Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Milik gue!


__ADS_3

"Gak ada yang mau lu jelasin sama gue?" Tanya Shaka yang menyenderkan punggungnya pada dinding didepan kelas. Dengan kedua tangan yang Ia masukan kedalam saku celananya.


"Apa?" Tanya Jingga balik dengan melipat tangannya didada.


Shaka menarik satu sudut bibirnya. Ia mendekatkan diri mencondongkan wajahnya pada sang gadis. "Bukannya gue udah bilang. Lu gue jemput." Tegasnya.


Jingga terkekeh mendengar penegasan pemuda didepannya. "Kenapa? Cemburu?" Tanyanya.


"Cih!" Shaka tersenyum sinis menanggapinya. Ia mendekatkan wajahnya seraya berbisik pada gadisnya. "Gue gak suka! Apa yang menjadi milik gue, disentuh orang lain." Ucapnya.


"Cih! Tolong diralat! Gue bukan milik siapapun." Tegas Jingga.


Shaka tertawa kecil mendengar kalimat gadisnya. "Oh ya?" Tanya Shaka memastikan. Ia berdiri disebelah sang gadis, lalu merangkul bahunya. "Kalian!" Teriaknya pada semua teman-teman yang berada dikelas Jingga.


"Attention please!" Mendengar salah satu most wanted sekolah yang ingin berbicara, tentu membuat mereka dengan sigap berhenti dari aktifitasnya. Mendadak kelas yang ramai menjadi hening, karena peringatan dari sang idola sekolah itu.


Shaka menarik bahu Jingga untuk masuk kedalam kelas dengan tak melepas rangkulannya. Semua orang menatap tak percaya, seraya menutup mulutnya melihat itu. Terutama kaum hawa, merekalah yang paling shok melihat itu.


"Kalian disini akan menjadi saksi atas apa yang ingin gue ucapin." Tuturnya menjeda kalimatnya terlebih dahulu.


"Gue Arshaka Ravindra Pratama, mengumumkan mulai hari ini Jingga Aurilia, resmi jadi cewek gue!" Tuturnya lantang.


Semua membelakak mendengar itu. Sepertinya akan ada acara patah hati berjamaah disekolah mereka. Mendengar idol mereka melepas masa jomblonya. Begitupun Jingga Ia mendongak dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya.


Shaka tersenyum seraya menatap gadisnya, hingga manik keduanya terkunci. "Milik gue!" Lanjutnya.


Semua masih tampak shok, namun ada juga yang mulai berbisik-bisik menanggapi hal itu. Hingga Sena dan Abi masuk kedalam kelas, dan membuyarkan tatapan sepasang manusia dengan cecaran pertanyaan yang dilontarkannya.


"Ada apa ini?" Tanyanya heran, melihat begitu ramenya kelas mereka. Bukan hanya penghuni kelas mereka saja, tetangga kelas pun ikut mengerumuni mereka.


"Aka? Jinjin? Kalian?" Sena tak meneruskan ucapannya. Ia masih belum ngeuh dengan apa yang tetjadi. Bahkan Ia baru menyadari tangan yang bertengger dibahu sahabatnya.


Jinjin hendak melepaskan rangkulan pria disampingnya. Namun Shaka semakin mempereratnya.


"Kalian pacaran?" Tanya Sena, namun tak ada jawaban dari mereka. Hingga senyuman sang kakak membuat Ia membolakan mata seraya menutup mulutnya.


"Hah? Serius?" Tanyanya lagi. Namun masih tak ada jawaban.


"Aaaaaa!!" Pekiknya menggema diruangan itu. Hingga semua orang menutup telinga mereka.


Sena menubrukan diri pada sahabatnya itu, membuat Shaka terdorong dan terjengkang kebelakang. Hingga Ia terduduk diatas kursi yang entah siapa yang menyimpannya didepan sana. Sena dengan hebohnya memberi selamat pada sahabat yang bakal jadi calon kakak iparnya itu. Ia bahkan melupakan wajah sang kakak yang sudah menekuk dengan tatapan tajam mengarah padanya.

__ADS_1


Jingga menghembuskan nafasnya panjang. Akan sulit untuknya mengelak, namun Ia juga tak bisa membenarkannya. Melihat sikon tak memungkinkan akhirnya Ia pun pasrah. Ia hanya mengusap pundak sahabatnya itu seraya merutuki pemuda yang kini berdiri disampingnya.


Sorak sorai mulai terdengar dari para murid cowok. Murid cewek pun mulai histeris dan menangis berjamaah. Suara semakin riuh terdengar disana, hingga suara gedoran pintu membuat mereka seketika bungkam.


Brakk!! Brakk!! Brakk!!


Hening.


Tak ada yang berani mengeluarkan satu katapun dari mereka, melihat tatapan tajam dari guru BK yang terkenal garang itu. Pria jangkung dengan fostur tubuh tegap dan wajah datar membuat siapa saja segan padanya. Bahkan hawa mendadak terasa begitu dingin kala tatapannya memindai seluruh muridnya.


