tanya bang Agung.


"Kenapa gak boleh?" Tanya balik Siska. "Abang tu lagi galau. Kalo ditinggalin sendiri takutnya ada setan, terus bikin abang frustasi, terus ngelakuin hal yang aneh-aneh, terus-" Ucapannya terputus oleh jari telunjuk bang Agung.


"Lu itu ya, bawel banget. Nyerocos mulu! Ngomong tu pake pilter, pake koma." Timpalnya membuat Siska memberenggut. "Lagian mana mungkin gue ngelakuin hal aneh-aneh. Ngarang aja lu." Lanjutnya.


"Ya kan ini cuma prediksi, kalo bener ketempelan setan kan bisa aja. Lagian orang galau itu gampang banget digentelin setan." Tutur Siska.


Pletaakk!!


"Aww!" Siska meringis mengusap jidatnya yang terkena sentilan bang Agung.


"Omongan lu tu kaya nyumpahin gue tau gak? Lu kira iman gue udah tipis apa? Enak aja!" Protes bang Agung.


"Gak harus nyentil juga sih bang. Sakit ini." Siska terus mengusap jidatnya. "Aku tu cuma khawatir. Karena aku juga pernah diposisi kaya abang!" Tuturnya sendu.


Bang Agung menatap wajah sendu Siska. "Cih. Kaya lu punya suami aja?" Canda bang Agung terkekeh.


"Ini bahkan lebih dari seorang suami." Timpalnya membuat bang Agung terdiam. "Cinta pertamaku, pahlawan hidupku, tempatku bermanja." Air matanya jatuh begitu saja.


Memorinya kembali terputar ke beberapa tahun yang lalu. Dimana Ia harus kehilangan sosok yang menjadi tempat mencurahkannnya keluh kesah dan canda tawa. Sosok yang masih sangat Ia butuhkan kala itu, bahkan sampai sekarang sosok itu masih Ia harapkan. Namun takdir Tuhan harus merelakan Ia kehilangannya.


"Aku tau bagaimana hati abang sekarang. Aku tau betapa sulitnya mengikhlaskan orang yang begitu berharga buat kita. Karena aku pun pernah merasakannya." Tuturnya dengan air mata yang semakin deras.


Bang Agung mengusap air matanya dengan ibu jarinya. "Terus bagaimana caranya kamu bisa melangkah sampai sekarang?" Tanyanya.


"Melihat kedepan! Melakukan hal yang baik, agar dia bangga dan bahagia disana."


*****************


Mari atuh mari vote, like dan komen! Tabur bunganya juga ditunggu ya😉


Sayang kaleaannn😍

__ADS_1


__ADS_2