Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 96


__ADS_3

Seminggu sudah seseorang yang begitu berharga meninggalkan mereka. Duka masih begitu mendalam mereka rasakan. Nyatanya semakin hari bukan lupa, namun semakin terasa. Mereka terus mencoba saling menguatkan satu sama lain.


Tepat hari ini juga pernikahan Juna dan Agel. Ayra dan bang Ar tengah bersiap untuk menyaksikan acara pentingnya sang sahabat. Yang biasanya mereka akan berkumpul dari sehari sebelumnya, kali ini Ayra tak ikut serta disana.


"Untuk hari ini tunjukanlah kebahagiaanmu untuk sahabatmu!" Ucap bang Ar memeluk tubuh sang istri dari belakang yang tengah berdiri didepan meja rias.


Ayra tersenyum, tak dapat dipungkiri hatinya masih begitu sakit mengingat sang kakak. Namun apa yang dikatakan suaminya itu benar, Ia harus terlihat bahagia didepan sahabatnya.


"Iya bang!" Ayra membalikkan badannya hingga pelukannya terurai. "Aku akan coba!" Ia peluk erat tubuh sang suami melepaskan sesak dihatinya.


Bang Ar mendekapnya tak kalah erat. Mengusap surai hitam nan bergelombang sang istri dengan sayang. "Kamu pasti bisa!"


Setelah cukup lama bang Ar melerai pelukannya, Ia hapus sisa jejak basah dipipi chuby istrinya. " Udah jangan nangis lagi ya, makeup nya luntur tuh!" Kekehnya.


"Isshh abang!" Bang Ar tersenyum dan mencubit gemas pipi chubynya.


"Udah kamu rapiin dulu, kita harus cepat berangkat, takut telat!" Tutur bang Ar mengusap pipi yang memerah itu.


Ayra kembali merapihkan riasan wajahnya dan rambutnya. Setelah selesai keduanya pun segera berangkat.


**


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi keduanya terparkir rapi di sebuah lapangan dekat rumah mempelai wanita yang telah disediakan panitia disana. Ternyata tamu sudah berdatangan, namun mempelai pria dan rombongannya belum hadir disana.


Keduanya memasuki halaman rumah Agel yang telah disulap dengan berbagai hiasan bunga dan pelaminan. Ayra menggandeng lengan suaminya. Keduanya tampak begitu serasi. Ayra menggunakan gaun bridesmaid yang sama dengan kedua sahabatnya, gaun duyung berwarna gold dengan aksen mutiara di area dadanya dengan bahu terbuka, begitu sexy ditubuh Ayra yang semakin berisi dan sedikit membuncit. Rambutnya disanggul rapi dengan riasan natural ala dirinya sendiri. Namun aura kecantikannya begitu terpancar dari si Ibu hamil ini. Bang Ar sendiri memakai setelan tuxedo senada dengan sang istri, dengan gayanya yang begitu mempesona memancarkan aura hot dady nya.


Semua mata tertuju pada pasangan itu. Begitu serasi, itu semua pemikiran mereka. Keduanya langsung menghampiri kedua orang tua Agel, memberi salam dan ucapan. Kemudian bang Ar bergabung dengan Devan dan Rio, sedangkan Ayra memasuki kamar sang mempelai wanita.


Ceklek


Pintu dibuka dan nampaklah kedua sahabatnya yang telah memakai gaun yang sama dengannya dengan riasan make over tentunya. "Haii girls!" Sapa Ayra dengan senyumnya.


"Aaa Ay!!" Jerit keduanya dan langsung berhambur memeluknya.

__ADS_1


"Akhirnya lu dateng!" Ucap Feby. Senyum terus terukir dari ketiganya.


"Kita seneng banget lu datang Ay!" Timpal Rila. Mereka memang tak berharap banyak akan kehadiran sahabatnya yang satu ini, tau kalau dirinya masih berkabung.


"Iya. Mana mungkin juga gue gak dateng. Ini hari spesialnya Agel. Gue pasti hadir dan akan duduk paling depan." Tuturnya.


Ketiganya melerai pelukan mereka. Dan beralih menghampiri ratunya hari ini yang baru selesai dirias. "Agel!" Ayra berhambur memeluk sahabatnya ini.


"Gak usah nangis. Katanya lu mau bahagia buat gue!" Ucap Agel yang tau sahabatnya pasti tengah menyembunyikan air matanya dibahunya.


