Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 121


__ADS_3

Ayra tengah berdandan cantik dimeja riasnya, dengan makeup lengkap yang membuatnya begitu cetar layaknya MUA profesional. Bahkan Ia yang tak bisa merapihkan alisnya, sekarang begitu lihai membuatnya. Entah kenapa semenjak hamil Ia begitu menyukai melukis wajahnya. Ia sampai meminta Rila untuk mengajarinya.


Ayra yang selalu berpenampilan sederhana dengan riasan naturalnya, kini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat menjadi lebih girly. Ia bahkan merubah gaya rambutnya, yang tadinya hanya dibiarkan panjang dan bergelombang, sekarang dipotongnya sedikit pendek dan diluruskan juga.


Sang suami pun sedikit merasa heran dengan perubahan istrinya itu, namun Ia tak mau ambil pusing dengannya. Baginya, mau bagaimanapun istrinya itu, selalu tetap cantik dimatanya.


"Bang aku sudah siap! Yuk!" Ajaknya pada sang suami yang tengah duduk menunggunya diruang tv.


Hari ini keduanya akan pergi kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan rutinannya.


Bang Ar yang tengah mengotak-atik Hpnya mendongak dan melihat sang istri yang sudah berdiri didepannya, Ia tersenyum melihat sang istri yang begitu cantik dan anggun.


"Kek nya kita gak jadi ke rumah sakit deh!" Tutur bang Ar menbuat Ayra menaikan alisnya sebelah.


"Kenapa?"


"Kita ngamer aja yuk!" Ajaknya terkekeh dan sukses mendapat tampolan manja dari sang istri yang mengenai pipinya membuat bang Ar tergelak.


Ia ikut duduk disisi suaminya dengan ikut terkekeh. Rasanya semakin hari suaminya itu semakin mesum, namun Ia menyukai itu. Biarpun Ia dalam keadaan hamil lagi, namun Ia tak pernah merasa takut suaminya berpaling. Karena setiap hari Ia hanya menggenteli sang istri kemanapun, kecuali jam kerjanya.


"Kamu tuh!" Bang Ar mencubit hidungnya gemas. "Kalo nampol jangan pake tangan!"


"Terus pake apa dong?"


"Pake bibir!" Timpal bang Ar dan mengecup sekilas bibir merah meronanya. Membuat keduanya tergelak.


"Idihhh kardus!" Ejek Ayra.


"Biarin, dari pada plastik."


"Kenapa emang plastik?" Tanya Ayra heran.


"Gak ramah lingkungan!" Timpalnya membuat Ayra kembali menampol pipinya.


"Apa sih bang! Gak nyambung ihh.."


"Gak papa, yang penting readers kita terhibur!"


Ayra sampai memegang perutnya, mendengar penuturan sang suami. Selalu aja ada yang membuatnya tertawa.


"Udah ketawanya, yuk kita berangkat!" Ajaknya.

__ADS_1


Keduanya keluar rumah dan memasuki mobilnya. Tak ada yang berubah didalam mobil itu selalu terdengar guyonan dan candaan dari keduanya. Sampai tak terasa mobilpun memasuki area rumah sakit.


Mereka hanya pergi berdua, seperti biasa baby Shaka sudah dijemput sang nenek. Putra sulungnya itu sudah seperti putra bungsu Ibunya. Bahkan Ia sampai menginap berhari-hari dengan sang nenek, dan melupakan kedua orang tuanya.


Baby Shaka juga sudah disapih, melihat tumbuh kembangnya yang sudah memasuki sepuluh bulan, baby Shaka sudah diizinkan dokter untuk tidak menyusu ASInya dan diteruskan dengan susu supor saja.


Keduanya memasuki rumah sakit dan mulai mendaftarkan diri. Sembari menunggu giliran keduanya duduk diruang tunggu dan asyik mengobrol, hingga seseorang menyapa dan menghampiri keduanya. Seorang perempuan dengan jas putihnya.


"Haii! Kalian disini?" Sapanya dengan senyum ramah.


Ayra mengerenyitkan dahinya, merasa tak percaya dengan siapa yang sudah lama tak mereka temui. "Mbak Rara?!"


Rara tersenyum dan ikut duduk disisi bang Ar, membuat mata Ayra menukik tajam kearah sang suami. Bang Ar yang melihat tatapan sang istri, langsung beralih pindah ke kursi disebelah kanan sang istri.


Rara tertawa melihat tingkah mantan kekasihnya itu. "Ya ampun Ar, segitu takutnya kamu sama istri!" Ledek Rara.


