
Sena benar-benar pulang bersama Abi dengan menunggangi kuda besi milik sepupunya itu. Sena yang tiba-tiba merasa kaku karena sudah lama tak berinteraksi dengan sepupunya itu tak berani memeluk perutnya seperti Ia memeluk sang kakak.
"Pegangan ntar lu jatuh!" Titah Abi, namun Sena hanya memegang ujung kemeja seragamnya saja.
Abi menyeringai dibalik helmnya. Ia sedikit menancap gasnya, menaikan kecepatannya hingga motor melaju sedikit cepat. Membuat Sena dengan reflek memeluk perutnya dan sukses membuat Ia tersenyum lebar.
Deg
Tiba-tiba gelenyar aneh mendera keduanya. Sentuhan dada Sena pada punggung Abi membuat jantung keduanya berdegup begitu cepat, hingga keduanya hening tak mengeluarkan kata.
"Ehemmm!" Sena berdehem untuk menetralkan degup jantungnya. "Jangan ngebut-ngebut, gue masih pengen hidup!" Titahnya berteriak membuat Abi sedikit terlonjak dan detik kemudian menyunggingkan senyumnya.
Abi pun menurut menurunkan kecepatannya. Hingga motor berhenti diparkiran sebuah taman. Keduanya turun dan memilih sebuah bangku yang mampu memuat dua orang untuk keduanya duduki.
**
"Apa lu bahagia disana?" Tanya Sena setelah beberapa saat keduanya hening.
Abi tersenyum kecut. Bahagia? Apa yang membuatnya bahagia jauh dari orang-orang tersayangnya termasuk gadis disampingnya itu. "Gue kira iya." Jawabnya.
"Terus?" Sena sampai menoleh ingin mendengar jawaban sepupunya itu.
"Jauh dari cewek berisik kek lu, bikin hidup gue sepi." Tuturnya ikut menoleh hingga mata keduanya bertemu.
Deg
Lagi-lagi perasaan aneh menghinggapi keduanya membuat Sena segera memutuskan pandangannya dan menunduk. 'Kenapa gue? Apa karena kita baru bertemu lagi ya?' Batin Sena.
"Lu sendiri?" Tanya Abi menoleh.
"Emm.. Ya kek gini biasa aja." Jawabnya.
"Setelah gue pergi?" Tanya Abi lagi membuat Sena kembali menoleh dan menyunggingkan senyumnya.
"Menurut lu?" Tanya balik Sena dan dijawab gedikan bahu olehnya.
"Kepergian lu yang secara tiba-tiba, menurut lu gue gak papa?" Tanya Sena lagi.
"Apa seperti yang dikatakan Shaka?" Tanya Abi balik.
Sena tersenyum. "Iya! Gue kehilangan lu." Ucapnya membuat Abi menyunggingkan senyuman tipisnya.
__ADS_1
"Lu bayangin aja! Tiap hari kita bertemu, berantem, semeja berdua, kita tu udah ke upin dan ipin, kek sopo dan jarwo, kek Adudu dan probe, apalagi ya?" Sena sedikit berpikir membuat Abi tertawa.
Sena menoleh mendengar tawa renyah pemuda disampingnya, untuk pertama kalinya Ia melihat tawa yang keluar dari bibir itu. Hingga membuat Ia terpaku. 'Abi? Ketawa?' Batinnya.
Bertahun-tahun mereka tumbuh bersama, jarang sekali Ia melihat lengkung senyum dari sepupunya itu. Dan ini ketawa? Sepertinya itu akan jadi sejarah untuk mereka.
Abi meghentikan tawanya kala melihat gadis disampingnya yang terdiam mematung membuat Ia tersenyum simpul. Ia dekatkan wajahnya pada wajah sang gadis dan meniupnya.
Fiuhhh~
Seketika Sena terkesiap, namun Ia dibuat kembali terpaku kala jarak wajah keduanya begitu dekat dengan mata keduanya yang kembali terkunci. Lama keduanya saling menatap, hingga atensi Sena buyar kala air mengenai hidungnya dan mebuatnya mendongak dan menadahkan tangannya.
"Hujan!"
Abi bangun dan menarik tangan Sena menyeretnya berlari untuk berteduh. Namun sayangnya hujan sudah turun terlebih dahulu, namun mereka tetap berlari dibawah gemericik hujan. Untuk pertama kalinya setelah lama mereka baru merasakan lagi hujan-hujanan bersama.
Senyum terukir dari wajah keduanya, bahkan Sena menghentikan langkahnya membuat Abi juga ikut berhenti. "Stop bi!"
"Kenapa?"