"Bubar!" Satu kata penuh penekanan, dan mampu membuat semua murid kocar kacir kembali ke habitatnya masing-masing.


Namun tidak dengan Shaka. Ia malah akan ikut duduk bersama gadis yang Ia klam ceweknya itu. Langkahnya berhenti kala pria berkacamata itu memanggilnya.


"Shaka!"


Si empunya nama memejamkan matanya kala suara itu menggema ke seisi kelas. Lalu membalikan badannya.


"Kembali ke kelasmu!" Titahnya.


Shaka menghembuskan nafasnya panjang dan berlenggang meninggalkan kelas sang kekasih dan juga adiknya. Pak Agus, sang guru BK pun ikut berlenggang keluar meninggalkan tempat itu.


Akhirnya para murid pun dapat bernafas lega. Begitu pun kedua gadis itu, Sena hendak kembali membicarakan topik yang sama. Namun bel masuk terdengar nyaring membuat Ia mengurungkan niatnya.


**


Kini kedua sahabat itu belum keluar dari kelas, meski jam istirahat sudah tedengar dari beberapa menit yang lalu. Namun Sena masih menahan sahabatnya itu untuk meminta penjelasan. Sampai ajakan Abi pun tak Ia hiraukan.


"Nggak!" Balas Jingga dengan malas.


"Lah terus?" Tanyanya penasaran.


"Ceritanya panjang." Balasnya lagi.


"Ya lu pendekin lah. Jangan panjang-panjang!" Balas Sena lagi.


"Kalo bisa gue hapus sekalian." Balas Jingga membuat Sena tertawa.


"Ya lagian sii. Maksud gue tuh intinya aja gitu." Protes Sena.


"Jadi intinya, Aka lu tu gak waras." Ledek Jingga.

__ADS_1


"Jangan gitu dong lu sama aka gue!" Ucap Sena dramatis. "Aka gue emang gak waras, dari dulu malah!" Celetuknya dan sukses dapat toyoran dari sahabatnya.


"Adek lucknut emang lu." Ledeknya membuat Sena tergelak.


"Tapi itu bener. Jangankan sama kita, tu orang ngeselinnya minta di ruqiyah. Sama Mama aja, tiap hari dia bikin Mama jariyah mulu." Tutur Sena membuat Jingga ikut tertawa.


"Jariyah paan?"


"Jariyah kata. Ceramah mulu tuh si Mama. Gara-gara tuh orang." Balas Sena tergelak.


Hingga tawanya terhenti kala atensinya melihat seseorang yang baru Ia sadari keberadaannya. Bibirnya melengkung menampilkan deretan gigi putihnya.


"Seneng ya, ghibahin aka?" Tanya seseorang yang tengah menjadi topik pembahasan keduanya dengan tangan yang dilipat didadanya.


"Aka!" Sapanya dengan senyum kikuk.


"Coba ulangin lagi, ngomongin apaan?" Titahnya.


"Apaan sih. Enggak! Ya kan Jin."Elaknya meminta pembelaan pada sahabatnya, yang sayangnya hanya dijawab gedikan bahu olehnya.


"Idihh gak ngaku. Aka denger oneng." Balasnya.


"Tapi kan aku gak ghibah. Itu fakta kok." Elaknya lagi.


"Ya sama aja kamu ngomongin aka." Balasnya tak mau kalah.


"Terus apa salahnya aku ngomongin aka? Emang kenyataanya kan, aka suka sekali bikin Mama naik darah. Bikin kesel orang. Bikin-" Ucapannya terhenti kala sang kakak sudah siap menyerangnya. Hingga dengan sigap Ia bangkit dari duduknya dan ngibrit lari, kala sang kakak mengejarnya.


"Woy! Sini gak? Dasar adek durjana." Teriaknya diambang pintu kala sena ngibrit lari menjauh.


**


Sena lari pontang panting, kala sang kakak meneriakinya. Hingga tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang dibelokan.


Brukkk!!!


Tubuhnya melayang, kejengkang kebelakang. Ia pun sudah pasrah, pastilah tubuhnya ambruk diatas lantai. Karena Ia sudah tak bisa menyeimbangkan bobot tubuhnya.


Namun tanpa Ia duga, tubuhnya tertangkap seseorang dari belakangnya dengan kepala bersemayam didadanya. Ia mendongakan wajahnya melihat siapa yang menyelamatkannya, hingga Ia dapat melihat jelas siapa orang yang kini menahan tubuhnya. 'Sentuhan ini, sungguh menggetarkan hatiku.' Batinnya.


****************

__ADS_1


Maafin mak othor yaa, baru up! Lagi musim hajatan, mak nya jadi buibu dapur dulu🤣🤣


si om juga masih belom kelar, ntar maleman deh yaa😁 Jangan lupa jejaknya yaašŸ¤—


__ADS_2