
"Mari makan!" Seru Feby girang.
Sekarang semua tengah berada dimeja makan bersiap untuk makan malam.
"Wihh.. Kek nya enak nih. Siapa yang masak?" Tanya Devan berbinar melihat banyaknya makanan diatas meja.
"Gue dong!" Timpal Feby dengan bangga.
"Alaah gak percaya gue." Selak Rio.
"Waah lu ngeremehin gue. Emang gue yang masak kok." Timpal Feby tak terima. Rio hanya menyedikkan bahunya acuh.
"Eh Feb. Gue juga bantu loh!" Protes Rila.
"Ya lu bantu. Bantu berantakin." Timpal Feby setengah mengejek.
"Itu sayur kan gue yang potong-potong." Protes Rila masih tak terima.
"Potong sayur doang, mana salah lagi. Tetep aja gue yang masak. Terus tu rasa juga gue yang takar." Timpal Feby ikut protes.
"Iya deh iya! Kita mah gak bisa masak ya, Gel." Ucap Ayra terkekeh.
"Iya. Lu emang pinter masak Feb. Kita mah cuma pinter ngabisin." Balas Agel diiringi gelak tawa mereka.
"Tapi gue gak yakin rasanya enak." Ucap Rio.
"Lu gak percaya?" Deby mengambil nasi dan kawan-kawannya dan disodorkan kedepan Rio. "Nih!"
Semua orang tersenyum penuh arti melihat tingkah kedua jomblo yang memiliki ego tinggi ini.
"Lu makan! Baru komen." Titah Feby.
Rio mencoba menyuapkan satu suapan kemulutnya. Satu suap. Dua suap. Hingaa tak berenti terus memakan makanannya.
"Gimana? enak kan?" Tanya Feby.
"Lumayan!" Jawab Rio disela makannya.
__ADS_1
Feby hanya berdecih dan memutar bola matanya malas melihat tingakah Rio. Itu emang enak apa kelaparan. Makannya begitu bersemangat.
"Nih bang. Makan ya!" Ayra menyodorkn piring yang telah Ia isi dengan nasi dan lauknya pada bang Ar.
"Iya. Makasih sayang." Balas bang Ar tersenyum dan sukses membuat Ayra tersipu.
"Njirrr....sayang cenah!" Timpal Devan. Disambut sorak sorai dari yang lainnya.
"Pengen juga diambilin dong yang!" Pinta Juna pada sang kekasih.
"Ini tu kode atau apa? Pada pengen di ambilin." Tanya Rila heran.
"Kek nya pada pengen cepet halal nih." Timpal Agel dengan menyodorkan nasi dan kawan-kawannya ke depan sang kekasih.
"Biar belajar dari sekarang." Timpal bang Ar.
"Ya deh. yang siap ngehalalin." Sindir Devan.
"Paan sih. Baru juga pacaran beberapa jam." Protes Ayra.
"Eh lu jangan salah biarpun baru jadian, kalo udah jodoh siapa yang tau. Yang udah pacaran bertahun-tahun aja kalo belom jodoh kan putus juga." Jelas Devan.
"Nah tuh ngode mulu. Di seriusin lah!" Timpal Rila. Membuat semua tertawa.
"Udah bacot mulu lu pada. makan sono, gue mah udah kenyang!" Selak Rio dan berlalu meninggalkan mereka dimeja makan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan. Karena kalo diteruskan sudah dipastikan makanan akan dingin dan cacing diperut mereka akan pesta demo.
**
Setelah makan malam mereka berkumpul di halaman samping. Ceritanya mereka akan bakar-bakar jagung. Mang Asep sudah menyiapkan segala bahan dan keperluannya.
Sekarang yang akan jadi koki buat bakar-bakar ialah Devan dan Rio. Yang lainnya standby duduk dikursi gazebo. Begitupun Ayra Ia memilih duduk diatas ayunan besi sendiri.
Bang Ar menghampirinya dengan membawakan jagung yang sudah matang. Ia duduk di Ayunan yang mampu memuat dua orang itu.
"Nih. Udah mateng." Bang Ar menyodorkan jagung bakarnya diatas piring.
__ADS_1
Saking senengnya Ayra langsung menyambar jagung tersebut.
"Aw..aww..panas..panass!" Jerit Ayra mengibaskan jarinya.
"Isssh kamu tu ati-ati ini masih panas. Mana sini tangannya!" Bang Ar megambil tangan Ayra meniup jari-jarinya yang kepanasan.
Blush
Ayra bener-bener meleleh. Ini pertama kali untuknya memiliki kekasih dan mendapatkan perlakuan manis seperti ini sungguh membuatnya melayang. Seperti inikah jatuh cinta?
Ia sampai menggigit bibir bawahnya gemas. Ini sudah menjadi kebiasaannya kala tersipu, semenjak mengenal dekat bang Ar.
Bang Ar yang melihatnya merasa gemas, ingin sekali lagi Ia menggigit bibir yang selalu membuatnya candu itu, namun Ia masih waras dan masih ingat sikon.
"Udah deh jangan mancing. Abang takut khilaf." Ucap bang Ar tersenyum mengusap bibir Ayra dengan ibu jarinya.
"Paan sih. Siapa juga yang mancing." Elak Ayra tambah merah sudah pipinya. Membuat bang Ar terkekeh.
"Kek nya sama yang kemaren suka khilaf deh?" Sindir Ayra membuat bang Ar tergelak.
"Gak lah. Dia mah gak se ngegemeasin kamu, jadi abang juga gak kepancing. Gak kek kamu." Elak bang Ar mencubit hidung Ayra gemes.
"Issshh abang sakit!" Protes Ayra.
"Biarin, biar mancung!" Timpal bang Ar tergelak.
"Ihh abang mah jahat!" Ayra mengerucutkan bibirnya dan memukul lengan bang Ar.
"Ya udah..gak.. gak.. ampun!" Bang Ar mencekal lengannya, Ayra masih mengerucutkan bibirnya.
"Udah tu bibir jangan digituin, bener-bener minta dicium ya!" Bang Ar nenyerang balik Ayra, menggelitik perutnya, sampe Ayra tergelak. Mereka terus bercanda, tertawa bersama serasa dunia milik berdua.
Membuat yang lainnya hanya tersenyum ikut bahagia melihat keduanya.
"Udah bang udah!" Ayra menahan bang Ar, Ia sampe mengeluarkan air matanya saking lepasnya Ia tertawa.
Bang Ar pun berhenti. Menarik Ayra kedalam dekapannya. "Kita ke KUA yuk!"
__ADS_1
*************