"Aku lebih baik takut istri, karena kehilangan nona manis lebih menakutkan dari apapun." Timpal bang Ar membuat Ayra menapol kembali pipi sang suami dengan bibirnya. Eh!


Rara mengerenyitkan dahinya tak mengerti. Dan menatap heran keduanya yang tertawa, seolah asyik berdua.


"Udah mbak gak usah dipikirin! Tu otak belum nyampe." Ledek Ayra membuat Rara berdecak kesal.


"Oh iya, mbak lagi ngapain disini?" Tanya Ayra yang sudah kepo maksimal dari tadi.


Rara melirik perut Ayra yang membuncit. "Berapa bulan?" Tanyanya lagi.


"Sekarang memasuki dua puluh lima minggu." Timpal Ayra dan dijawab anggukan olehnya.


"Selamat ya buat kalian! Sebentar lagi akan jadi calon orang tua baru." Tutur Rara mennyodorkan tangannya.


Ayra tersenyum dan menyambut tangan sang mantan. "Iya makasih mbak! Tapi mbak salah." Timpal Ayra membuat Rara mengerenyitkan dahinya lagi. Banyak sekali hal yang membuatnya heran dan tak mengerti dengan sikap kedua orang disampingnya itu.


"Maksudnya?"


"Kita udah jadi orang tua. Dan sekarang akan jadi orang tua lagi." Timpal Ayra membuat Rara melongo merasa tak percaya.


"Ini, hamil kedua?"


Ayra menganggukan kepalanya membuat Rara seperti tengah berfikir keras. Pernikahan yang belum menginjak dua tahun, sudah memiliki dua anak? Bagaimana ceritanya?


"Udah lah Ra, gak usah berfikir terlalu keras! Kamu gak akan ngerti. Bibit aku itu high quality! Tokcer! Cekgur!" Timpal bang Ar yang kembali merasa bangga sudah bisa membuat calon penerusnya dalam waktu kilat, dan membutnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Hal itu semakin membuat Rara bingung. "Ya udah deh serah kalian. Sekali lagi selamat! Moga lancar sampai hari-H ya!" Tuturnya dan diiyakan keduanya.


Setelah berpamitan, sang mantan yang sudah dibuang pada tempatnya dan tak ada lagi dihati bang Ar itu. Berlenggang pergi meninggalkan keduanya. Dan tepat saat itu juga, giliran Ayra pun tiba.


Keduanya masuk dan disambut sang dokter dengan ramah, mempersilahkan keduanya duduk.


"Bagaimana bu, apa kakaknya udah disapih?" Tanya sang dokter.


"Udah dok, dia udah gak mau dengan sendirinya." Timpal Ayra.


Beberapa tanya jawab mengenai sang kakak terus berlanjut, hingga pesan-pesan sang dokter untuk sang kakak juga tak lupa Ia berikan.


"Bagus kalo begitu. Mari kita periksa dede bayinya!" Ajak sang dokter menggiringnya menuju bed brankar.


Ayra merebahkan dirinya, sang dokter pun meyingkap baju pasiennya dan mulai mengoleskan gel dingin diarea perutnya. Suara detak jantung sudah terdengar riuh dari alat tersebut. Hingga selesai, dokter melanjutkan melakukan USG.


Hasil pemeriksaan kali ini seperti biasa, sang bayi dinyatakan sehat dan tak ada keluhan apapun. Setelah mendapatkan resep vitamin, keduanya berpamitan dan keluar dari ruangan itu menuju meja kasir.


Vitamin sudah mereka dapatkan, keduanya memutuskan untuk segera keluar. Mumpung mood si bumil lagi bagus, keduanya berencana akan pergi kepusat perbelanjaan terlebih dahulu untuk membeli keperluan baby nya.


Mobil pun berjalan dan memasuki area parkir disana. Keduanya turun, bang Ar menggenggam tangan sang istri menggandengnya memasuki gedung tinggi dihadapannya itu.


"Mau pilih yang mana?" Tanya bang Ar.


"Aku juga bingung bang!"


"Tinggal pilih pink atau biru aja."


"Tapi kan belum tau dedenya cewek apa cowok?"


"Iya yah! Kenapa belum kelihatan?" Tanya bang Ar heran.


"Dia terus sembunyi. Malu kali." Timpal Ayra mengelus perut buncitnya.


"Malu kenapa?" Tanya bang Ar.


"Malu ditengok si pisang."


*********************


Tadinya ini udah mau aku tamatin, tapi belum rela pisah sama bang Ar akutuh! Masih pengen ngewasitin😂 Jadi jalan alon-alon aja yaa🤭

__ADS_1


Ayo readerss terus ramaikan! Tinggalkan segala jejak kaleaann disini!😊


__ADS_2