Sena merentangkan tangannya, membiarkan air turun membasahi wajahnya. Dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Senyum yang mampu melelehkan hati para kaum adam, tak terkecuali Abi. Ia menyunggingkan senyuman termanisnya. Senyum yang tak pernah orang lain tau itu.
"Biarin kek gini! Sudah lama kita menghindarinya. Biarin kali ini dia menyapa kita." Tuturnya dengan memejamkan matanya.
Dan hanya saat bersama Abi saja Ia tak pernah mau berteduh. Entah kenapa, baginya hujan-hujanan berdua seperti ini, memiliki kesenangan tersendiri. Walaupun pada akhirnya Ia akan berujung demam, namun momen seperti ini yang Ia rindukan dari sepupunya itu. Karena hanya disaat hujan seperti inilah, Ia akan menemukan senyum dari bibir manisnya itu.
Sena membuka matanya menengok kearah samping, melihat cowok tampan itu yang tengah melakukan hal yang sama dengannya tadi. Dan akhirnya Ia bisa melihat kembali lengkungan dibibir manis itu. Senyum yang sangat Ia rindukan.
Abi pun membuka matanya, menengok kesamping dan mendapati sang gadis tengah menatapnya dengan senyum yang selalu menggetarkan hatinya.
"Jangan pergi lagi ya! Sudah cukup rindu gue buat lu."
"Gue gak akan pergi. Dan pastikan rindu lu hanya buat gue!"
Sena tersenyum lebar dengan penuturan sepupunya itu. Entah kenapa perasannya tiba-tiba menghangat. Begitu pun Abi, ternyata bukan Ia sendiri yang merasakan hal itu. Keduanya merasakan hal yang sama.
"Hacccihhh!!!"
Sena mengusap hidungnya yang tiba-tiba memerah membuat Abi menghembuskan nafasnya panjang. Sebenarnya ini yang Ia takutkan, membuat gadis cantik disampingnya kena flu dadakan. Namun Ia juga tak bisa menolak hal yang membuat Ia sendiri bahagia bisa berdua dibawah guyuran hujan seperti ini.
"Yuk pulang!" Ajak Abi mengulurkan tangannya dan segera disambut Sena. Keduanya berlari mendekati parkiran dengan tangan yang saling bertautan. Bayangin aja di slow motion gitu biar lebih dramatis!
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada diparkiran. Abi mengeluarkan jaket dari dalam tasnya dan memberikannya pada Sena. "Nih! Pake!" Titahnya.
"Buat gue? Terus lu gimana?" Tanya Sena tanpa mau menerimanya.
"Gak papa. Pake aja!" Titahnya lagi.
"Tapi-" Belum selesai juga ucapannya, Abi memakikannya pada pundak Sena. Hingga lagi-lagi mata keduanya bertemu.
Keduanya kembali saling menatap, merasakan degup jantung yang tiba-tiba kembali tak beraturan. 'Jantung gue?' Batin keduanya.
Sena memutus tatapannya dengan berdehem keras. "Ehemm! Udah ayo! Gue udah dingin nih." Ajaknya.
Setelah memakai helmnya terlebih dahulu, motorpun melesat meninggalkan parkiran. Seperti tadi Sena hanya memegang sisi kemejanya Abi.
"Pegangan yang bener, ntar lu jatoh!" Titah Abi.
"Gak ah, enakan di lu." Timpal Sena.
"Kenapa?"
"Punggung lu ke enakan ditempelin si kembar." Timpal Sena membuat Abi berdecak.
"Ck! Kek kerasa aja. Kecil gitu juga."
"Eh! Ngomong apa lu? Enak aja! Besar gini juga dibilang kecil." Sewot Sena tak terima.
Ia memeluk perut Abi erat dan sengaja menempelkan dadanya dan sukses membuat Abi membolakan matanya kala merasakan si kembar yang merapat dengan punggungnya. Karena memang Ia menggendong tasnya didepan, sengaja agar gadis diboncengannya leluasa. Namun kenyataan Ia harus merasakan sesuatu yang belum harus Ia rasakan sampai harus susah payah menelan salivanya kuat-kuat.
"Gimana? Gimana? Lu masih gak percaya?" Tanya Sena.
"Iya gue percaya!"
"Ngeselin." Sena mengendurkan pelukannya hingga tangannya akan kembali memegang ujung kemejanya.
Namun tanpa diduga tangannya segera ditarik Abi. Hingga tangannya kembali memeluk tubuh tegap didepannya itu. "Jangan dilepas! Biarin kek gini!"
************************
Jangan lupa like dan komennya yaaš Yang mau ngasih vote sama hadiahnya juga bolehš¤
__ADS_1
Biar ngehalunya tambah euuurggghhš¤£š¤£š¤£