
Setelah kepulangan bang Ar, Ayra masuk ke dalam rumah dan langsung buru-buru memasuki kamarnya takut-takut sang Mamih menginterogsinya.
"Ini beneran gak sii? Atau cuma mimpi?" Ayra terus menepuk-nepuk pipinya.
Rasanya masih tak percaya, kalo Ia bisa dekat dengan bang Ar.
Bertahun-tahun Ia bertahan dengan rasa yang sama. Apakah ini jawaban dari setiap mimpinya? Mimpi yang slalu membuat Ia kuat dan tak tergoyahkan.
"Bang Ar...!!!" Ia menjerit kegirangan dengan menutup wajahnya dengan bantal.
Ia terus mengingat setiap kata dan perlakuan manis sang pujaan. Rasanya begitu membahagiakan.
Ayra terus berguling sana, berguling sini. Sungguh Ia tidak akan bisa tidur.
Tiba-tiba Ia teringat apakah pujaannya itu sudah sampai rumah atau belum?
"Chat gak ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia terus menimang-nimang Hpnya. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk mengechatnya
Me📤
Bang!
Udah nyampe kah?
**
Pesan sudah centak dua, tapi belum terbaca. 'Apa belum nyampe ya?' batinnya.
tring
Terdengar pesan masuk. Buru-buru Ia buka, dan senyumnya kembalii mengembang.
Bang Ar❤📤
Udah. Kamu belum tidur?
Me📤
Belom. Nunggu kabar abang dulu😁
Bang Ar❤📤
kenapa?
Me📤
Takut abangnya nyasar😂
Bang Ar❤📤
Kalo nyasarnya kehati kamu gimana?
__ADS_1
Me📤
Idiihhh gombal😂😂
Bang Ar❤📤
Tidur gih. Dah malam
Me📤
Iya. Abang juga tidur ya!
Bang Ar❤📤
Iya. Good night😊
Me📤
Night😊
**
Ahh sungguh malam ini Ayra tidak akan pernah bisa tidur. Digombalin seperti itu membuatnya melayang-layang. Sepertinya Ia akan begadang sampe pagi.
*
Ditempat yang berbeda bang Ar pun terus menyunggingkan senyumannya. Putus cintanya kemarin tidak membuatnya patah. Justru Ia terasa bebas, bebas dari beban yang selalu menghimpitnya.
Berbulan-bulan Ia terus menguatkan hatinya. Selalu berusaha membuat semuanya baik-baik saja.
Bang Ar merebahkan diri dan memejamkan matanya. Seketika wajah Ayra memenuhi pikirannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa Dia selalu ada dalam pikiranku? Dan ini..." Ia memegangi dadanya.
"Jantungku!" Gemuruh didadanya tak menentu seiring bayangan wajah seorang gadis dengan senyumnya yang begitu manis.
Bang Ar terus tersenyum dengan memejamkan matanya menikmati detak jantungnya kala bayang gadis seakan menari didalam otaknya.
Keduanya malam ini entah tidur jam berapa. Yang jelas benih-benih cinta yang mereka tanam sepertinya sudah tumbuh.
***********
Keesokan harinya, Ayra bangun dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
Ia bergegas keluar kamar dan hendak membersihkan diri.
Namun ketika Ia ingin melewati meja makan Ia dibuat terkejut, kala seseorang yang semalam tak bisa membuatnya tidur tengah duduk santai dimeja makan.
"Bang Ar!" Panggilnya kaget.
Bang Ar menoleh dan membalasnya dengan senyum.
__ADS_1
"Hai..Ay! Selamat pagi!" sapanya.
"Bang Ar, kok udah disini? Kan masih pagi?" tanyanya masih merasa shok.
"Pagi apanya? Tuh liat jam!" Bukan bang Ar yang menjawab, melainkan sang Papih.
Ayra membalikkan diri, betapa terkejutnya dia waktu sudah menunjukkam jam 9.
"Astagfirulloh. Udah siang!" tanpa basa basi lagi Ayra ngacir masuk ke kamar mandi.
Bang Ar dan kedua orangtuanya pun tergelak dan geleng-geleng kepala melihat tingakahnya.
Pagi ini bang Ar seperti biasa, bangun sebelum matahari terbit, jogging sebentar, dan sarapan.
Bukan hanya bang Ar saja yang akan pergi mengecek ke perkebunan, bahkan kedua orang tuanya juga akan pergi. Namun bang Ar meminta izin berangkat agak siang karna akan menjemput dulu temannya.
Dan disinilah dia sekarang bersama Papih Alan. Di meja makan dengan secangkir kopi buatan Mamih Asti.
"Sebenarnya kalian mau pergi kemana?" tanya Papih Alan.
"Aku mau ajak Ayra ke perkebunan teh di pinggir kota Om. Ayah menyuruhku mengecek perkebunan disana. Apa boleh Om?" Izin bang Ar pada Papih Alan.
"Boleh. Asal pulang masih tetep cantik." Goda Papih Alan.
Bang Ar hanya tersenyum menanggapinya. Mereka memang cukup akrab. Biar cuma beberapa kali mereka bertemu. Tapi dengan sifat bang Ar yang friendly denga siapapun, membuat siapa saja akan suka dengannya.
"Ayo Ar sarapan dulu. Sekalian sama Ayra. Tante sama Om sudah sarapan terlebih dahulu!" Ajak Mamih Asti
"Gak usah tante. Aku udah sarapan dulu dirumah." tolaknya halus.
"Ohh. Ya udah, nih pudding aja!" Mamih menyuguhkan pudding buatannya.
"Maaf ya Ar! Kamu jadi nunggu lama. Ayra gitu susah banget kalo dibangunin, apalagi dihari minggu gini. Suka males!" ucap Mamih.
"Iya gak papa tante. Kita juga janjiannya siang kok, cuma karna aku gak ada lagi kegiatan, ya aku langsung kesini. Biar bisa ngobrol-ngobrol dulu sama Om dan tante." balasnya panjang lebar.
Papih dan Mamih tersenyum mendengar penuturan pemuda dihadapannya. Obrolan terus berlanjut, yang lebih mendominasi hanya Ayah dan bang Ar, karna memang mereka membahas tentang pekerjaan.
Ayra sudah rapi, sudah siap untuk pergi. Namun sang Mamih menyarankan untuknya sarapan dulu. Ia pun menurut dan segera memakannya.
Setelah berpamitan merekapun bersiap menaiki motornya. Kali ini bang Ar sudah menyiapkan helm baru untuk gadis yang jadi penumpangnya.
"Nih pake helmnya!" Bang Ar menyerahkan helm ke tangan Ayra.
"Kek baru bang?" Tanyanya heran.
"Iya. itu baru. Sengaja abang beli buat kamu." balasnya.
Blush
Bolehkah dirinya menjerit? Ayra menundukkan wajahnya menyembunyikan rona pipi yang begitu kontras dengan kulitnya.
__ADS_1
Kadang hanya hal kecil seperti ini saja sudah membuatnya terbang melayang. 'Tuhan izinkan aku memikikinya!' Batinnya.
*************