Ayra melerai pelukannya dan megambil tissue dimeja rias. "Ah lu mah gak asyik. Selalu tau aja tentang gue!" Tuturnya mengusap air yang lolos begitu saja dari matanya.


Ketiga sahabatnya terkekeh. Namun mereka ikut bahagia ini menandakan Ayra mereka telah kembali. Karena terakhir mereka melihat sahabatnya itu begitu berantakan, bahkan tak mengeluarkan kata-katanya sama sekali.


"Kalo lu mau mewek, gak usah dateng kesini. Disini tu dikhususkan untuk orang tersenyum dan bahagia!" Sindir si mempelai wanita masih dengan kekehannya.


"Iya! Iya. Gue bahagia beb, bahagia banget! Bahkan gue tersenyum nih!" Ayra dengan sengaja memamerkan deretan giginya membuat mereka tertawa.


"Senyum dua jari Ay!" Feby menempelkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk V, disisi bibir Ayra, dan sisambut senyum lebar oleh Ayra membuat mereka juga tersenyum.


Agel merentangkan tangannya dan disambut ketiganya. Senyum dan tawa terukir dari keempatnya. Hingga suara ketukan dari pintu membuyarkan mereka.


"Mempelai prianya sudah datang. Ayo giliran mempelai wanita harus turun!" Ajak seorang wanita paruh baya.


Sebelum keluar keempatnya kembali merapihkan diri, setelah tadi melakukan drama membuat riasannya sedikit berantakan.


Mereka pun keluar, dengan pengantin diapit oleh kedua bumil dan Feby menuntun gaun dibelakangnya. Mereka berjalan keluar menuju halaman, dimana acara sakral akan dilaksanakan.


Semua mata tertuju pada si pemeran utama, namun yang lebih disorot disana adalah kedua bumil yang mengapitnya terlihat begitu menggemaskan, apalagi Rila yang perutnya sudah membulat. Tinggal menunggu tiga minggu lagi, baby nya akan launching. Berbeda dengan Ayra yang baru akan memasuki lima bulan jadi belum terlalu membuncit.


Mempelai wanita sudah didudukan disisi mempelai pria. Kebahagian begitu terpancar dari wajah keduanya. Keduanya memakai baju pengantin adat sunda, begitu cantik dan tampan. Pasangan yang terlihat begitu kalem dan serasi ini tak seperti pasangan yang lainnya. Mereka sama sekali tak menunjukkan sisi absurd nya. Bahkan Juna terlihat begitu tenang, tak ada kegugupan sama sekali darinya.


Serangkaian doa dan lantunan ayat suci mengawali acra sakral itu. Permintaan izin pada wali dan syahadat pun sudah dilaksanakan. Tidak lupa juga wejangan-wejangan dari pak penghulu untuk kedua calon mempelai.

__ADS_1


"Bagaimana kita mulai acara intinya?" Tanya pak penghulu dan diiyakan oleh semua orang disana.


"Bagaimana nak Juna apa anda sudah siap?" Tanya pak penghulu.


"InsyaAlloh saya siap!" Jawabnya dengan tenang.


Pak penghulu menyerahkannya kepada Papa Agel sebagai wali nikahnya. Setelah melakukan dulu percobaan, acara sakral pun dimulai.


"Bismillahirrahmanirrahim Saudara Juna Prasatya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya bernama Agelia Ayunda binti Azam Kurniawan, dengan mas kawin uang tunai sebesar tujuh puluh dua juta dua puluh dua ribu rupiah, satu set perhiasan emas, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Agelia Ayunda binti Azam Kurniawan dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillah!"


Dengam seki tarikan nafas Juna mengucapkan ijab dengan begitu lantang dan tenang. Doa terlantun setelah acara ijab kabul selesai dan dinyatakan sah para saksi.


Ayra kembali mendekati sang suami dan bergelayut manja dilengannya, kala beberapa wanita dengan genit mendekatinya.


"Bang! Haus." Ucapnya manja membuat bang Ar tersenyum.


"Mau abang ambilin atau ikut?" Tanya bang Ar.


"Ikut. Takut juga disini." Timpalnya.


"Takut apa?" Tanya bang Ar.


"Takut banyak hama!" Balas Ayra seraya sedikit menyeret lengan suaminya dan berlenggang pergi.


*****************

__ADS_1


Mari gaissss ramaikan lagi! Kasih like dan komennya! Yang belom kasih vote ditunggu yaa🤭


__ADS_2